Bernas.id – PT Unilever Indonesia selama 5 tahun terakhir telah menyumbang penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hari ini, Kamis (6/5/2021) harga saham Unilever (UNVR) kembali mencatat penurunan pada level Rp5.550. Penurunan saham UNVR anjok hingga 37,5% sejak 13 Mei 2016 dari harga Rp8.880/saham.
Kondisi level UNVR yang kian ambrol ini membuat investor tampaknya mulai menarik diri dari saham yang dulunya terkenal sebagai emiten tahan banting saat ekonomi nasional sedang lesu.
Dalam sepekan terakhir sejak 30 April 2021, harga UNVR terus saja merosot hingga 7,5% dari harga Rp6.000. Sedangkan jika dibandingkan dengan level harga satu bulan sebelumnya, UNVR masih loyo dengan penurunan mencapai 14,94% yang waktu masih berada di level Rp6.525.
Baca juga:
- IHSG Kembali Melemah Hari Ini, BBRI dan BBCA Tetap Jadi Incaran Investor Asing.
- Saham ANTM Aneka Tambang Layak untuk Dibeli (Buy) di 2021, Ini Analisisnya!
- Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Berpotensi Menguat, Ini Penyebabnya!
Meskipun kemarin ditutup di level Rp5.575 dan sempat menguat 25 poin, hari ini UNVR kembali merosot di harga Rp5.550 sore hari. Ini membuat UNVR menjadi saham 'ambles' alias boncos baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Hasil Stock Split UNVR Terjun Bebas
Awal tahun 2021 lalu, Unilever sempat melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split) pada rasio 5 : 1. Dengan adanya stock split ini, saham UNVR memiliki nilai 5 kali lebih rendah.
Dilansir dari cnbcindonesia.com, sebelum melakukan stock split, harga UNVR berada pada level Rp42.000/saham minggu terakhir Desember 2019. Sedangkan pada awal tahun 2020, nilai saham produsen pasta gigi Pepsodent ini menjadi Rp8.400/saham.
Harapan peningkatan terjadi peningkatan harga saham pun kandas pasca stock split dilakukan. Level harga saham tertinggi UNVR tercatat pada tanggal 3 Januari 2020 yakni Rp8.575/saham. Level yang sama juga terjadi pada tanggal 5 Mei 2020.
Sayangnya, lambat laun harga stock split Rp8.400 pun ditinggalkan oleh UNVR. Bahkan saat ini, saham Unilever Indonesia mencatat level terendah yakni Rp5.550.
Sebagai perusahaan raksasa, dalam 5 tahun terakhir UNVR berhasil menunjukkan kinerja keuangan yang positif. Hanya saja, laba bersih Unilever terus tertekan dalam 2 tahun belakangan ini.
Pada tahun 2019, UNVR berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp7,39 triliun. Namun, laba bersih UNVR mulai surut tahun 2020 yang mencatat laba menjadi Rp7,16 triliun atau turun sebesar 3,11%. Baik laba tahun 2019 maupun 2020 tersebut tidak sebanding dengan laba bersih sebesar Rp9,11 yang dihasilkan oleh UNVR pada tahun 2018.
Baca juga: Investasi Rumah Jogja Murah Desain 2 Lantai dengan DP 10 Persen Angsuran 2 Jutaan.
Meninjau Permasalahan Penurunan Saham Unilever (UNVR)
Permasalahan UNVR sebenarnya bukan disebabkan oleh faktor kinerja perusahaannya. Perusahaan ini memiliki produk-produk yang terbukti hingga saat ini masih terserap pasar domestik dengan baik.
Produk-produk customer goods seperti es krim Walls, deterjen Rinso, pasta gigi Pepsodent, hingga sabun mandi Lifebuoy masih menjadi pilihan utama konsumen Indonesia. Produk-produk terkenal dari Unilever terbukti menghasilkan konsumen yang loyal.
Sementara itu, bila dinilai dari tata kelola perusahaan atau good corporate governcance (GCG) UNVR cenderung baik. Perseroan ternama ini secara langsung dikelola oleh group Unilever International melalui holding milikinya di Indonesia. Pada poin ini, investor sudah tidak lagi meragukan kepiawaian Unilever dalam mengelola perusahaan.
Lebih dari itu, UNVR mampu mencetak return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) terbesar di Bursa Efek Indonesia. UNVR masih unggul dibandingkan dengan ROA dan ROE dari semua emiten lainnya di Indonesia.
Perusahaan lain umumnya berhasil mencatat ROE berkisar belasan persen. Lebih dari rata-rata emiten lain, ROA UNVR mampu mencapai 34,8%. Bahkan, angka ini dapat menggelembung hingga 145,09% jika menggunakan imbal hasil ROE atau ekuitas.
Permasalahan anjolknya saham UNVR lebih disebabkan kepada arah tren ekonomi tahun 2021. Tahun ini dinilai menjadi masa pemulihan ekonomi pasca wabah pandemi Covid-19 melanda dunia.
Baca juga: Investasi Tanah di Jonggol Siap Terima SHM Hanya Rp60 jutaan.
Investor mulai melirik sektor selain consumer goods ke sektor strategis lainnya. Secara logika, UNVR akan kuat meskipun sahamnya merosot disebabkan produk-produknya selalu dibutuhkan oleh masyarakat sehari-hari. Hanya saja, perkembangan UNVR yang masih seperti ini, saham ini pun kurang dilirik oleh para investor saham yang menginginkan imbal hasil yang lebih besar.
