Oleh: Prof. Sudjarwadi
Pertemuan Situtena dengan sahabat mudanya minggu lalu memperkokoh keingintahuannya tentang dinamika perubahan gaya hidup setelah terjadinya pandemi Covid-19 dan sekaligus keinginan mengajak teman-teman di desa untuk beradaptasi dengan situasi baru agar dapat meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan.
Situtena masih terkenang tentang asas kesederhanaan yang sedang mencari jalan praktik di desa. Pada tahun 1998, 22 tahun yang lalu, terbaca dalam pidato pengukuhan guru besar Pak Sudjarwadi empat kalimat berikut. ?Asas kesederhanaan teknik pengairan merupakan suatu asas yang memberi misi sangat berat kepada teknik pengairan. Air di alam dengan berbagai kompleksitas pengaturan jumlah dan mutu air dalam konteks dinamika alami maupun kompleksitas sosial ekonomi dan budaya harus diatur untuk kesejahteraan manusia. Asas kesederhanaan merupakan falsafah yang menuntut penerapan seni penyederhanaan kompleksitas permasalahan, menjadi jawaban operasional manajemen air yang dikerjakan dengan teknologi tersedia. Pelaksanaan manajemen berdasar asas kesederhanaan tersebut harus didukung oleh pemanfaatan teknik pengairan dalam usaha menciptakan fasilitas kemudahan kerja dan harmoni kerja, yang akan mendatangkan kesejahteraan kepada penduduk, sebagai akibat keberadaan air sesuai keperluan. Dalam hal ini diperlukan perangkat yang tepat, baik perangkat keras maupun perangkat lunak.?
Apabila didalami, manajemen air mempunyai aspek kompleksitas yang mirip dengan sumber daya lain, misalnya tanah, tumbuhan, hewan, dan berbagai sumber daya baik insani maupun fisik. Kompleksitas sosial, ekonomi, dan budaya selalu menjadi faktor-faktor penting dalam pengelolaan sumber daya. Sangat menarik untuk mengembangkan basis logika manajemen air menjadi manajemen produk hasil karya teman-teman di desa-desa. Produk pertanian, kerajinan, dan hasil-hasil keterampilan yang beragam.
Sumber daya apa saja, ya, yang ada di desa? Sumber daya secara umum sama, terdiri dari sumber daya manusia, fisik alam, dan fisik buatan. Namun, secara spesifik, tiap desa memiliki kekhususan potensi kombinasi berbagai sumber daya di tempat masing-masing.
Saat ini, situasi dan kondisi pandemi Covid-19 telah memberi berbagai tantangan baru tentang cara hidup manusia yang sesuai lingkungan baru.
?Halo, Kakek, kelihatannya sedang berpikir serius. Sedang memikirkan apa, Kek?? sapa cucunya yang telah beberapa hari tidak berkunjung.
?Sedang longgar waktunya, ya, sempat mengunjungi Kakek. Adik tidak ikut? Nanti dicari adik lho,? jawab Kakek.
?Tidak, Kek, saya sudah berpamitan, nemani adik nanti sore. Saya kepingin mendengar cerita pemikiran Kakek tentang desa. Oleh karena itu, saya datang sendiri. Kalau bersama adik, nanti terlalu banyak pertanyaan meriah dari adik. Adakah hal menarik, Kek?? jawab cucu Aleita sambil senyum.
?Ada, itu, yang tadi saya renungkan. Kakek akan cerita sambil nanti bertanya ke kamu ya, pikiran generasi Z tentang desa bagaimana,? jawab Kakek.
?Ya, Kek, tentang pikiran zaman dulu, bekal cerita saya ke teman-teman, kapan-kapan kalau sudah boleh ketemuan pada masa Covid-19 acara kumpul-kumpul,? ungkap cucunya.
Kakek sedang bersyukur, sudah berkali-kali bulan lalu dan bulan ini, makan siang dengan lalapan sayur hasil tanam Nenek Yatica dari sejumlah pot. Mentimun, terung lalapan, dan kemangi yang lezat. Dulu, sebelum ada Covid-19, Nenek Yatica tidak mempunyai tanaman-tanaman di pot untuk sayuran sehari-hari.
