Bernas.id ? Bekerja sambil terus mengikuti perkuliahan adalah hal yang sulit. Sebuah profesi menuntut loyalitas dan kualifikasi yang sesuai.
Setelah menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2016 dari Jurusan Teknik Komputer Jaringan di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Alfian Fadli memutuskan untuk bekerja di PD. Volunteer Desain, sebuah perusahaan dagang yang bergerak di bidang percetakan dan konveksi. Untuk terus mengembangkan kemampuannya di bidang komputasi, maka Fian mendaftar di jalur kelas karyawan jurusan Teknik Informatika, Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) di Baturaja.
Dengan semangat belajar untuk peningkatan kualitas dirinya, Fian menghabiskan menghabiskan akhir pekannya di hari Jumat dan Sabtu untuk mengikuti perkuliahan. Di hari Jumat perkuliahan dilakukan selama lima jam mulai dari pukul 16.00 sampai dengan pukul 21.00 WIB. Di hari Sabtu, Fian mengikuti perkuliahan sejak pukul 07.00 sampai dengan pukul 17.30 WIB. Karena kesibukan di tempatnya bekerja, tugas-tugas kuliah ia selesaikan malam hari selepas jam kerja atau di hari Minggu. Baginya waktu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin agar tidak terbuang sia-sia.
Fian merasa bangga menjadi bagian dari UNMAHA. Ia berharap mutu UNMAHA semakin meningkat sehingga dapat bersaing dikancah pendidikan tinggi bersama kampus besar lainnya. Fian juga ingin turut berpartisipasi dalam kegiatan kampus yang melibatkan mahasiswa dari berbagai jurusan di UNMAHA agar dapat melakukan studi banding dan menambah wawasan dalam dunia pendidikan. Sayangnya, hingga saat ini ia tidak dapat berpartisipasi karena ia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di kampus.
Walaupun waktunya habis dengan kesibukan di kantor dibarengi dengan jadwal kuliah di kelas karyawan, Fian tetap mampu membuktikan eksistensiya melalui Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang ia dapatkan sebesar 3,5. Dengan capaian ini Fian termasuk kedalam 30 orang peraih beasiswa PPA setelah melalui serangkaian seleksi dan mengalahkan 120 orang lainnya.
Pemuda 21 tahun yang bertugas sebagai operator mesin banner ini memegang teguh motto hidupnya untuk selalu berdiri di atas kakinya sendiri. Ia bercita-cita untuk hidup mandiri tanpa merepotkan orang lain. ia berharap di masa depan akan memiliki usaha seperti tempatnya bekerja sekarang.
Semua tugas menghadapi mesin cetak di kantor tidak menurunkan semangat si sulung dari dua bersaudara ini untuk terus belajar. Dengan bekerja dan mendapatkan beasiswa, ia dapat memenuhi kebutuhannya. Ia tidak perlu membebani orang tuanya untuk biaya pendidikan tinggi.
Pilihan Fian untuk melanjutkan merajut mimpinya di UNMAHA bagai gayung bersambut. UNMAHA sebagai kampus yang mengusung teknologi dalam pembelajaran juga mengembangkan kurikulum kewirausahaan agar setiap mahasiswa siap menjadi pengusaha yang mandiri dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.
