YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Sepakbola merupakan olahraga yang paling banyak digemari masyarakat Indonesia. Hampir di setiap daerah di Indonesia sudah memiliki tim sepakbola hingga memberikan antusias tersendiri pada masyarakat untuk menjadi suporter tim kebanggaan daerahnya masing-masing. Kehadiran suporter merupakan pilar penting yang ada dalam suatu pertandingan sepakbola. Tanpa adanya supporter, jalannya pertandingan sepakbola menjadi kurang menarik, hambar dan tanpa makna. Tidak berlebihan jika Indonesia disebut negara penggila sepakbola. Namun disisi lain fanatisme suporter yang berlebihan juga dapat menimbulkan hal yang tidak diinginkan seperti tindak kekerasan, kerusuhan dan jatuhnya korban baik luka, tewas, serta terganggunya ketertiban.
Untuk menanggulangi kejadian serupa pada remaja terutama pelajar, Balai Pendidikan Menengah Bantul sudah meminta kepada sekolah untuk mendata siswa penyuka sepakbola. Data tersebut akan dijadikan bahan untuk mengambil kebijakan terkait perlu tidaknya sekolah menggelar nonton bareng (nobar) jika ada pertandingan skala besar di stadion. Selain itu sekelompok mahasiswa UNY juga tertarik untuk mencegah fanatisme negatif suporter sepakbola di Yogyakarta melalui upaya mengedukasi, membina karakter suporter siswa serta mengajarkan untuk menjunjung tinggi nilai persatuan suporter sepakbola di Yogyakarta. Mereka adalah Ibrahim Adam dan Miya Kurniawati prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Nindia Rizma Widyani prodi PJKR, Jefri Eko Cahyono prodi Ilmu Komunikasi, Shafira Rizqi Amalia prodi Psikologi serta Septa Dwi Nugroho prodi Pendidikan Sosiologi.
Menurut Ketua Tim PKM, Ibrahim Adam, kegiatan ini disebut Football Fans Space dengan maksud agar anak yang menyukai kegiatan mendukung tim sepakbola dapat memahami esensi dari mendukung dan dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan ketika pada nantinya terjun dalam dunia persuporteran. “Kegiatan pelatihan dilaksanakan secara daring menyesuaikan dengan kondisi Covid-19,” kata Ibrahim.
Dengan memanfaatkan platform video conference pelatihan dapat dilaksanakan tanpa harus melakukan pertemuan langsung. Selain dengan menggunakan video conference, pelatihan juga dilaksanakan dengan menggunakan website agar juga dapat diakses masyarakat umum.
Sementara itu, Miya Kurniawati menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan di SMPN 1 Kalasan yang memiliki kelas reguler dan KKO (Kelas Khusus Olahraga). Kelas Khusus Olahraga adalah kelas khusus bagi anak-anak yang memiliki minat dan bakat dalam olahraga yang kemudian di kelas ini mereka difasilitasi agar bisa mengembangkan potensinya dengan baik. “Beberapa siswa yang bersekolah di sekolah ini sudah memiliki kesukaan pada satu klub sepakbola walaupun tidak menunjukkan identitas suporternya secara langsung,” jelasnya.
Nindia Rizma Widyani menjelaskan pelatihan dirancang sebanyak enam kali pertemuan. Pada pertemuan awal siswa akan mendapatkan pelatihan Life Motivation and Be Prevent Negative Fanatical Supporters, Know Your Local Wisdom Value and Soccer History, dan 6 kali pertemuan rutin dengan rincian kegiatan seperti BeCenTik (belajar mencegah supporter fanatik), Kowantik (kompetisi antar siswa anti Fanatik), dan Toridol (Motivasi dari ldola).
Program Becentik melestarikan kearifan lokal yang ada di lingkungan siswa dengan lagu daerah yang menanamkan cegah anti suporter yang negatif, Kowantik berupa pertandingan antar siswa yang di dalamnya ada suporter yang menanamkan nilai-nilai mencegah fanatik dan Toridol berupa motivasi dan pengamalan karakter yang baik dari idola para siswa.
“Pada sesi Toridol ini dihadirkan Dinan Yahdian Javier Eks Timnas U-19 agar siswa bisa lebih termotivasi untuk menjadi suporter yang bijaksana dan berperilaku baik,” kata Nindia.
Kegiatan diakhiri dengan nonton bersama dengan penanaman nilai- nilai menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Kegiatan ini berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Pada Masyarakat tahun 2020. (cdr)
