JAKARTA, BERNAS.ID – PDI Perjuangan menjadi salah satu partai atau bisa jadi partai politik yang belum menunjukan regenerasi. Sosok Megawati Soekarno Putri dianggap menjadi simbol pemersatu PDIP dengan membawa trah Soekarno.
Lalu apakah Mega akan tetap mempertahankan trah Soekarno untuk menggantikannya. Atau, akan ada calon lain seperti Budi Gunawan dan Joko Widodo?
Kalau kita simak, ada tiga anak Megawati Soekarnoputri yaitu Puan Maharani, Prananda Prabowo, dan Muhammad Rizky Pratama atau Tamtam.
Memang ketiga orang ini digadang-gadang jadi generasi penerus kepemimpinan Mega di PDI Perjuangan.
Pengamat politik Hendri Satrio menilai, kalau Megawati memilih penggantinya atau memaksakan serta memutuskan Ketum PDIP dari luar trah Soekarno agak riskan.
Salah satu yang dianggap mumpuni adalah Joko Widodo atau Jokowi. Namun, Hendri menilai agar Jokowi langgeng menjadi orang nomor satu di PDIP ia harus tetap menjabat sebagai kepala negara.
“Tapi mungkin saja Jokowi jadi ketum, asal masih menjabat sebagai presiden. Kalau tidak menjabat agak susah. Tapi opsi Jokowi menjadi ketum perlu dipertimbangkan banget,” ujar Hendri, Rabu (17/3/2021).
Lalu bagaiamana peluang tiga anak Mega. Hendri melihat Muhammad Rizky Pratama atau Tamtam, menjadi pilihan apabila ada perseteruan antara Puan dan Prananda.
“Kalau menurut saya Rizky Pratama, kalau kubu Puan dan Prananda berseteru. Tamtam bisa jadi jalan tengah, yang netral,” katanya.
Sementara itu, pengamat politik lainnya, Ujang Komaruddin menyatakan, regenerasi kepemimpinan di PDIP itu suatu keniscayaan. Karena tak mungkin juga Megawati menjadi Ketum PDIP seumur hidup. Megawati memang menjadi simbol persatuan dan kebesaran PDIP makanya selalu jadi Ketum.
“Jika regenerasi PDIP terjadi. Suka tidak suka, senang tidak senang, yang tua mesti memberi jalan pada yang muda. Jika regenerasinya jatuh ke BG atau Jokowi itu bukan regenerasi. Tapi sudah sama-sama tua,” tegasnya.
Namun jika kepemimpinan baru itu disematkan kepada yang muda itu bisa disebut regenerasi. Pilihannya mempersiapkan yang muda yang punya kapasitas untuk memimpin PDIP, baik dari trah Soekarno maupun bukan.
“Plusnya jika terjadi regenerasi, partai akan lebih progresif. Tak status quo. Minusnya, jika terjadi regenerasi PDIP akan rentan dengan perpecahan di internal. Megawati masih jadi sosok pemersatu, jika kepemimpiman dialihkan ke yang lain, bisa terjadi perpecahan. Karena di PDIP belum lahir sosok pemersatu yang lain,” pungkas Ujang. (fir)
