Aryo Wiryawan, adalah CEO dari PT.Indmira dan seorang founder startup bernama Jala. Pertama kali melihat beliau mungkin akan merasa segan dan canggung. Namun, tidak demikian ketika mewawancarai narasumber yang satu ini. Aryo Wiryawan, seseorang yang sangat ramah dan terbuka. Simak saja percakapan tim Bernas.id kali ini.
Apa kabar Pak Aryo? Boleh bercerita sedikit tentang profil anda?
Baik, halo pembaca Bernas.id, nama saya Aryo Wiryawan. Saya adalah CEO dari Indmira grup serta founder startup Jala. Saya memimpin sejak tahun 2008 meskipun perusahaan ini telah berdiri sejak 1996.
Dapatkah anda jelaskan tentang Indmira?
Indmira adalah grup perusahaan yang bergerak di bidang sustainable food production.
Apa dan seberapa penting sustainable food production?
Baik, mungkin saya akan jelaskan kenapa dan mengapa sustainable food production begitu penting. Bicara tentang sistem pangan berkelanjutan dunia, tidak akan lepas dengan populasi yang terus bertambah. Data dari PBB mengatakan tahun 2045, akan ketambahan sekitar 2,5 Miliar penduduk dunia. Jumlah ini tentu saja butuh bahan pangan. Ketika bumi ini penuh dengan manusia, maka semakin besar konsumsi, semakin besar pula potensi untuk merusak alam. Jika kita tetap menggunakan cara lama yang merusak alam, bersiaplah kelaparan untuk kita dan 2,5 Miliar tadi. Itu sebabnya sistem pangan berkelanjutan atau sustainable food production penting.
Keresahan seperti apa yang anda rasakan terkait pangan berkelanjutan saat ini?
Saya selalu lihat polanya. Kita dapat melihat beberapa puluh tahun ke belakang, kemudian mempelajarinya untuk memprediksi masa depan. Nah, terlihat bahwa produktivitas pangan itu menurun, terutama untuk negara-negara produsen pangan ketiga seperti Indonesia. Seperti padi, sejak kecil hingga saat ini adakah perbedaan cara menanam padi?
Setau saya begitu-begitu saja. Tidak berinovasi. Hal ini akan menyebabkan produksinya tidak meningkat atau malah menurun. Berarti jika nanti kita ketambahan banyak jumlah manusia, kita terpaksa membuka lahan terus-menerus untuk produksi pangan. Inilah yang membuat saya resah sekarang.
Harusnya kita bisa menanam di lahan yang sama, hanya saja produksinya yang ditingkatkan. Katakanlah satu petak sawah dapat memproduksi makanan untuk 5 orang, kita jadikan produksi dua kali lipat di lahan yang sama. Dengan begini kita dapat menyeimbangkan kelestarian alam, ekosistem dan dapat tetap memproduksi pangan berkelanjutan secara maksimal.
Hal apa saja yang dapat kita usahakan untuk menjaga pangan berkelanjutan saat ini?
Salah satu cara yang dapat digunakan adalah menanam dengan metode Intensifikasi. Intensifikasi adalah meningkatkan produksi pangan. Metode ini bisa dengan macam-macam cara. Salah satunya, menggunakan pupuk yang benar. Cara lainnya adalah bertanam secara vertikal atau verticultur. Kita dapat membuat cara tanam bertingkat untuk meningkatkan jumlah produksinya. Dengan lahan kecil kita dapat menghasilkan jumlah pangan yang besar.
Dapatkah anda memberikan saran bagi pembaca di rumah jika ingin menanam di rumah?
Untuk pembaca bernas.id, terutama anak muda. Anda dapat menanam bahan pangan sendiri di rumah. Jika anda tinggal diperumahan kecil, apartemen, atau kos dan merasa tidak mungkin untuk menanam bahan pangan. Tenang saja, menanam tetap dapat dilakukan. Saya pernah membuat campaign namanya menanam 1m x 1m. Gerakan ini dilakukan untuk mengajak teman-teman menanam di rumah atau lahan sempit.
Saya yakin anda memiliki lahan 1m x 1m. Tanamlah tumbuhan yang dapat dikonsumsi seperti Selada, Kangkung, Daun bawang, Sawi, Cabai dan tanaman yang mudah tumbuh lainnya. Anda dapat menggunakan pipa atau bambu. Agar menghasilkannya dengan banyak, buatlah wadah bertanamnya bertingkat. Dengan begini tak ada alasan lagi untuk tidak bertanam di rumah. Lebih baik lagi jika dibawah tanaman tersebut ada wadah untuk memelihara ikan seperti Nila. Sirkulasi akan lebih baik dan tanaman akan tumbuh dengan maksimal. Selamat mencoba di rumah.
