Bernas.id – Pandemi sudah menerjang Indonesia selama 6 bulan, dari pasien pertama teridentifikasi positif Covid19. Dengan adanya pembatasan sosial skala besar untuk mencegah penyebaran virus corona, sekolah-sekolah ditutup dan seluruh murid belajar dari rumah. Guru memberikan pembelajaran dari dalam maupun luar jaringan, memakai teknologi komputer maupun telepon pintar (smartphone).
Bisa dikata, bulan September 2020 ini merupakan akhir dari semester satu pandemi dan ternyata masih banyak perbaikan yang harus segera ditingkatkan agar murid tidak mengalami kesenjangan informasi dan hilangnya generasi karena pandemi. Salah satunya adalah saat seorang murid memprotes pembelajaran jarak jauh dengan teknologi ini tidak berhasil karena Google lebih baik dan pintar daripada sekolah.
Dalam sebuah webinar Parade Kelas Kemerdekaan Komunitas Guru Belajar Depok, Steven Sutantro, Google Certified Innovator dan Trainer dari REFO Indonesia menyatakan bahwa Google dan guru sebenarnya memiliki peran yang berbeda. Namun, kebanyakan guru masih berusaha melakukan peran Google, sehingga tak heran jika terlihat Google lebih baik dari sekolah. Ada 4 hal yang bisa dilakukan untuk membuat sekolah berbeda dengan Google.
Personalisasi
Dengan adanya pandemi ini, setiap anak belajar di rumah dengan perangkat berbeda dan lingkungan belajar yang berbeda. Google memfasilitasi sebuah platform penyedia informasi maupun manajemen belajar, tetapi kemampuan guru memberikan pembelajaran dengan personalisasi yang memenuhi kebutuhan belajar siswa adalah kuncinya.
Kolaborasi
Di abad 21 ini, elemen kolaborasi menjadi penting untuk dilakukan dan diwujudkan karena murid tidak bertemu satu sama lain. Google menyediakan berbagai aplikasi yang bisa dikerjakan dalam sebuah kolaborasi digital, namun pemegang kunci eksekusi adalah guru yang membagi kelompok dan mengarahkan murid untuk bisa berkolaborasi.
Berkelanjutan
Google hanya sebagai penyedia perangkat, tetapi peran guru adalah memberikan pembelajaran yang bisa melibatkan siswa dalam proses belajar mandiri. Membuat tugas-tugas yang bisa membuat murid memutuskan apakah ia sudah kompeten atau tidak dalam mengatasi sebuah permasalahan.
Pengalaman
Dua guru bisa menggunakan aplikasi Google yang sama, tetapi keduanya bisa membawa pengalaman yang berbeda. Guru A hanya memberikan tugas-tugas di Google Classroom, tanpa ada arahan maupun bimbingan. Sementara Guru B membuat pengalaman belajar yang menarik dengan memberikan pertanyaan pemantik dengan pembelajaran berbasis inkuiri di platform yang sama.
Rapor di semester satu pandemi ini memberikan catatan perkembangan penting bahwa guru harus bisa menyeimbangkan antara pedagogi dan teknologi. Bukan hanya tentang cara memakai aplikasi, tetapi bagaimana membuat pembelajaran yang bermakna dengan personalisasi yang berkelanjutan untuk siswa.
