Bernas.id – Kompetensi guru dan tenaga kependidikan bukan hanya dilihat dari lama mengajar di sekolah. Hal ini dipaparkan secara terperinci oleh Dirjen GTK Kemdikbud Dr. Iwan Syahril, Ph.D. dalam diskusi Temu Pendidik Daring ke 50 yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Belajar Depok melalui kanal Youtube Live.
Dengan tema ?Sudah Sesuaikah Perekrutan Guru dan Hingga Kepala Sekolah? – Menelusuri Keguruan di Sekolah?, diskusi tersebut dibuka dengan prakata dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Drs. H. Muh. Thamrin, S.Sos., M.M. yang menggambarkan tentang kondisi guru dan kepala sekolah di Kota Depok. Ada 3 elemen penting yang akan membuat kompetensi guru bisa meningkat seiring dengan bertambahnya waktu mengajar.
Refleksi dan Paradigma Berkembang
Jika seorang guru melakukan hal yang sama setiap tahun secara berurut-turut dan diulang tanpa ada perubahan, maka walaupun sudah dua puluh mengajar, guru tersebut bisa dianggap pengalamannya sama seperti yang baru satu tahun mengajar. Berbeda dengan seorang guru yang melakukan refleksi, kemudian dari hasil refleksi tersebut ia melakukan perubahan secara konstan selama 20 kali berturut-turut setiap tahunnya di kelas dan membawa dampak bagi murid. Maka guru yang terakhir inilah yang bisa dikatakan memiliki 20 tahun mengajar, karena perubahan mengajarnya akan membuat kompetensinya bertambah.
Berfokus pada murid
Saat pandemi ini, guru dan orangtua sebagai partner dalam menggali potensi dan mengembangkan kompetensi murid. Seperti halnya bidak catur, maka guru harus bisa melihat di mana posisi murid dan bagaimana bisa membuatnya menentukan langkah untuk bisa keluar sebagai pemenang. Jika gerak fokus guru dan orangtua adalah bagaimana memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan kepada murid, dalam situasi apapun. Guru dan orangtua akan lebih mudah berkomunikasi dan menemukan jalan keluar dari masalah apapun jika selalu berfokus pada murid.
Nyaman dengan Ketidaknyamanan
Dunia akan terus berubah, apa yang dibuat hari ini mungkin sudah tidak relevan lagi di masa depan. Guru diharapkan untuk bisa responsif, bukan reaktif, terhadap segala perubahan. Yang berarti, akan selalu timbul ketidaknyamanan karena harus berubah cepat, harus segera beradaptasi. Guru dipaksa untuk bisa nyaman dan menerima ketidaknyamanan tersebut.
Pandemi Covid-19 memang membuat guru dan orangtua banyak menemui tantangan, terlebih untuk mereka yang tinggal di wilayah yang tidak terjangkau akses Internet. Namun, ada satu kurikulum tersembunyi yang akan selalu diingat oleh murid setelah dewasa, yaitu berkaitan dengan keteladanan yang diberikan orang-orang dewasa di masa sulit. Murid mungkin tidak akan ingat pelajaran matematika atau yang lainnya. Namun, murid akan ingat apakah di saat ini orang-orang dewasa di sekitarnya lebih banyak mengeluh dan menyerah, atau yang bergerak dan berjuang.
