Perempuan kelahiran Bandung yang membawa harum nama Yogyakarta lewat ajang pageant Puteri Indonesia. Mungkin hal ini adalah kalimat tepat untuk menggambarkan seorang Dilla. Kesan pertama yang tersirat ketika melihat perempuan yang satu ini adalah keanggunan. Dilla Fadiela, perempuan yang dinobatkan sebagai Puteri Indonesia Perdamaian 2018 ini, akan berbagi kisah seputar kemudahan dan kesulitan sebagai seorang Kartini muda di era digital.
Apa kabar kak Dilla?
Baik, sekarang sibuk di Jakarta saja.
Apa saja kegiatan dan kesibukan setelah mengemban tugas Puteri Indonesia Perdamaian 2018 beberapa waktu lalu?
Wah! saya rasa kalau kemarin itu banyak kegiatan, terutama kegiatan sosial dan terkait isu perdamaian. Saat ini sibuk sebagai seorang entrepreneur, travel blogger, mulai terjun di dunia entertain tetapi tetap menyebarkan perdamaian disosial media donk. Baru memberanikan diri juga untuk menjadi entrepreneur. Awalnya masih insecure.
Siapa yang memotivasi anda untuk mengambil langkah untuk menjadi entrepreneur?
Jujur awalnya masih insecure. Saya takut bikin produk tidak ada pasarnya, produknya berangkat dari rasa insecure terhadap diri sendiri soalnya. Takut nanti banyak yang berkomentar pedas disosial media. Akhirnya mencoba meyakinkan diri. Ibu, Saudara laki-laki dan keluarga saya terus memotivasi dan mendukung keputusan ini.
Menarik sekali, jika dilihat sekilas rasa insecure ini tak tampak dari seorang Dilla Fadiela. Bagaimana menurut anda?
Haha..kebanyakan dari kita pasti berpikir begitu. Padahal rasa insecure itu tidak pandang bulu. Bisa siapa saja yang mengalaminya. Sebagai manusia, kita pasti ada perasaan tersebut entah karena dicibir orang, mendapat bullying atau lainnya. Sebenarnya pada saat remaja, saya sering dikomentari tentang tinggi badan. Saya juga kesulitan mendapatkan celana yang pas dan sesuai panjang kaki. Hal ini membuat saya mantap membuat produk celana untuk menjawab keresahan teman-teman perempuan yang kasusnya sama dengan saya. Jadi bisa membantu mereka untuk lebih nyaman dan percaya diri.
Sangat menginspirasi, apakah itu salah satu cara anda untuk mendukung perdamaian sesama perempuan?
Bisa dibilang begitu. Saya rasa #womensupportwomen itu adalah kewajiban kita sebagai manusia. Ibu Kartini sudah banyak berjuang dan menghadiahkan kita untuk sampai titik ini. Dia adalah sumber motivasi diri untuk tak lagi insecure sebagai perempuan, apalagi saling menjatuhkan satu sama lain. Saya khawatir akhir-akhir ini sebenarnya.
Ketika kaum Laki-laki sudah mulai bergerak untuk mendukung perempuan, banyak sesama perempuan di luar saling menjatuhkan apalagi saat bersosial media. Berkomentar dengan bahasa yang tidak sepantasnya di kolom komentar siapa saja. Bisa jadi, hal tersebut jugalah yang membuat teman-teman perempuan lain insecure untuk melakukan banyak hal positif disosial media mereka. Sudah susah payah Kartini mendukung, masa kita mau terpuruk lagi dengan saling bully.

Saya sebenarnya sering dapat komentar buruk saat bersosial media, terutama dari sesama perempuan yang tidak mengenakkan hati. Dulu sering insecure dan down kalau melihat komentar-komentar ini. Saya balas atau kirim pesan menanyakan kesalahan saya pada mereka balasannya ya begitu-begitu lagi.
Akhirnya saya ubah energi ini dengan membuat campaign dan tagar #antihoax #stophatingstartloving #antibodyshaming dan banyak tagar positif bersosial media lainnya. Paling tidak saya tetap melakukan hal positif dan menyebar perdamaian lewat digital . Lambat laun saya merasa percaya diri kembali dan sudah kebal. Berkat energi positif dan motivasi keluarga dan teman-teman dekat saya juga sih.
Apa pesan dan motivasi anda terhadap Kartini muda di era digital ini?
Pesan saya untuk semua perempuan Indonesia, Kartini telah memperjuangkan emansipasi dan kemerdekaan kita. Terimalah diri anda secara utuh, baik kekurangan maupun kelebihan. Ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan mengurangi rasa insecure. Beranilah dan bertanggung jawablah atas pilihan anda.
Kartini memang telah memperjuangkan kebebasan, bukan berarti mulut, pikiran, dan tangan bebas juga untuk memberikan cacian terhadap orang lain lewat sosial media. Bijaklah dalam bersosial media dengan cara, berpikir terlebih dahulu untuk setiap reaksi yang akan anda berikan. Mulailah motivasi dan dukunglah teman. Berkompetisilah, itu hal yang baik, tetapi jangan lupa pula ciptakan perdamaian. Dengan demikian energi positif ini akan menular dan semakin banyak perempuan berani yang percaya diri. Selamat hari Kartini Perempuan Indonesia, perjuangan kita belum selesai.
