BERNAS.ID – Rabu, 11 September 2019, Baharudin Jusuf Habibie wafat dalam usia 83 tahun. Tokoh kelahiran Parepare, 25 Juni 1936 itu mengembuskan napas terakhir setelah dirawat selama sepuluh hari di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. Habibie tidak hanya dikenal sebagai presiden ketiga Republik Indonesia. Ia juga dikenal sebagai ilmuwan yang memiliki reputasi nasional dan internasional. Di dalam negeri, Habibie dikenal sebagai bapak teknologi peletak fondasi industri kedirgantaraan. Sementara itu, di luar negeri, ia dikenal sebagai Mr. Crack, penemu Progression crack theory yang berguna untuk mengantisipasi keretakan pada pesawat dan meningkatkan faktor keselamatan penerbangan. Namun, siapa sangka pertemuan Habibie dengan dunia kedirgantaraan bermula dari sebuah ketidaksengajaan.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
Makmur Makka dalam buku True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan menggambarkan Habibie sebagai sosok yang mencintai ilmu pengetahuan. Hal itu, menurut Makka, tidak bisa dilepaskan dari didikan orang tuanya. Kedua orang tua Habibie, yaitu Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo adalah orang terpelajar yang kerap menjadi perhatian banyak orang. “Alwi Abdul Jalil, sebagaimana istrinya adalah orang tua yang selalu menanamkan disiplin pada anak-anaknya. Dengan sikap seperti inilah ia banyak meninggalkan hal positif,” tulis Makka dalam bukunya.
Sejak kecil, Habibie memiliki sikap yang berbeda dari saudara-saudaranya. Ia termasuk anak yang gemar mengerjakan sesuatu. Ketika di rumah, ia juga senang membaca buku apa saja. Menurut kakak tertuanya, Tri Sri Sulaksmi, Habibie telah bercita-cita menjadi insinyur sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak. “Sebagaimana layaknya jika anak-anak baru mengenal sekolah, maka guru atau siapa saja bertanya padanya, ‘Rudy – panggilan Habibie – kalau besar mau jadi apa?’ Jawabnya tegas dan pasti bahwa ia mau jadi seorang insinyur,” kenang Tri, sebagaimana dikutip Makka.
Baca juga: 5 Universitas Jurusan Sistem Informasi Terbaik di Indonesia
Habibie pindah ke Jawa pada 1950, tidak lama setelah ayahnya meninggal. Kepindahannya itu sendiri merupakan keputusan ibunya yang Habibie mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Habibie awalnya bersekolah di Jakarta. Namun, belakangan ia tidak betah dan pindah ke Bandung. Di Bandung. Saat bersekolah di Bandung inilah, prestasi Habibie mulai tampak menonjol, terutama dalam pelajaran eksakta seperti matematika. “Habibie seperti tidak memerlukan usaha yang terlalu keras untuk mendapatkan nilai yang baik. Ia tipe siswa yang tidak senang mempersiapkan diri belajar jauh sebelum ujian. Tetapi, jika ujian diadakan mendadak tanpa pemberitahuan lebih dahulu dari guru, angka Habibie paling tinggi dibandingkan teman-temannya yang lain,” jelas Makka, masih dalam buku True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan.
Prestasi akademik Habibie tetap cemerlang sampai ia lulus SMA dan diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada saat yang bersamaan, keluarga Habibie di Sulawesi juga memutuskan pindah ke Bandung. Mereka menjual rumah lama dan membeli rumah baru di Bandung yang belakangan banyak digunakan sebagai idekos mahasiswa ITB. Saat kuliah di ITB inilah, Habibie mulai tertarik dengan bidang pesawat terbang. Tetapi bidang tersbeut belum benar-benar ia tekuni. Habibie memang mulai gemar membuat model pesawat terbang, tetapi tidak semua ia selesaikan. Selain itu, Habibie juga masuk ke Aeromodeling Club, tetapi kurang begitu aktif mengikuti kegiatannya.
Baca juga: Daftar Universitas Kuliah Jurusan Bisnis Manajemen di Indonesia
Masa belajar Habibie di ITB tidak lama. Ia memutuskan pindah ke Technische Hochschule Aachen, Jerman. Kepindahan Habibie ke Jerman tersebut salah satunya didorong oleh ibunya. “Saya memilih Habibie karena anak itu kelihatan lebih serius dalam hal belajar. Sampai-sampai di balik pintu pun ia bisa membaca buku dengan asyiknya,” kenang Ibu Habibie, Tuti Marini, sebagaimana dikutip Makka.
Saat akan kuliah di Jerman, Habibie seberarnya ingin mengambil jurusan ilmu fisika. Namun, jurusan tersebut ternyata tidak tersedia. Ia kemudian memilih jurusan aeronautika. “Waktu itu, ia ditanya mau memilih jurusan apa, Habibie memilih Ilmu Fisika. Dijawab oleh petugas sambil tersenyum bahwa tidak ada jurusan lain termasuk ilmu aeronautika dan Habibie berpikir sejenak lalu bertanya lagi, ‘mana jurusan tersebut yang paling banyak menggunakan ilmu Fisika?’ Petugas tersebut menjawab bahwa jika melihat kecanggihan pesawatr terbang, maka ilmu aeronautikalah yang paling banyak menggunakan ilmu fisika,” tulis Makka. Jurusan yang awalnya tidak ia pilih itulah yang kemudian ia tekuni. Siapa sangka jurusan tersebut pada kemudian hari mampu mengantarkannya menjadi ilmuwan terkemuka, kemudian menjadi Menteri Riset dan Teknologi selama pada 1978 hingga 1998. Karier yang terakhir inilah yang kemudian mengantarkan Habibie menjadi Wakil Presiden pada 1998 dan Presiden pada 1998 hingga 1999.
Baca juga: 13 Universitas Jurusan Akuntansi Terbaik Indonesia dan Luar Negeri
