SLEMAN, BERNAS.ID – Menjadikan kebaya sebagai pakaian wanita Indonesia tak lagi sekedar pakaian wanita Jawa, merupakan hal yang perlu diperjuangkan. Bahkan, kebaya terbukti mampu menjadi pakaian dengan nuansa universal tanpa meninggalkan budaya.
Hal itu diungkapkan GKRAA SM Angling Kusumo, selaku Dewan Pakar Masyarakat Adat Nusantara (MATRA) sekaligus Penasehat Srikandi Masyarakat Adat Nusantara (SRITA), serta menjabat sebagai Ketua DPW Tiara Kusuma DIY, saat jumpa wartawan 2020 Wanita Berkebaya, Jumat (16/1/2020) di Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta.
Sebagai inisiator acara tersebut, Bunda Angling (sapaan akrabnya-red) melalui tiga organisasi yang digawanginya akan memperjuangkan jangan sampai busana kebaya diakui oleh negara lain.
“Untuk mewujudkan hal itu, sebanyak 2020 orang wanita akan tampil dalam penghitungan pemecahan rekor diacara 2020 Wanita Berkebaya yang akan diselenggarakan pada tanggal 20 Februari 2020 di Sleman City Hall,” kata dia.
Pemecahan rekor akan disahkan oleh Royal World Record yang merupakan suatu lembaga yang mencatat rekor dunia dan berpusat di Inggris, serta bekerjasama dengan beberapa institusi yang juga terafiliasi dengan World Peace Commision yang berada dibawah UN Peace.
“Mereka akan tampil memecahkan rekor dunia melalui 2020 orang wanita berbusana kebaya dengan kain batik nusantara, dan bersama-sama menyerukan perdamaian dunia,” tambahnya.
Sementara itu Ketua Panitia 2020 Wanita Berkebaya, Diah Purnamasari Zuhair menyebutkan selama ini kebaya dikenal sebagai jenis busana yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara, padahal ada banyak jenis kebaya yang tersebar di Indonesia.
“Sejarah mencatat kebaya dan batik menjadi tak terpisahkan sebagai busana yang dikenakan wanita ternama seperti tiga serangkai Kartini, Roekmini, dan Kardinah. Mereka dikenal kerap kali menggunakan kebaya putih dan sarung batik buatan sendiri. Saat ini batik sudah diakui oleh dunia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi oleh UNESCO,” bebernya.
Sehingga melalui Royal World Record 2020 Wanita Berkebaya, lanjut Diah diharapkan dapat meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya pelestarian budaya, khususnya kebaya dan batik agar semakin meningkat.
“Generasi milenial juga diharapkan dapat lebih memahami nilai-nilai moral, etika dan budaya Indonesia. Selain itu juga agar dunia juga mengenal kebaya adalah busana asli wanita Indonesia sebagai bagian dari budaya Indonesia,” pungkasnya. (cdr)
