YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Konflik Israel-Palestina bermula dari perebutan Yerusalem, sebuah wilayah yang dianggap sebagai kota suci untuk tiga agama samawi.
Agama bukan sekadar sistem keyakinan saja, melainkan telah terdapat faktor formatif dari sebuah identitas personal maupun kelompok yang turut membentuk identitas etnis.
Di Yerusalem, identitas keagamaan melekat kuat dalam masing-masing komunitas agama, yakni Yahudi, Islam, dan Kristen.
Di Yerusalem pula, situs-situs suci yang berhubungan dengan ketiga agama tersebut juga tersimpan. Hal itu pula yang lantas menyebabkan masing-masing komunitas agama mengklaim Yerusalem sebagai hak milik mereka.
Tak ayal, klaim tersebut akhirnya menimbulkan konflik berkepanjangan yang turut mengiringi perjalanan sejarah di Yerusalem.
Sejarah Perebutan Yerusalem
Tertuang dalam Ensiklopedia Britannica, sejak awal abad ke-20, Yerusalem telah menjadi pusat konflik antara Zionis dan bangsa Arab di Palestina. Konflik yang terjadi seringkali melibatkan kekerasan dan pertumpahan darah.
Entah sudah berapa banyak nyawa dikorbankan dalam perseteruan ini, namun perdamaian di antara keduanya masih terasa jauh.
PBB pernah mendeklarasikan Yerusalem sebagai corpus separatum atau kesatuan hak yang terpisah untuk menghindari lebih lanjut. Upaya tersebut nyatanya sia-sia.
Tahun 1948 terjadi “Perang Kemerdekaan” antara Arab-Israel yang membuat Yerussalem terpisah menjadi dua wilayah, Yerusalem Barat yang diakui sebagai milik Israel dan Yerusalem Timur yang merupakan sektor Yordania.
Baca juga: Sejarah Bangsa Israel, Mulai dari Kisah Bapak Para Nabi hingga Eksodus di Padang Tiih
Perebutan hak milik atas Yerusalem pun masih terjadi. Pada 1967,Israel kembali menguasai Yerusalem Timur dan West Bank.
Meskipun tindakan tersebut sempat dikecam PBB, Israel menegaskan kembali kedudukan Yerusalem sebagai ibukotanya dengan memberlakukan undang-undang khusus pada tahun 1980.
Hingga saat ini status kota tersebut masih menjadi topik perselisihan utama antara Israel dan orang Arab Palestina, yang mengklaim Timur Yerusalem sebagai ibu kota negara Palestina masa depan.
Asal-Usul Nama Yerusalem
Membahas sengketa yang terjadi atas tanah suci ini, tak lengkap rasanya tanpa mengetahui asal-usul namanya. Menurut penelitian Ajat Sudrajat yang diterbitkan dalam Jurnal Sejarah dan Budaya pada 2009, ada beberapa versi mengenai asa mula nama Yerussalem.
Ahli sejarah dari Arab dan Barat menyebut nama Jerussalem berasal dari kata “Jebus”, yang meruapan salah sana nama dari rumpung bangsa Kan’an, dan “Salem” yang merupakan nama Tuhan paling tinggi.
Catatan Mesir dari tahun 1900 hingga 1800 SM juga menyebut adanya dua puluh negeri dan tiga puluh pangeran.
Di antara negeri tersebut tercantum nama Urusalin yang dalam perkembangannya menjadi nama Jerushalayim atau kota perdamaian.
Sementara itu, dalam Bahasa Arab Jerussalem dikenal dengan nama al-Quds atau al-Muqaddas, yang berarti Kota Suci.
Keistimewaan Yerusalem
Yerusalem memainkan peran sentral dalam perspektif spiritual dan emosional dari tiga agama samawi di dunia ini.
Bagi kaum Yahudi, Yerusalem dianggap sebagai fondasi penciptaan dunia sekaligus tempat lahirnya Abraham, yang sosoknya berperan besar bagi leluhur bangsa Yahudi.
Di kota tersebut juga terdapat Ruang Maha Kudus atau Dome of the Rock yang merupakan situs suci agama Yahudi.
Sementara itu, umat Kristen percaya bahwa Yerusalem merupakan tempat penderitaan dan kemenangan Yesus, Sang Jurus Selamat mereka.
Bagi umat islam, Yerusalem merupakan salah satu kota tujuan yang menjadi perjalanan spiritual Nabi Muhammad yang dinamakan Isra Mi’raj.
Di kota tersebut juga berdiri Masjid al-Aqsa yang diyakini sebagai lokasi Nabi Muhammad melakukan sembahyang bersama roh seluruh nabi.
Dome of the rock juga dipercaya orang islam sebagai pijakan pertama Nabi Muhammad saat melakukan Mi’raj atau perjalanan ke langit ke tujuh.
Karena diakui dalam banyak tradisi dan sejarah inilah, UNESCO menetapkan Yerussalem sebagai situs warisan dunia di tahun 1981.
