YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Saat ini, generasi milenial tak mempersoalkan terkait luas atau sempitnya untuk rumah mereka. Untuk itu, generasi milenial cocok untuk memiliki rumah murah bersubsidi dari Pemerintah dengan tipe 36 seharga Rp150 jutaan. Kualitasnya pun dijamin Pemerintah.
Ketua DPD REI DIY Ilham Muhammad Nur menyampaikan, generasi milenial saat ini banyak membeli rumah di bawah harga Rp500 juta. Bahkan jumlahnya mencapai 50 persen dari keseluruhan konsumen yang membeli rumah pada para pengembang anggota REI DIY.
“Angka (pembeli milenial-red) di bawah Rp500 juta, itu banyak. Ada dua kriteria, dia memang beli karena kemampuan sendiri sesuai dengan pekerjaannya atau dia didukung oleh keluarga dengan uang muka,” jelasnya, Kamis (11/2/2021).
Ia mengatakan milenial yang membeli hunian angkanya terus naik dari tahun ke tahun. Lanjutnya, milenial yang membeli hunian ini berusia sekitar 35-40 tahun.
Untuk hunian yang cocok bagi milenial di perkotaan, Ilham menyebut yang paling tepat itu rumah vertikal seperti apartemen atau rusunami. “Kalau di Yogyakarta, untuk anggota REI itu ada yang membangun di wilayah Janti, Babarsari, pinggir Jalan Solo dan di kawasan Jalan Palagan Tentara Pelajar, Sleman dengan harga Rp500 jutaan,” terangnya.
Ia juga menyampaikan rumah tapak sebenarnya juga cocok untuk generasi milenial yang harganya Rp500 juta ke bawah.
Untuk program hunian dari Pemerintah, Ilham juga mengatakan rumah murah subsidi Pemerintah itu juga cocok untuk kalangan milenial. Biasanya, milenial yang sudah memiliki gaji tetap misal milenial PNS atau TNI/Polri. “Cocok, biasanya milenial yang punya background gaji tetap,” ucapnya
Ia pun menyebut rumah murah subsidi dari Pemerintah ini untuk 5 sampai 10 tahun ke depan memiliki prospek yang lebih bagus. Di tahun 2020, 200 unit rumah murah subsidi pemerintah dari pengembang Anggota REI DIY sudah terserap habis. “Milenial sekarang itu berpikir daripada mereka menyewa, sebagian gaji bisa diperuntukkan untuk mengangsur,” katanya.
Soal ukuran rumah bukan menjadi patokan kalangan, Ilham menyebut adanya faktor perubahan fungsi hunian karena sekarang milenial saat ini lebih mobile. “Cenderung semuanya serba minimalis, misal sekarang cukup tempat tidur,” ucapnya.
Suwarsono, Kepala Bidang Perumahan, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kabupaten Sleman mengatakan, pihaknya bertugas mengawasi pembangunan rumah subsidi agar layak fungsi. Hal itu dilakukan untuk menjamin rumah subsidi layak huni.
“Jadi, pemerintah itu punya kewajiban untuk memastikan bahwa masyarakat punya rumah dari pengembang itu sesuai kaidah teknis,” ujarnya.
Ia mengatakan tentunya pengawasan berdasarkan spesifikasi seperti dari sisi material, misalnya konsumen berhak mendapatkan ukuran besi yang ditawarkan pengembang sesuai spesifikasi. “Mengikuti standar esensi yang dibuat pemerintah, tidak bisa sembarangan, misal memakai besi di bawah standar,” katanya.
Untuk konsumen rumah murah bersubsidi Pemerintah, Suwarsono mengatakan, umumnya mereka yang usia produktif dan punya penghasilan karena yang mampu kredit. “Untuk harga sudah dipatok oleh Pemerintah, sekarang ini sekitar kisaran Rp150 juta dengan tipe 36,” katanya.
Ia pun menyampaikan program rumah murah subsidi Pemerintah ini sudah ada sejak empat tahun lalu. 'Untuk jumlah unit yang sudah dibangun tidak mengetahui secara pasti karena yang mengeluarkan ijin datanya ada di Dinas Perijinan dan Permodalan Sleman,” tuturnya. (jat)
