JIKA peduli dan mau menyimak ayam jago pemenang, hampir selalu kepalanya berkulit tebal dan bulunya nyaris habis. Itu pertanda akibat terlalu sering melakukan proses menghadapi segala macam tantangan saat diadu. Sering kena patuk lawan, hingga bulunya lepas semua dan kulit menebal. Sekali lagi, itu semua akibat sering melakukan di lapangan medan tempur, bukan karena sering berkokok di dalam kurungan atau sangkarnya. Jika tanda jasanya kulit tebal tak lagi berbulu, pertanda sudah biasa menghindar, menangkis dan mematahkan serangan lawan.
Itulah paragraf pesan dari seorang mentor jiwa kemandirian ala orang dulu di desa saya. Beliau sesepuh agama. Saat itu ditempa mental saat saya masih duduk di bangku SMP. Selalu didorong agar seiring sejalan antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Tidak boleh berhenti pada ruas perkataan saja. Harus final hingga dilakukan agar tidak menyesal dikemudian hari. Saat itu masih dalam proses tirakat agar rajin berpuasa menahan diri. Bukan hanya dipikirkan dan dikatakan rencananya saja. Tapi harus dilaksanakan. Hingga terasa manfaatnya.
Setelah beranjak dewasa, terasa betul manfaatnya petuah tersebut. Hanya dengan menyelaraskan pikiran, perkataan dan perbuatan nyata baru tahu dampak nyatanya. Dalam dunia usahapun terasa betul – betul tepat doktrin tersebut. Proses berkali – kali gagal cepat menangkap peluang lalu peluang emas dikelola pihak lain. Berkali – kali gagal karena salah membuat estimasi kalkulasi logisnya baru sadar betapa pentingnya harus berulang kali menguji diri dalam ketrampilan membuat kalkulasi tersebut. Berkali-kali gagal karena tertipu oleh tanda-tanda alam seakan memaksa harus lebih sering lagi melakukan di lapangan.
Begitu juga proses tertipu relasi (Purel) sebuah usaha, sesungguhnya juga karena belum reflek membaca dan menyimpulkan karakter calon relasinya. Adanya belum reflek akibat langsung karena belum sering melakukan secara nyata lapangan. Masih banyak tahu sebatas ilmu teori yang diwacanakan. Bukan ilmu hikmah yang telah dilakukan. Inilah hal terpenting bagi anak muda pada momentum memperingati “Hari Sumpah Pemuda” kali ini.
Hanya dengan banyak melakukan eksekusi maka kita akan tranpil mengeksekusi yang cepat bijak dan cerdas. Hanya dengan banyak melakukan upaya-upaya inovatif baru dapat reflek hasil inovasi. Banyak temuan legendaris bermanfaat sepanjang jaman dan mengharumkan namanya sepanjang kehidupan karena terlalu sering melakukan kesalahan demi satu tujuan yang benar. Barulah jadi prestasi inovasi didapat.
Selamat Hari Sumpah Pemuda 2019, Selamat Berbuat Nyata…
Salam Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa…
(Wayan Supadno, Praktisi Pertanian)
