JAKARTA, HarianBernas.com — Bagaimana rasanya sekujur badan patah dan remuk karena kecelakaan pesawat? Sangat ngeri membayangkannya. Laura Lazarus, mantan pramugari Lion Air, menceritakannya secara detail bagaimana ia harus mengalami hidup cacat dan harus dioperasi 17 kali karena kecelakaan pesawat di Solo 10 tahun lalu.
Kehidupan masa kecil Laura Lazarus tidak seindah yang dapat dialami anak-anak kecil lainnya. Banyak yang mengira ia menikmati masa-masa yang baik, tetapi itu jauh dari kenyataan yang ia jalani.
Sejak kecil Laura Lazarus mengalami banyak sekali hal yang tidak menyenangkan mulai dari perkataan, pukulan, intimidasi baik dari keluarga sendiri maupun lingkungan sekitar. Perasaan minder dan rasa tertekan membuat Laura tumbuh menjadi seorang gadis yang tomboy, tidak bersahabat dengan orang tua, dan tidak puas dengan keadaan. Bahkan hal ternekad pun, mengakhiri hidup, sudah dilakukan sebagai protes kepada keadaan, orangtua, dan orang-orang di sekitar.
Baca juga: Bagaimana Menuliskan Biodata Narasi yang Berkesan bagi Penulis Pemula
Keadaan yang tidak mengenakkan itu terus berlangsung sehingga membuat Laura Lazarus bertekad untuk hidup mandiri dengan mengejar cita-cita untuk menjadi pramugari. Sampai akhirnya kesempatan itu datang dengan proses yang cukup panjang dan berat yang jauh dari dugaan sebelumnya. Laura diterima menjadi Pramugari di salah satu perusahaan penerbangan swasta di Indonesia. Singkat cerita, Laura akhirnya mulai merasa mampu dan mengandalkan diri sendiri. Ia merasa bebas dan tidak ada lagi yang bisa mengekangnya. Kehidupan Laura Lazarus saat menjadi pramugari pun glamor dan mewah. Ia mulai lupa diri dan lupa akan tujuan semula sebagai pramugari.
Suatu ketika peristiwa itu terjadi, sebuah kecelakaan di Palembang pada pertengahan 2004. Kecelakaan yang membuat Laura Lazarus sedikit tersadar dan mulai merasakan kehampaan dalam hidup. Keinginan untuk mengakhiri hidup saat itu sangat kuat dalam batin Laura, namun niat itu belum sempat ia lakukan.
Musibah itu pun terulang. Sebuah kecelakaan besar menimpa di Solo, November 2004. Pesawat yang dia naiki mengalami kecelakaan saat mendarat, dan berhenti di atas kuburan, di bawah guyuran hujan yang lebat. Peristiwa nahas kali ini bukan hanya mengagetkannya saja, melainkan juga membuat mata terbuka. Captain, engineer, dan tiga puluh satu penumpang meninggal. Bahkan teman baik Laura yang duduk di sebelah tewas seketika dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Laura melihat semua kejadian itu dengan mata kepala sendiri dalam waktu beberapa detik saja. Keadaan Laura pun tidak jauh lebih baik dari penumpang yang selamat.
Tulang pipi Laura sebelah kanan remuk dan dagingnya tercabik, pundak sebelah kanan bergeser dari pangkalnya, pinggang patah, dan tulang betis kanan patah membuat dagingnya tercabik parah. Laura ditemukan di enam jam setelah kecelakaan terjadi dan ia sempat ditumpuk bersama mayat-mayat yang lain karena dikira sudah meninggal.
Baca juga: Teks Eksplanasi Adalah Kalimat Penjelasan, Benarkah? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya!
Lewat perjalanan yang panjang dan menyakitkan, akhirnya Laura Lazarus dipindahkan dari Solo ke Singapura mengingat kondisinya yang sangat buruk saat itu. Laura menjalani 17 kali operasi, operasi wajah, pencangkokan daging dari bagian-bagian tubuh, dan juga operasi pemotongan dan penyambungan tulang di kaki kanan.
Bangkit, kembali terbang
Sekarang Laura dapat menjalani hidup, hanya oleh karena anugerah Tuhan semata. Sekarang ia sadar bahwa ia memerlukan Tuhan dalam segala aspek kehidupannya. Laura mendapatkan sukacita dan kekuatan ekstra untuk menjalani hari-hari.
