SLEMAN, BERNAS.ID – Artificial Intelligence (AI) merupakan teknologi komputer yang diciptakan dengan kemampuan untuk mempelajari aktifitas atau kebiasaan manusia. Bisa jadi AI lebih mengerti diri kita daripada orang tua, keluarga, pasangan atau teman.
AI bisa menjadi sebuah ancaman atau bisa juga menjadi kesempatan. Yang jelas, ke depan AI akan makin banyak digunakan untuk mengambil keputusan, bukan berdasarkan pemikiran manusia.
Hal tersebut dipaparkan Agus Sudjianto (Djiedjie) Ph.D, seorang lulusan MIT yang sekarang menjabat sebagai Executive VP Wells Fargo Bank di Amerika Serikat. Ia menyampaikannya saat menjadi pembicara dalam seminar “Artificial Intelligence : Ancaman dan Kesempatan” yang digelar di SMA Kolese de Britto, Selasa (27/8/2019).
“Dalam sepuluh tahun mendatang, aplikasinya (AI) akan makin besar sekali,” ujarnya.
Djiedjie yang merupakan alumni de Britto tahun 1983 menerangkan, dengan berkembangnya IA, banyak bidang pekerjaan yang terancam. Manusia akan perlahan digantikan mesin.
“Banyak pofesi akan hilang karena berkembangnya Artificial Intellegence. Dokter, radiolog, tugasnya membaca X-ray. Artificial Intellegence lebih akurat dalam membaca,” ujarnya.
Karena itu, untuk bisa menghadapi berkembangnya AI, yang utama, manusia harus mengembangkan kreativitas. Sistem pendidikan masa kini jangan terpaku lagi pada sistem pendidikan kolonial yang hanya bertujuan mencetak pegawai kantoran, namun harus bisa mencetak manusia-manusia yang kreatif.
“Itu [kreativitas] yang bisa lebih dilakukan manusia dibanding IA,” ujarnya.
Selain itu yang kedua yang harus dikembangkan manusia adalah communication skill. Latihan komunikasi dengan banyak orang harus terus dilakukan oleh mereka yang ingin bersaing di era modern.
“Pinter harus, tetapi juga harus bisa berkomunikasi, harus bisa ngomong,” ujarnya.
Yang ketiga yang perlu dimiliki manusia adalah confidence, atau percaya diri. Tak lupa, menurutnya manusia modern harus bisa menguasai teknologi.
“Belajarlah coding. Apapun bidang anda,” ujarnya.
Djiedjie menjelaskan, tanpa disadari, tiap hari orang-orang memanfaatkan teknogi IA. Misalnya memakai fasilitas photo tagging di media sosial Facebook. Contoh lain adalah pemakaian fasilitas google translate.
“Sekarang yang berkuasa adalah data. Company yang bisa mengumpulkan paling banyak data adalah company paling besar sedunia,” ujar pria yang kadang juga disebut sebagai Paijo ini.
Ia menyayangkan, Indonesia belum berpikir bahwa data adalah aset strategis. Padahal menurutnya sekarang data lebih berharga dari minyak.
“Makanya Grab ngumpulin data dikasi-kasi aja. Padahal kalau minyak tidak. Itu salah, karena sekarang yang strategic adalah data,” ujarnya. (den)
