Bernas.id – Botol kaca berwarna hijau tua dengan tutup kayu di atas jendela itu selalu menarik perhatianku. Dulu, ketika masih tinggal di Pulau Borneo, di rumah kami yang sangat besar dengan perabotan mewah, dilengkapi taman indah dan jejeran mobil layaknya show room, aku pernah melihatnya. Ia memiliki tempat lebih tersembunyi, jauh dari jangkauan anak-anak.
?Apa ini, Ibu?? tanyaku. Kala itu tanpa sengaja menemukan botol yang sama, diletakkan begitu spesial pada kotak perhiasan kesayangan ibu.
?Itu bukan mainan, kembalikan! Jangan sekali-sekali kauganggu,? hardiknya. Aku masih ingat saat pandangan perempuan yang telah melahirkanku itu mendelik tajam. Kedua bola matanya seakan ingin melompat. Mulutku seketika bungkam.
Aku mulai menerka-nerka. Mungkin isi dari botol itu sejenis sirup sangat spesial. Dibeli dari luar negeri. Seperti kebiasaan ibu yang suka traveling ke beberapa negara. Manis dan mahal. Bisa membuat gigi berlubang seperti yang ibu katakan apabila terlalu banyak memasukkan gula-gula ke mulut.
Tanpa sepengetahuan ibu, kubuka botol itu, menumpahkan beberapa tetes ke telapak tangan. Cairan pekat dengan aroma anyir dan apak menjijikan membuat lambungku seketika mual. Warnanya tidak merah, tidak juga coklat. Mungkin serupa tomat busuk bercampur kotoran hewan.
Waktu berlalu hingga kami pindah ke Jawa, di kaki Gunung Pandan, Desa Kedung Pingit.
Rumah Joglo tua berdinding kayu, beratap esbes lapuk tanpa plafon. Satu ruangan bahkan masih menyatu dengan tanah. Saat siang hari, cahaya menerobos dari banyak celah, tidak hanya dari atap yang bocor tapi juga dinding yang disusun tak rata. Hanya ada dua kamar berukuran kecil dan ruang tamu nyaris menyatu dengan dapur. Bapak terkena PHK. Desas desus menyebutkan, bapak menggelapkan uang perusahaan. Beruntung ia tidak dijebloskan ke penjara. Bapak hanya diminta meneyerahkan seluruh aset beserta isinya. Semenjak itu hanya pertengkaran demi pertengkaran menghiasi rumah kami.
Ibu yang terbiasa hidup mewah harus memprihatinkan diri dengan keadaan bapak. Selain baju-baju yang tidak seberapa, kenapa botol itu yang ia bawa ke mana-mana. Kenapa bukan mobil atau perhiasan yang biasa melekat padanya yang seharusnya turut serta.
?Ini dahwat,? ibu berkata ketika kutanyakan kembali. ?Darah orang mati syahid karena terbunuh,? ucapnya lagi. Seketika tengkuk leherku meremang. Kenapa ibu harus menyimpan benda aneh sangat mengerikan itu?
?Dengan ini, rumah kita akan terbebas dari pencurian dan orang-orang yang berniat jahat.? Ibu seolah membaca pikiranku. Di rumah kami dulu, mungkin saja benda itu berguna. Tidak ada satu pun pencuri atau perampok yang berhasil menerobos masuk. Lagi pula, siapa yang berani mencuri di rumah kepalanya pencuri?
Lalu, di rumah serupa gubuk ini apa yang harus dijaga? Bahkan tv tabung ukuran empat belas inci itu saja belum tentu pencuri tertarik. Tv itu lebih sering mengeluarkan bunyi kemresik tidak jelas dengan chanel-chanel memuakkan.
?Darah ini juga sering dicari sebagai tinta membuat tambang liring. Ilmu pengasihan yang akan membuat seseorang seketika kasmaran bahkan lupa daratan.?
?Apa itu yang Ibu gunakan untuk memikat hati bapak??
Ibu hanya menghela napas panjang tanpa memberi jawaban sepatah pun.
