SLEMAN, BERNAS.ID – Sejumlah pihak memprediksi adanya kenaikan jumlah Covid-19 pasca libur Lebaran. Hal itu disebabkan karena interaksi dan mobilitas yang tinggi dari masyarakat untuk bersilaturahmi.
Epidemiolog, Riris Andono menyebut hal yang wajar kalau terjadi peningkatan mobilitas dan interaksi saat Lebaran. Namun, menurutnya, hal yang paling penting, apakah pemerintah daerah, berhasil mengurangi interaksi masyarakat di dalam wilayahnya selama Lebaran.
“Semakin tinggi mobilitas dalam kota maka dampaknya kasus akan semakin meningkat,” ujarnya, Rabu (19/5/2021).
Untuk itu, Riris menekankan hal yang penting disiapkan, yaitu sistem kesehatan saat ini. “Satu dua minggu ke depan, kemungkinan akan ada peningkatan kasus. Maka, shelter, ruang isolasi, dan kamar rumah sakit, kapasitasnya ditingkatkan untuk antisipasi peningkatan kasus,” katanya.
Penyebab kenaikan kasus, Riris menyebut di dalam tradisi Lebaran biasanya ada kegiatan halal bi halal, kunjungan ke para tetangga, atau reuni. “Karena bertemu teman dekat, di sinilah interaksi akan terjadi dengan lebih cair. Ada kecenderungan kontak erat dan tidak memakai masker. Ingat virus itu tidak jalan, yang membawa ke mana-mana itu manusia,” bebernya.
Baca juga : Masih Pandemi Shelter Asrama Haji Sleman Diistirahatkan Sebulan? Ini Alasannya
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo menampik status zona merah Sleman seperti yang diumumkan BNBP. Ia menganggap berdasarkan kajian Dinas Kesehatan, Kabupaten Sleman sudah masuk zona oranye sejak 14 hari yang lalu.
“Berdasarkan kajian kita, sejak 3 Mei atau sudah 14 hari berstatus zona oranye dengan 0,7 angka reproduksi. Hal itu ditentukan dari kasus baru, kasus meninggal, dan kasus sembuh. Seminggu kondisinya seperti itu terus, kita akan menjadi kuning,” ujarnya.
Untuk lonjakan kasus positif pasca Lebaran, Joko menyebut akan terlihat dalam 7 hari setelah tanggal 12 Mei, awal libur Lebaran. “Sekitar 5 sampai 7 hari setelah tanggal 12 menjadi masa inkubasi, nanti baru akan terlihat kasusnya kalau akan meningkat. Harapannya tidak terjadi, tapi kita harus antisipasi,” jelasnya.
“Kita sudah komunikasi dan koordinasi dengan semua rumah sakit sehari sebelum Lebaran. Yang penting tidak ada pengalihan bangsal isolasi Covid-19 menjadi bangsal biasa dulu,” imbuhnya.
Joko pun memaklumi bangsal isolasi yang dibiarkan kosong dan lama tidak dipakai, akan membuat cashflow rumah sakit terganggu. Namun, respon dari semua rumah sakit telah sepakat bahwa tidak masalah untuk antisipasi lonjakan kasus setelah mudik.
“Saat ini, masih sama 56 untuk jumlah bed critical dan bed noncritical kurang lebih 500-an,” katanya.
Ia juga menginformasikan Asrama Haji sudah mulai diaktifkan kembali. “Ada informasi pelaksanaan ibadah haji, beberapa hari ini sempat kita tutup Asrama Haji. Namun, karena tidak ada kejelasan pelaksanaan ibadah haji, kita minta ijin lagi untuk digunakan sebagai shelter,” katanya.
Setelah renovasi dan pemeliharaan, Joko menyebut Asrama Haji meningkat kapasitasnya dari 112 kamar menjadi 120 kamar. “Rusun Gemawang, kita juga akan maksimalkan jika nanti terjadi lonjakan,” pungkasnya. (jat)
