Bernas.id – Biskuit tiga keping dibrandrol seharga 600 ribuan? Gila. Mungkin demikian yang terlintas di benak orang awam. Jangankan terpikir membeli biskuit harga selangit, untuk membeli beras sepuluh ribu rupiah saja masih harus peras otak agar bisa terpenuhi. Namun tidak demikian dengan konsumen yang attached pada authentic brand. Bagi mereka dengan terbelinya barang-barang yang authentic serta high luxury brand maka pencitraan diri pun semakin meningkat. Esensi membeli bukan lagi pada kebutuhan tapi sudah pada keinginan sebagai sarana peningkatan citra diri.
Brown (2017) menjelaskan bahwa diperkirakan pada tahun 2030 masyarakat golongan ekonomi menengah akan mulai beranjak naik. Implikasi dari pernyataan ini adalah bahwa dengan terjadinya peningkatan gaya hidup, terutama pola konsumsi, kebutuhan akan produk-produk yang termasuk dalam kategori high luxury brand juga semakin meningkat.
Oreo supreme sebagai bukti bahwa keadaan ini mulai terjadi. Orang bukan lagi membeli substansinya melainkankan membeli brand, membeli gengsi. Sehingga sebungkus biskuit yang berisi tiga keping ini tetal laris terjual meski diharga kisaran 600 ribu rupiah. Bagi para pengusaha ini merupakan sebuah peluang. Mencari ide-ide bisnis yang menawarkan produk-produk luxury dengan harga premium. Sudah bukan merupakan sebuah isu lagi bahwa konsumen justru akan lebih tertarik dengan produk berharga tidak wajar daripada barang dengan harga obral.
Namun untuk menjual produk-produk luxury ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Butuh ilmu dan strategi khusus. Selain produk yang memang benar-benar luxury, langka, unik, para produsen ini juga harus menciptakan pasar yang diinginkan. Tidak asal punya produk yang dianggap luxury kemudian diharga premium bakalan laku. Harus dibangun terlebih dahulu konsumen-konsumen yang sudah mencapai taraf “hanya percaya produk branded“.
Branded, di sinilah kata kuncinya. Bagaimana suatu produk akan laku terjual hanya dengan brand yang disandangnya.
Sebelum lebih jauh, perlu diketahui bahwa brand adalah identitas diri yang membedakan antar sesama baik itu manusia, produk, maupun tempat. Sementara menurut Landa (2006) branding adalah kegiatan mengkomunikasikan brand itu sendiri. Di sini, tidak hanya sekedar visual merek atau nama dagang tetapi berkaitan dengan citra, kredibilitas, karakter, kesan, persepsi serta anggapan di benak konsumen. Bagaimana menciptakan kesan luxury, terus menempel dalam benak konsumen terhadap brand yang dimiliki itulah branding.
Bagaimana menciptakan brand? Apa saja komponen yang harus disiapkan agar brand melejit? Ilmu marketing yang akan menjawab semuanya. Pelajari lebih jauh tentang brand dan branding ini dalam Mentoring Digital Marketing agar apa pun yang dijual laku di pasaran.
