Bernas.id – Sudah seminggu ini aku mengamati seorang perempuan yang menurutku aneh?sepanjang hari. Mulai pagi hingga senja, dia duduk di atas sebuah batu yang terletak di tengah Kali Widas. Rambutnya dibiarkan tergerai panjang sepinggang, menutupi separuh wajah. Rambut yang sebenarnya indah menurutku, tetapi sayang dia tidak merawatnya dengan baik. Terlihat kusam dan berantakan.
Perempuan itu lekat dengan pakaian kebaya hitam dan selembar kain jarik yang membalut kaki. Ada dua benda yang selalu dibawanya, cangkul dan celurit. Entah, apa kegunaan benda-benda itu.
Hal aneh yang aku tangkap adalah dia tidak pernah berbicara, meskipun hanya sepatah kata. Tak pernah pula menyapa orang-orang yang ada di Kali Widas. Atau mungkin sebaliknya: penduduk desa yang menganggap dia tidak penting.
Mungkinkah dia perempuan gila?
Pertanyaan itu sempat terlintas di benakku bukan tanpa sebab. Setiap kali aku melihatnya, tidak ada yang dia lakukan kecuali duduk sambil menunduk. Sesekali memainkan air dengan kakinya.
Kali Widas yang membelah Desa Kedung Pingit menjadi dua bagian bermata air di lereng Gunung Pandan. Aliran airnya jernih. Ketika tahun lalu musim kemarau panjang melanda, hingga beberapa daerah mengalami kesulitan air, Kali Widas justru tidak kering sedikit pun. Tidak salah jika orang-orang menjadikannya sebagai sumber kehidupan. Mulai kebutuhan rumah hingga pengairan ladang dan sawah.
***
Tidak seperti biasanya yang selalu ramai oleh orang-orang Kedung Pingit yang berduyun-duyun mengambil air, pagi ini Kali Widas sepi. Hanya ada aku dan perempuan itu.
Tumbuh rasa keingintahuan untuk bisa melihat wajah yang selama ini selalu tertutup rambut panjang itu. Aku mendekatinya. Dari jarak sekian meter, aku bisa menafsirkan usia perempuan itu sekitar 30 tahun.
Aku menyusun sebuah ide untuk menarik perhatiannya dengan menjatuhkan diri ke aliran Kali Widas.
“Aduh!” pekikku.
Perempuan itu menoleh ke arahku. Alih-alih menerima tatapan kasihan atau simpati, justru yang aku dapatkan adalah tatapan menyeramkan. Bola mata hitam pekat dengan sorot tajam seperti ujung belati. Membuat paru-paruku seperti berhenti bernapas. Tatapan mengancam yang sanggup membawa mata, mulut dan tanganku mengigil. Aku bisa menangkap pesan dari tatapan itu sedang melemparkan ancaman.
Mendadak perempuan itu mengambil celurit yang ada di sampingnya, menggenggam erat gagangnya sambil menatapku kian tajam. Sorot matanya memerah seperti burung elang yang siap menyambar anak ayam.
Aku tidak mau ambil risiko berhadapan dengan perempuan gila. Buru-buru aku meninggalkan Kali Widas. Meskipun seorang laki-laki yang tenaganya lebih kuat dari perempuan, tetapi melihat dia membawa senjata tajam, aku lebih memilih mengalah.
***
Malam-malam setelah kejadian di Kali Widas, tatapan mata penuh ancaman dari perempuan itu membuat tidurku tak pernah lelap. Selalu saja tatapan itu datang menjelma sebuah mimpi yang menakutkan.
Seperti halnya malam ini, kehadirannya dalam mimpi membuat aku terjaga dari tidur dengan kondisi tubuh basah kuyup oleh keringat dingin. Mimpi yang mengingatkan pula pada kebiasaan aneh perempuan itu. Perempuan pemilik wajah bulat, alis rapi dan tebal, dipadu dengan bibir yang tipis itu selalu pergi ke hutan Gunung Pandan, di pinggir Desa Kedung Pingit menjelang Magrib. Usai Subuh, dia baru tampak keluar meninggalkan hutan.
Pernah pula aku melihatnya lewat di depan rumah yang aku kontrak menjelang petang. Dia pergi dengan membawa karung goni yang diseret tangan kanan. Sementara tangan kirinya menenteng sebuah cangkul. Perempuan itu berjalan menuju hutan persis ketika suara lolongan anjing terdengar menandai datangnya malam.
