YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Yayasan Suluh Melayu Nusantara kini tengah mendirikan Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur'an Suluh Melayu, di kawasan Jalan Gambiran Yogyakarta. Pesantren ini bakal menjadi pesantren yang unik, karena memiliki koleksi terjemahan Al Qur'an dari berbagai bahasa, yang dimiliki yayasan tersebut.
Ada Al Qur'an terjemahan bahasa Mandarin, bahasa Champa (Kamboja), hingga bahasa Jerman. Dari khasanah Nusantara pun ada terjemahan Qur'an berbahasa Melayu dengan aksara Arab Gundul (Jawa Pegon) yang dimiliki.
Mahyuddin Al Mudra selaku pendiri pesantren menjelaskan, pesantren ini bakal mencetak tahfidz atau penghafal Al Qur'an yang handal. Pesantren bakal menampung 60 santri yang menginap. Ada yang membayar, dan ada yang tidak, dengan sistem subsidi silang. Tujuannya adalah turut menjaga eksistensi dan kemurnian Al Qur'an di dunia ini.
“Visi kami adalah mendirikan pesantren modern pencetak generasi Islam yang berjiwa Qur'ani, memiliki semangat enterpreneur, dan menguasai IPTEK serta berakhlaqul karimah,” katanya, Senin (19/4/2021).
Ia menerangkan, meski di masa pandemi, sejak tahun lalu pihaknya berhasil mengumpulkan dana dari pengusaha dan ulama di rumpun Asia Tenggara. Total terkumpul dana sebesar Rp 3,7 miliar untuk pembangunan gedung pesantren plus masjid, yang sudah dibelanjakan semua. Kini, bangunan dua lantai untuk pesantren sudah berhasil dibangun, disertai masjid yang bisa menampung 80 jamaah.
“Ada museum Al Qur'an berbagai bahasa, yang kini terus dilengkapi. Total ada 20-an (bahasa). Bukan kita membangun gedung museum khusus yang massif, tapi menjadi bagian dari pesantren. Jadi Quran berbagai bahasa itu dibaca, dihafalkan, dan diamalkan,” katanya.
Ia menambahkan, keinginannya mengumpulkan Al Qur'an berbagai bahasa didasari pengalaman tinggal di beberapa negara di Eropa. Rupanya ada banyak terjemahan Al Qur'an berbagai bahasa seperti Italia, Latin, Jerman, Rusia, dan sebagainya. Itulah yang membuatnya ingin mengumpulkan koleksi sendiri.
“Kami juga mulai mengumpulkan Al Qur'an berbahasa daerah (Nusantara) yang mulai diproduksi oleh Kemenag sejak 2019. Total ada 20 bahasa (daerah), tapi kami baru memiliki yang bahasa Jawa,” tandasnya. (den)