Situtena bercerita tentang kehidupan desa masa masih kanak-kanak. Penduduk desa terbiasa menanam sayur dan TOGA (tanaman obat keluarga), misalnya jahe, serai, kunyit, dan berbagai ?empon-empon?. Empon-empon adalah tanaman untuk bumbu masak. Selain berfungsi sebagai pembuat lezat, juga memiliki khasiat untuk kesehatan. Kebiasaan yang mulai banyak dilupakan tersebut pada masa pandemi Covid-19 mulai dipraktikkan lagi oleh makin banyak keluarga, malah di ?desa kota? seperti di tempat Aleita. Dengan tambahan bumbu-bumbu alami dan lalapan hasil tanam di pot-pot sendiri, keluarga Situtena merasakan semacam ada tambahan rasa sehat bagi penghuni yang sudah berusia di atas 70 tahun. Semoga terhindar dari serangan virus Corona-19 dan virus-virus lainnya.
Situtena menceritakan juga bahwa gerakan kembali ke alam yang sudah dilakukan banyak orang menunjukkan tanda-tanda akan diikuti makin banyak lagi keluarga yang pada masa pandemi memiliki waktu bertanam sayur dan TOGA . Cara hidup yang lebih menyehatkan dari segi asupan makanan akan terus berkembang. Makanan kaleng dan impor bahan hasil-hasil pabrik akan berkurang.
?Waah , baik ya, Kek?? sela cucunya.
?Kamu tertarik bagian mana? Apa yang menarik bagi teman-teman seusiamu generasi Z?? tanya Kakek kepada cucunya.
Saya tertarik, Kek. Mama sering cerita besarnya manfaat membiasakan makan sayur dan buah-buahan. Saya dilatih oleh mama, untuk makan buah dan sayur, tidak boleh banyak makanan dari jenis cepat saji. Kata mama, makanan sayur dengan bahan alami, selain lebih sehat, juga mengurangi impor makanan dari negeri jauh. Mengangkut makanan dari negeri jauh, selain mahal kendaraan yang digunakan, juga membakar bensin, pertalite, dan sejenisnya sehingga menimbulkan polusi udara.
Aleita menyambung, ?Saya nanti cerita kepada teman-teman karena beberapa ingin melanjutkan belajar dengan berkuliah di program studi pertanian. Beberapa juga ingin kuliah di peternakan, beberapa di teknik. Tentu mereka akan bekerja sama menemukan cara-cara baru untuk meningkatkan produk di desa-desa, mengembangkan bibit-bibit terbaik untuk dapat panen sayur dan buah kualitas tinggi.
Selain itu, saya pernah mendengar obrolan teman tentang cara mengerjakan pertanian. Untuk menanam, merawat, dan panen menggunakan mesin, sebagian menggunakan robot. Asyik Kek, banyak juga teman berasal dari desa yang pintar-pintar. Beberapa akan menerima beasiswa dari pemerintah untuk belajar di bidang pertanian yang cocok dengan kondisi dan situasi desa-desa dan desa kota yang tersebar di mana-mana. Produknya tentu akan bagus dan dengan saling memberi kabar dengan mudah menggunakan HP, maka kerja sama antarwarga dan antarpengusaha produk-produk perdesaan dapat diatur agar bisa berkontribusi dengan maksimal untuk masyarakat dan bangsa.
?Betulkah, Kek, pendapat saya tersebut?? tanya Cucu.
?Waah, kamu cerdas dan berpikir positif, bagus,? jawab kakeknya.
Kakek kemudian cerita tentang asas kesederhanaan dalam ilmu pengetahuan, yaitu pendekatan sistem. Asas kesederhanaan sama artinya dengan pendekatan sistem
Tantangan solusi persoalan apa pun perlu pendekatan sistem, optimasi berbasis komputer, pemahaman kompleksitas yang saling terkait aspek ekonomi, sosial, budaya, dan IPTEK dengan berdasar data relevan, berkaitan dengan IoT dan orientasi robotics apabila desanya sudah mampu. Diperlukan art of practice, tidak kompleks sekaligus tidak boleh over-simplified. Itulah uraian Situtena kepada Cucu Aleita, sebelum Cucu meminta izin menemui Nenek Yatica untuk mengambil foto-foto tanaman di pot-pot sebagai kebun mikro Nenek.