Suara lolongan anjing memang bukan hal baru di sini. Bagi orang-orang Kedung Pingit, suara itu adalah lolongan anjing hutan biasa. Tetapi bagi pendatang seperti aku, lolongan panjang itu terdengar begitu menyayat hati, seperti sedang meratapi kematian seseorang. Suara lolongan beserta sosok perempuan itulah yang membuat aku selalu terjaga setiap tengah malam.
Bermula dari keanehan-keanehan yang aku lihat selama tinggal di Desa Kedung Pingit, muncul kenekadan untuk mengikuti perempuan itu dari belakang. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya dia lakukan setiap malam di tengah hutan.
“Mbok, tahu perempuan yang setiap hari duduk di Kali Widas dengan membawa celurit dan cangkul?” tanyaku kepada Mbok Sinah, pemilik warung makan di pojok Kedung Pingit.
“Iya. Ada apa dengan dia?” jawab Mbok Sinah dengan berbalas tanya.
“Aku penasaran saja, Mbok. Apa sebenarnya yang dia lakukan dengan pergi ke tengah hutan setiap petang. Sendirian pula,” lanjutku.
“Biarkan saja. Dia memang harus melakukan itu di sana,” sahut Mbok Sinah dengan memandangku penuh selidik.
Pernah juga suatu hari aku mengajukan pertanyaan kepada Mbah Soma?sesepuh Desa Kedung Pingit.
“Tak usah kau usik perempuan itu. Dia adalah penjaga ibu kami,” jelas Mbah Soma singkat.
Penjaga ibu kami? Siapa yang dimaksud ibu mereka?
Jawaban Mbah Soma justru beranak-pinak dengan pertanyaan demi pertanyaan di kepalaku.
Tak mau dihantam kecamuk badai kebingungan, setelah itu aku tidak pernah bertanya lagi kepada siapa pun tentang sosok perempuan itu dan tabiatnya.
?Jangan-jangan perempuan itu bukan saja gila. Tetapi dia juga seorang penganut sekte tertentu.?
Setiap kali teka-teki itu hadir kembali, nadiku terasa kencang berdenyut. Dadaku juga bergetar. Campur aduk antara penasaran, bingung, dan sedikit ketakutan. Apalagi jika mengingat penampilannya yang acak-acaan. Juga lolongan anjing yang seperti sengaja menyambut kedatangannya setiap kali memasuki hutan Gunung Pandan.
***
Azan magrib berkumandang. Orang-orang tampak berjalan menuju langgar desa. Anak-anak berlarian riang tawa, ibu-ibu bergerombol menyusul di belakangnya. Di antara mereka, ada beberapa orang yang sudah aku kenal. Salah satunya adalah Mbah Soma yang menyapaku dan mengajak ke langgar. Aku membalas dengan anggukan saja. Ada hal penting yang ingin aku lakukan petang ini. Iya, mencari jawaban atas segala teka-teki sejak aku tinggal di desa ini.
Lima belas menit kemudian, suara yang begitu aku kenal mulai terdengar. Suara orang yang sedang menyeret sesuatu.
Aku berpura-pura tidak melihatnya dengan menurunkan topi hingga setengah wajah tertutup. Dia melintas tepat di depanku, berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya. Ketika ia tampak semakin jauh, buru-buru aku mengikutinya dengan menjaga jarak.
Tepat di tepi hutan Gunung Pandan, terdengar suara lolongan anjing menyambut kedatangannya. Perempuan itu berhenti. Buru-buru aku akan bersembunyi di balik sebatang pohon. Beruntung jaket yang aku pakai berwarna hitam. Membuat keberadaanku menjadi lebih samar.
Gelap mulai merayapi semesta. Bayangan perempuan itu menjadi lebih sulit terlihat karena tertimpa siluet pohon-pohon tinggi berukuran besar di hutan Gunung Pandan. Gemerisik daun yang tertiup angin juga membuat suara langkahnya tak terdengar.
Aku merogoh saku jaket, mengambil senter dan menyalakannya untuk mencari keberadaan perempuan itu. Lampu senter aku arahkan ke segala penjuru.
Jantungku berdetak sedikit lebih kencang. Ketakutan mulai menggerayangi. Harusnya aku tidak mengumbar rasa penasaran dengan apa yang dilakukan perempuan itu dengan senekad ini. Toh dia tidak mengganggu aku selama melakukan penelitian di Kedung Pingit. Penyesalan mulai menyadarkan aku.
