SLEMAN, BERNAS.ID- 27 warga Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah dinyatakan positif terkena antraks, bahkan salah satunya telah meninggal dunia, Kamis (16/1). Untuk itu, diperlukan kesiapsiagaan yang tinggi dari berbagai pihak agar antraks tidak menyebar luas, meski tidak menular antarmanusia.
Prof Dr drh AETH Wahyuni, MSi dari Departemen Mikrobiologi FKH UGM mengatakan DIY boleh disebut wilayah endemis antraks karena titik lokasi kejadiannya sudah merata di empat kabupaten. “Tahun 2003 pernah terjadi di Pakem Sleman, lalu tahun 2012 terjadi di Bantul, menyusul Kulonprogo dan Gunungkidul. Bisa dikatakan wilayah endemis karena area Jogja tidak terlalu besar dan sudah merata,” katanya saat konferensi pers di UGM, Sabtu 18 Januari 2020.
Prof Yuni pun mengimbau agar penanganan bangkai hewan yang positif terkena antraks dilakukan dengan langkah-langkah yang disarankan. “Penanganan itu penting sekali, lubang minimal 2 meter, disiram dengan minyak, lalu dibakar, kemudian ditutup tanah dengan diberi disinfektan. Kalau perlu diplester untuk tanda pernah terjadi antraks,” bebernya.
“Bahkan, timbunan untuk hewan antraks tersebut tidak boleh digali sampai kapanpun karena spora antraks bisa bertahan puluhan tahun,” imbuhnya.
Ia mengatakan kejadian antraks di dunia dilaporkan sejak tahun 1800, sedangkan untuk di Indonesia tahun 1832. “Penyebaran antraks di Indonesia bukan semakin berkurang, tapi semakin bertambah,” katanya.
” Antraks disebabkan oleh bakteri Bacilus Antraksis yang berbentuk batang dan mempunyai kapsul. Begitu bakteri berhubungan dengan udara akan membentuk spora yang bisa bertahan di tanah sampai puluhan tahun. Nah dengan spora di tanah ini, penyakit antraks bisa mengenai binatang,” tambahnya.
Untuk deteksi, Prof Yuni mengakui kesulitan karena spora di tempat yang luas tidak bisa terdeteksi. “Untuk itu, hukum bagi hewan yang terkena antraks tidak boleh disembelih karena 80 persen spora antraks berada di aliran darah dan limpa,” katanya.
Untuk penanganan spora antraks bisa ditangani dengan penanganan basah atau kering dengan suhu 130 derajat selama 30 menit. “Juga bisa dilakukan dengan karbol. Untuk penanganan terhadap binatang yang belum terinfeksi bisa dilakukan dengan vaksinasi dan terus dimonitor. Vaksinasi dilakukan setiap 6 bulan sekali,” ucapnya.
Untuk binatang yang bisa terkena antraks, Prof Yuni menyebut hewan berkaki empat seperti domba, sapi, kambing, kerbau, kuda, marmut, tapi tidak menyerang unggas, kecuali burung unta.
Sedangkan, dr Riris Andono Ahmad, MPH, PhD, selaku direktur Pusat Kedokteran Tropis, FK UGM mengatakan ada tiga kategori penyakit antraks pada manusia. “Pertama, antraks kulit karena kontak langsung. Biasanya ditandai dengan panas demam dan bengkak kulit, terlihat bopeng menghitam tebal. Ini tidak berbahaya bisa disembuhkan,” tuturnya.
“Yang kedua ini berbahaya, antraks abdominal (saluran cerna) karena mengonsumsi daging yang terkontaminasi secara langsung. Ditandai dengan sakit perut atau berak darah,” jelasnya.
Untuk yang ketiga, lanjut dr Riris, antraks respirasi, yaitu spora antraks yang terhirup. “Ini juga termasuk bahaya karena bisa menyebabkan sesak napas,” katanya.
Sementara itu, Prof Dr Ali Agus dari Fakultas Peternakan UGM mengimbau agar untuk saat ini tidak memobilisasi ternak masuk dan keluar dari daerah Gunungkidul. “Pihak terkait harus memonitor titik-titik lokasi terjadinya antraks. Dokumentasi yang baik perlu dilakukan untuk mitigasi agar tidak menyebar, lalu sosialisasi secara komprehensif harus dilakukan semua pihak,” terangnya.
Prof Ali Agus juga menyarankan KTP untuk ternak agar pantauan akan lebih terjangkau dan memperoleh informasi yang komplit. “Saat ini harus dilakukan kesiap-siagaan tingkat tinggi. Pasar-pasar hewan harus ditutup sementara,” tutupnya. (jat)
