Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75. Jadilah Manusia Merdeka Jiwanya Raganya
Sebuah Dialog Imajiner. Presiden suatu negara nampak sedang asyik berdiskusi dengan Soekarno.
Bung Karno : “Jadi Mas, sebuah revolusi itu harus digerakkan dalam basis Rodinda”
Presiden : “Apa itu Rodinda, Pak?”
Bung Karno : “Rodinda, itu adalah Romantika, Dinamika dan Dialektika”
Presiden : “Maksudnya?”
Bung Karno :”Romantika adalah bagaimana membangun rasa cinta rakyat, membangun kegembiraan rakyat, membentuk hubungan rasa antara pemimpin dan rakyat. Dalam romantika rakyat dibawa pada kegembiraan. Jadi dalam romantika ada unsur passion, gairah rakyat, hingga rakyat terbuka kesadarannya apa yang terjadi dalam diri mereka, dan ketika berjuang lepas dari itu, rakyat menjadi merasa tidak menderita, karena perjuangan adalah ‘jalan untuk menderita’ demi sebuah pembelian cita-cita”
Baca Juga: Inilah 10 Sertifikasi di Bidang SDM yang Ada di Universitas Mahakarya Asia
Presiden: ‘Lantas dengan Dinamika?”
Bung Karno : “Dinamika adalah suatu keadaan setelah romantika, rakyat bergelora, maka rakyat diarahkan pada gerakan-gerakan besar menuju satu cita-cita pembebasan, di jaman kamu ini kegelisahannya adalah rakyat ditipu oleh para birokrat, para penggede, rakyat susah dan penggede berfoya-foya. Kamu jalankan bagaimana rakyat harusnya bergerak dan berdinamika, bangun sebuah sistem yang partisipatif. Rakyat harus diberi ruang kemandirian dan punya cara menentukan nasibnya sendiri.
Lantas dengan keadaan ketiga yaitu ‘Dialektika’, setelah bergerak rakyat akan menjadi sadar keadaan-keadaan apa yang melingkupinya, gerak apa yang mereka pilih dalam lingkungannya? dan apa saja yang mempengaruhi lingkungan sekitarnya.
Soekarno menepuk bahu kanan presiden, “Nah disinilah fungs-fungsi yang menghidupkan nyawa sebuah revolusi di tengah masyarakat. Sebuah Rodinda, ‘Romantika, Dinamika dan Dialektika” lanjutnya.
Presiden mengangguk-angguk memahami apa yang baru saja disampaikan oleh Soekarno. Saat itulah Muhammad Hatta dan Tan Malaka terlihat berjalan menuju arah mereka, sedikit berada di belakang PAT yang berjalan bergegas. Tak selang berapa lama, PAT menyerahkan secarik kertas lusuh dengan tulisan tangan yang hampir luntur namun masih jelas terbaca,” De plicht van ehn men is men te zijn”
Baca Juga: AI Power Omnichannel Sales Growth: Strategi Tingkatkan Penjualan Era AI
Dialog Imajiner
Dialog imajiner yang saya tulis di atas bermaksud menggambarkan bahwa setelah 75 tahun Indonesia menyatakan kemerdekaannya, setelah menegaskan diri menjadi bangsa yang terbebas dan bebas menentukan masa depan nasionalnya sendiri, bukan berarti perjuangan telah selesai. Dalam setiap jaman pasti akan ada momentum yang membawa perubahan dan dialektika, yang akan semakin membuat Indonesia lebih dewasa sebagai sebuah bangsa.
Momentum Pandemi Covid-19.
Pandemi ini harus bisa membuat bangsa Indonesia lebih dewasa dalam gerak pikir maupun gerak laku. Harus bisa beradaptasi menjadi negara yang lebih maju, dalam segala aspek. Pondasinya seperti apa yang disampaikan oleh PAT dalam dialog imajiner di atas, ‘de plicht van ehn men is men tezijn’, kewajiban utama manusia adalah menjadi manusia.
Jika dipahami dengan seksama, pandemi itu seperti guru, yang memberikan pembelajaran sekaligus ujian untuk kita sebagai manusia. Kita belajar dari pandemi bahwa tatanan dunia yang telah susah payah dibangun manusia, bisa runtuh oleh sesuatu yang mikroskopik, sangat kecil, yang bahkan tidak bisa dilihat mata secara langsung. Pandemi ini juga mengajak kita untuk kembali bersahabat dengan bumi dimana kita tinggal di atasnya.
Makhluk mikro ini juga membawa dampak yang menjadi mata ujian bagi manusia dalam berbagai aspek : ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Secara ekonomi hampir semua negara di dunia ini terdampak, bahkan banyak yang selama ini menyombongkan diri sebagai negara maju pun bertumbangan perekonomiannya.
Bisnis Ekonomi Negara
Basis ekonomi negara kita selama ini ada pada 3 hal, yaitu Penanaman Modal Asing (PMA), laju ekspor-impor, serta konsumsi domestik. Dari ketiga hal tersebut yang menjadi tumpuan perekonomian kita agar segera pulih adalah pada konsumsi domestik atau rumah tangga, yang pada 2019 merupakan kontribusi terbesar dalam PDRB kita sebesar 56.62%.
Artinya setiap manusia dari sebanyak 268.583.016 jiwa (sensus BPS per Juni 2020) merupakan pejuang untuk membawa bangsa Indonesia ini merdeka dari Pandemi. Ukurannya adalah mampu bebas dari rasa takut dan ketidakmampuan menghadapi virus Covid-19 yang mengancam jiwa ini serta mampu beradaptasi dengan baik untuk segera melakukan pemulihan dalam segala aspek.
Setiap manusia Indonesia harus sadar dan berpihak kepada produk UMKM lokal, karena nyatanya 99.9% usaha yang ada di negeri ini adalah UMKM. Keberpihakan ini muncul dalam banyak bentuk seperti pasar komunitas, Klinik Pemulihan Bisnis, Belabeli produk UKM, dan sebagainya.
Pemerintah sendiri juga telah mengalokasikan anggaran cukup besar untuk menggairahkan konsumsi domestik ini dalam berbagai program yang bersifat bantuan sosial maupun fasilitasi produktivitas. Harapannya berbagai program ini jangan sampai melemahkan jiwa manusia Indonesia dan menumpulkan pikiran. Bantuan bersifat darurat, yang harus menjadi perhatian adalah keberlanjutan kemandirian.
Karena itulah, apapun yang menjadi program, fokus kita saat ini adalah membangun manusia-manusia Indonesia ini, jiwanya dan raganya.
Ingin menjadi wirausahawan yang tangguh dan inovatif? Bergabunglah dengan Program Studi Sarjana Kewirausahaan (S1) di Universitas Mahakarya Asia, di mana Anda akan dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menciptakan peluang bisnis baru.
Jika ingin kuliah tanpa khawatir biaya, Manfaatkan Beasiswa PBL yang menawarkan strategi kerja remote, memungkinkan Anda belajar sambil bekerja dan mendapatkan SPP kuliah gratis. Strategi Kerja Remote untuk SPP Kuliah Gratis di UNMAHA.
Ambil langkah pertama menuju kemandirian dengan mendaftar sebagai mahasiswa baru di Universitas Mahakarya Asia. Dapatkan pendidikan berkualitas yang akan mempersiapkan Anda menghadapi tantangan global. Daftar di PMB UNMAHA, sekarang juga!***2
