Bernas.id – Tak terasa sudah hampir satu semester pandemi telah memaksa sekolah untuk tutup dan mengondisikan murid-murid belajar dari rumah. Sebuah refleksi makna merdeka belajar yang selama ini digaungkan apakah hanya sebuah jargon saja, menjadi topik utama dalam Temu Pendidik Regional Komunitas Guru Belajar Makassar, dengan narasumber Ibu Najeela Shihab, atau biasa dipanggil Ibu Ela, dari Kampus Guru Cikal.
Ibu Ela mempertanyakan mengapa guru maupun orangtua selalu menyalahkan murid jika tidak mau belajar atau tidak mengerjakan tugas. Menyalahkan murid yang malas, motivasi rendah. Sementara anak merupakan korban dari situasi ini bukan hanya karena pandemi, tetapi karena bahkan sebelum pandemi datang, kebanyakan murid belum ditumbuhkan kemerdekaan belajarnya.
Ada 3 pertanyaan yang perlu dijawab sebagai refleksi guru dalam merancang pembelajaran. Pertama, apakah benar murid termotivasi saat belajar tatap muka di sekolah. Kedua, apakah murid paham tujuan belajarnya dan ketiga, apakah mereka dibiasakan mandiri, menolong dirinya sendiri dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi saat belajar. Jika dari ketiga pertanyaan tersebut semua jawaban adalah tidak, maka tidak heran jika murid pun tidak tergerak untuk belajar saat guru tidak ada.
Di masa pandemi ini, merdeka belajar justru harus diwujudkan karena sosok guru hanya bisa ditemui secara tatap maya, tetapi tidak hadir secara fisik. Merdeka belajar bukan berarti murid bebas untuk tidak belajar, atau belajar sesuai sekehendak hatinya saja. Tetapi, merdeka belajar merupakan sebuah kebiasaan di mana murid mampu untuk paham tujuan belajarnya, mampu mandiri dan menolong diri sendiri saat menyelesaikan tantangan belajarnya.
Semester satu pandemi di dunia pendidikan masih memberikan banyak catatan untuk kemampuan guru dalam memerdekakan belajar murid. Masih banyak guru yang hanya mampu menjelaskan materi tetapi tidak memberikan makna belajar. Masih banyak guru yang hanya memberikan soal-soal latihan dan mementingkan presensi saja. Tak heran jika murid-murid pun merasa bosan dan tidak ingin belajar.
Murid-murid belum memiliki kompetensi untuk bisa belajar dari sekelilingnya, baik itu dari sekolah maupun dari rumah, memakai teknologi maupun tidak. Baru sedikit guru yang mampu membuat pembelajaran bermakna dari konsep maupun teori yang diberikan. Kemerdekaan dalam belajar bukan hanya tentang apakah murid mau belajar atau tidak, tetapi lebih kepada bagaimana murid bisa memetik pelajaran dari sekelilingnya, mengaitkan dengan konsep yang diajarkan di sekolah, dan menjadikannya pengetahuan baru untuk memberdayakan komunitas di sekitarnya.
Guru-guru perlu melakukan banyak refleksi, untuk mencari solusi bukan menyalahkan murid. Tantangan dalam pembelajaran jarak jauh bukan untuk dikeluhkan, tetapi untuk dilampaui dengan baik sehingga murid tetap mendapatkan haknya dalam belajar. Terutama belajar menumbuhkan tujuan belajar dan keinginan besar untuk mencapainya. (TAF)