?Lalu semuanya tak berpengaruh apa-apa lagi setelah menyeberangi lautan, bukan??
?Sudahlah, jangan kauganggu botol itu, biarkan di sana,? ibu seakan memberi maklumat. Aku tidak mengindahkan perihal ucapan ibu, dan sebenarnya aku juga tidak peduli dengan botol itu. Namun semuanya menjadi berbeda, botol itu tanpa sengaja tersenggol sapu saat aku ingin mengusir seekor tawon yang terus berkeliaran di dalam rumah. Ia tumpah dan cairannya berceceran di lantai. Seketika aroma anyir menyeruak.
Lantai menjadi licin, kakiku terpelesat. Hentakan tubuh yang menghantam ubin membuat gaduh.
?Ada apa, Sul??
?Tidak apa-apa, Ibu. Aku hanya terpeleset,? seruku menahan dentuman ketakutan di dada, membayangkan bagaimana jika ibu tahu, benda keramatnya tumpah, nyaris tak bersisa. Mustahil memasukkan cairan itu kembali.
Aku buru-buru mengambil gombal yang biasa dipakai untuk mengepel lantai. Membersihkan lumuran darah pekat yang terus melebar, tidak hanya di lantai tapi nyaris ke sekujur tubuh. Berkali-kali perutku berontak. Rasa mual tak tertahankan. Aroma busuk dan rasa khawatir terus berkelebat.
Gegas kubersihsan sisa-sisa darah dan membasuh diri di kamar mandi. Walau berulang kali membilas tubuh, bahkan nyaris menghabiskan satu batang sabun beraroma lavender, bau anyir itu seakan terus mengikuti.
?Suliyem! Sedang apa kau di sana??
?Mandi, Bu.?
?Malam-malam begini??
?A-aku gerah sekali, Bu.?
?Ya sudah, ibu pergi dulu. Jangan lupa pintu depan segera dikunci.?
?Iyaaa!? Aku menjawab lebih kencang, agar ibu segera menjauh.
?Suliyem, apa kau mencium sesuatu??
Aku terkesiap. Kubuka pintu perlahan, mencondongkan sedikit kepala. ?Mencium apa, Bu??
?Bau busuk.?
?Tadi ada bangkai tikus dekat kompor kita, Ibu.?
?Ya sudah, ingat pesan, ibu.? Aku mengangguk. Kembali menutup kamar mandi. Menyucikan tubuh berulang. Kali ini dengan detergen. Aroma anyir itu tak jua pergi. Ia seolah melekat di hidung. Atau mungkin di otakku. Aku frustrasi.
Semakin lama tubuhku kian gigil. Jemariku membiru dan berkerut-kerut. Angin dingin yang menelusup dari celah-celah dinding kamar mandi serasa menusuk tulang. Segera kuambil handuk dan membungkus tubuh. Keluar kamar mandi dengan tetesan dari ujung-ujung rambut yang masih basah. Seketika indra penciumanku kembali menghirup aroma sangat memuakkan. Aku menutup hidung lalu berjingkat menuju pintu depan.
Baru saja jemariku menyentuh gerendel, tiba-tiba pintu terbuka paksa. Tubuh bapak limbung. Badannya terhunyung. ?Di mana ibumu??
?Ibu pergi, Bapak.?
Pandangan bapak seketika menatap meja tamu. Telepon genggam ibu tergeletak di sana. Bapak melangkah dan segera mengambil benda itu. Ia terlihat muntab. Dibantingnya telepon ibu dengan sekuat tenaga. ?Pelacur memang ibumu itu!!!?
?Bapak!? Gigiku bergemeletuk menahan amarah. Ini bukan kali pertama ia menyebut ibu seperti itu. Aku tidak tahu secara pasti ke mana ibu yang nyaris setiap malam pergi dengan riasan wajah tebal bersamaan dengan aroma parfum menyeruak. Namun aku tidak terima jika bapak berkata seperti itu tentang ibu. Bagiku ibu tetap malaikat tak bersayap. Ia selalu membawa makanan setiap kali pulang. Ia melakukan apa saja demi mencukupi kebutuhanku.