?Sial! Kini aku terjebak di hutan sendiri!?
Mendadak sorotan senterku menangkap sosok yang berjarak sekitar tiga meter dari tempatku berdiri. Meski hanya terlihat punggungnya saja, tetapi dari gerakan tubuhnya tampak jelas bahwa dia sedang mencangkul, membuat lubang di tanah.
Apa itu ritual yang dilakukannya? Mengubur sesuatu?
Rasa penasaran kini muncul lagi, mengalahkan rasa takut. Pelan-pelan aku berjalan mendekatinya sambil mematikan lampu senter. Aku atur langkah sepelan mungkin agar dia tidak tahu jika ada orang lain yang sudah berada di belakangnya.
Saat mengendap-endap itulah, tiba-tiba ada yang menerkamku dari belakang. Aku tak sempat mengelak. Ia mengoyak jaketku dengan gigi-gigi taring yang tajam. Aku berusaha melawan dengan memukulnya, tetapi ia semakin kuat menggigit.
“Centini!” teriak perempuan itu.
“Centini!” teriaknya lagi. Kini anjing yang menyerangku melepaskan cengkamannya.
Perempuan itu mengulurkan tangan kepadaku. Segera aku meraihnya, kemudian berdiri kembali. Sesaat kemudian, dia berjalan menjauh. Aku mengikutinya dari belakang.
Perempuan itu kembali meneruskan ayunan-ayunan cangkul yang tadi sempat tertunda karena menolongku. Setelah tercipta sebuah lubang, dia mengeluarkan sesuatu dari karung goni. Ternyata karung yang selama ini selalu diseretnya berisi batang-batang tunas pohon berukuran dua jengkal.
“Aku tahu, kamu adalah orang kota yang sedang melakukan penelitian di hutan ini. Meskipun aku orang desa, tetapi tidak bodoh. Telah banyak orang kota datang ke desa kami dengan tujuan sama. Mengubah hutan ini seperti yang mereka inginkan,” ucapnya.
Aku tidak mengerti maksud ucapan perempuan itu.
“Bagi mereka hutan ini adalah tambang uang. Namun bagi orang-orang Kedung Pingit, hutan ini adalah ibu kami. Ia yang memberikan kami air dan makanan. Orang-orang kotalah yang rakus tidak mau mengerti ibu kami. Mereka hanya menjual omong kosong dengan dalih untuk kebaikan banyak manusia. Mereka berkata ingin menata sumber air ini. Kami tahu, setelah mereka tata, kami diharuskan membayar setiap tetes air yang berasal dari ibu kami sendiri. Air dari hutan ini!” jelas perempuan itu.
“Setiap malam aku selalu ke hutan untuk melakukan tugas ini. Sebab jika siang hari, aku malas berurusan dengan orang-orang sepertimu. Hutan ini sudah habis ditebang oleh mereka yang rakus. Mereka tidak tahu bahwa mata air di hutan ini serupa air susu ibu. Air Kali Widas yang tidak pernah habis itu bermula di sini,” lanjutnya dengan suara berat.
Mendadak aku merasa seperti sedang ditelanjangi. Mendadak pula berlintasan bayangan berkas-berkas yang ada di rumah kontrakan tentang penelitian sumber daya hutan dan air yang ada Gunung Pandan ini.
Seekor anjing mendatangi kami. Mengendus tubuhku. Anjing yang tadi menyerang dengan brutal.
“Ia anjing penghuni hutan Gunung Pandan. Bersamanya, aku dianggap menjadi penjaga hutan. Meskipun aku tak pernah merasa seperti itu. Centini anjing betina yang punya pendengaran dan penciuman tajam. Ia akan melolong jika mengetahui ada manusia yang masuk ke hutan. Menyerang jika orang itu melakukan tindakan yang menurutnya tidak benar.”
Perempuan itu mengusap-usap kepala anjing yang sempat menyerangku.
Aku memberanikan diri menjabat tangan perempuan penjaga hutan itu, “Siapa namamu?”
“Centini.”
Dadaku mendadak bergetar mendengar nama itu.
Sontak aku menoleh ke sekeliling, mencari keberadaan anjing hutan yang tadi dipanggil perempuan itu dengan nama yang sama. Tetapi nihil. Keberadaan binatang itu seperti tiba-tiba lenyap di telan kegelapan belantara Gunung Pandan. Dadaku kembali bergetar semakin hebat. (*Ni Santi Santiago ? Denpasar)