Tidak pantang menyerah untuk melanjutkan kariernya. Laura saat ini menjadi seorang speaker, author, dan owner dari perusahaan penerbitan buku Growing Publishing. Berawal dari menulis buku dan ia merasa sebenarnya ia sendiri juga tidak bisa untuk menulis buku. Namun, berkat semangat dan juga nazar yang ia katakan kepada Tuhan, “Bapa… jika Engkau mengijinkan kakiku tidak diamputasi, maka dimanapun aku melangkah aku akan menceritakan kebaikan-MU” dan terbukti Bapa memegang janji-NYA. Dan tidak lupa juga berkat dukungan yang diberikan dari keluarga dan juga bantuan dari sahabat-sahabat Laura hingga akhirnya terbitlah buku “Unbroken Wings” di tahun 2008.
Di Tahun 2013 Laura kembali lagi mengalami retak tulang kaki di bagian kaki di tulang yang sama. Namun dengan keadaan tersebut tidaklah mengecilkan hati Laura. lewat perenungan, serta waktu yang banyak untuk berdiam diri untuk berdoa akhirnya Laura memberanikan diri untuk membantu orang lain yang ingin membuat serta menerbitkan bukunya melalui Growing Publishing.
“Saya belajar menjadi seorang speaker, author, dan owner dari perusahaan penerbitan buku Growing Publishing di Universitas Kehidupan semuanya dapat dipelajari dengan Learning by doing.” jelasnya. Bagi dirinya, kembali mengingat beberapa tahun silam kehidupannya hanyalah karena anugerah dari Tuhan. Ketika ia menunggu kabar dari perusahaan yang tidak berujung dari tahun demi tahun hingga sekarang kabar mengenai status kepegawaian tidaklah ada kejelasan.
Laura memiliki tujuan ingin membawa hasil karya penulis Indonesia untuk dikenal di mancanegara. Ia biasanya diundang untuk menjadi pembicara di berbagai seminar dan di tahun 2016 bersama sahabat mulai memberanikan diri untuk membuka seminar menulis.
Baca juga: Tiga Langkah Mudah Menyusun Biodata Penulis untuk Pengajuan Naskah ke Penerbit
Kesuksesan Laura Lazarus meningkat sangat jauh seperti menaikin tangga, selangkah demi selangkah namun pasti. Sampai sekarang jika menengok ke belakang, mungkin jika masih menjadi pramugari kehidupan dan kesuksesan Laura tidak akan sepesat ini. Laura tidak bisa menyebutkan satu-persatu kesuksesannya, karena menurutnya kesuksesan itu relatif, tergantung bagaimana cara pandang orang. Entah itu harta, keluarga, dan lain-lain.
Laura membantu adik kuliah hingga selesai padahal ia sendiri belum kuliah dan baru akan kuliah di bulan Agustus 2016 silam. Ia juga bisa memiliki rumah dan kendaraan pribadi di usia 23 tahun.
Apakah ini masuk dalam kategori sukses? “Bagi saya, kegagalan hanya merupakan kerikil-kerikil kecil dalam perjalanan yang harus dilalui, namun semuanya kembali kepada keputusan, apakah mau berdiam diri saja di tempat kita jatuh atau berdiri dan berjalan, lalu kemudian berlari.” tambahnya.
Laura berkontribusi melalui penulisan yang akan meningkatkan minat baca dan melahirkan penulis-penulis Indonesia yang berkualitas. Lewat membaca orang akan banyak belajar daripada teguran akan membuat orang sakit hati. Beberapa buku yang sudah ia buat, antara lain buku pribadi Unbroken Wings, Kazoku, dan Unbroken Love.
Tantangan terberat Laura adalah mendisiplinkan diri sendiri dan jangan pernah berhenti untuk mencoba.
Biodata
Nama: Lim Laura Lazarus
Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 25 Maret 1985
Hobi: membaca, menulis, kuliner, nyanyi, jalan-jalan, memasak
Buku: Alkitab dan buku-buku pengembangan diri dan buku auto biography, karena lebih baik belajar dari pengalaman dan kesalahan orang lain dari pada mengalaminya sendiri
Tokoh: Tuhan Yesus, My Mom, dan Mother Teresa. Lewat Mother Teresa saya belajar, “Hal sekecil apapun yang dilakukan dengan tulus, suatu hari hal itu akan berbalik kembali padamu.”
Komunitas: Komunitas writer dan memasak
Usaha: Percetakan & Penerbitan buku Growing Publishing
Baca juga: Teks Deskriptif: Definisi, Struktur Umum, Jenis dan Contohnya