Sedangkan sosok yang kupanggil bapak ini? Sehari-hari hanya menghabiskan waktu di desa sebelah dengan menyabung ayam. Pengangguran tidak jelas. Dulu, boleh saja ia berbangga hati karena posisinya dianggap terhormat.
?Kamu tahu, Sul. Karena ibumu itu, karena ibumu itu bapak seperti ini!? Bapak menatapku sangat tajam. Matanya menyeringai. Aku melangkah mundur hingga memepet tembok.
?Kalau bukan karena memenuhi permintaan sok-sialitas ibumu itu, bapak tidak akan terjerumus seperti ini, menghabiskan sisa usia di desa terpencil seperti ini.?
Mungkin benar, jika bapak dipecat setelah ketahuan menggelapkan uang perusahaan. Benar, jika ibu sebelumnya hidup bergelimang harta. Namun, bukankah seorang istri adalah cerminan suaminya. Apa bapak tidak pernah memikirkan itu?
Aku berusaha menghindar dan masuk kamar. Kembali, pintu terhalang, bapak menerobos masuk. ?Temani bapak malam ini, Sul!?
?Bapak, pergi!? Alkohol itu telah membuat jiwanya menjadi tidak waras.
?Ayolah Suliyem.? Bapak seperti singa kelaparan. Tangannya seketika menyambar tubuhku.
?Lepas!? Tangan kasar bapak terasa begitu keras mencengkram bahu.
?Bajingan kau, Dirgo!? Bapak ambruk bersamaan dengan kursi kayu yang menghantam kepalanya. Ia mengaduh kesakitan. Darah segar mengucur dari sela-sela rambutnya. Ibu telah berada di belakang tubuh bapak. Wajahnya memerah. Bahunya berguncang hebat menahan amarah. Tangannya mengepal-ngepal.
?Pelacur! Kamu …? Dalam erangan kesakitan mulutnya masih merapalkan hinaan.
?Kau boleh menghinaku, tapi tidak akan kubiarkan kaurusak anak gadisku. Kau telah membuatku membunuh suamiku sendiri, sekarang aku pun tak akan segan-segan menghabisi nyawamu.? Ibu seperti kesurupan. Ia berlari ke dapur dan kembali dengan pisau berkilat. Dalam sekelebatan mata pisau itu menancap berulang dan merobek perut laki-laki itu hingga ususnya terburai.
Perkataan ibu seperti melemparku ke masa paling tragis. Memori belasan tahun seketika berkelindan. Di sebuah perkampungan yang masih sunyi. Gelak tawa dan desahan, kemudian berubah menjadi tragedi. Terdengar teriakan bapak, ketakutan ibu, juga benturan-benturan.
Degub jantungku bergemuruh. Ayah. Aku masih mengingatnya, saat leher ayah memercikkan darah begitu hebat, kelenting pisau di ubin dari tangan ibu, dan laki-laki tanpa sehelai benang berlindung di balik pintu.
Bapak, ayah, kedua laki-laki ibu tumpang tindih memenuhi otakku. Aku pun masih ingat saat darah ayah membanjiri jemariku. Ibu menutupi aibnya dengan menyebar berita palsu tentang sebuah perampokan. Tentang uang panen yang telah hilang.
Kini, di depanku, ibu menatapku dengan pisau di tangannya. Aku membalasnya tajam. Seketika pisau itu beralih ke perutnya sendiri bersamaan dengan lenguhan kesakitan. Ibu ambruk tepat di samping bapak.
Langkahku mendekati tubuh ibu. ?Ma-afkan ibu, Nak,? lirihnya. Tubuhnya terus menggelepar, lalu kurasakan napasnya berhenti hingga kebekuan menyelimuti seluruh relung hati.
Kini, kudapatkan cairan pengganti untuk botol kesayangan ibu. (**Raida Wardoyo ? Surakarta)
