Bernas.id – Rumah-rumah adat dari Indonesia memang selalu berhasil memikat perhatian, salah satunya adalah rumah adat Lampung. Tidak hanya unik dan menarik, hunian-hunian tradisional tersebut juga fungsional serta memiliki filosofi mendalam. Meskipun dibangun dari kayu dan material alami lainnya, nyatanya bangunan-bangunan semacam itu cenderung lebih kokoh dalam menghadapi bencana alam, loh.
Nah, agar tidak penasaran tentang warisan budaya Indonesia dari Lampung ini, yuk simak ulasan singkatnya di bawah ini.
Bentuk Rumah Adat Lampung
Layaknya bangunan-bangunan tradisional Sumatera pada umumnya, hunian yang dikenal dengan nama Nuwo Sesat ini juga berbentuk rumah panggung. Hal tersebut disesuaikan dengan karakteristik setempat dan kondisi alam di daerah Lampung, khususnya pada zaman dahulu.
Tidak hanya modelnya, keseluruhan bangunan ini pun dikomposisikan dengan baik dan sempurna. Papan kayu dan bambu dijejer dengan rapi untuk difungsikan sebagai dinding rumah.

Selain itu, pondasinya juga dirancang dengan baik dan unik. Pada rumah tersebut, terdapat pondasi yang berupa batu persegi, sering disebut sebagai umpak batu. Terdapat juga setidaknya 20 tiang penyangga dan 20 buah tiang induk pada pondasi tersebut.
Sebagai lantainya, hunian khas Lampung tersebut terbuat dari papan kayu khesi, beberapa lainnya ada juga yang menggunakan bambu. Meskipun tidak seperti rumah zaman sekarang, lantai kayu atau bambu tersebut nyatanya lebih kuat dan tahan terhadap beban yang berat.
Pada mulanya, semua Nuwo Sesat menggunakan alang-alang yang disusun dengan rapi pada pintalan benang tenun atau kombinasi ijuk dan rumbia sebagai atapnya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, atap rumah tradisional tersebut mulai menggunakan genteng.
Bagian-bagian rumah adat Lampung
Hunian adat masyarakat wilayah Lampung ini terdiri dari bagian-bagian rumah dengan fungsi berbeda-beda. Beberapa bagian rumah tersebut di antaranya:
- Ijan Gladak : tangga menuju ke dalam rumah dengan atap di atasnya.
- Serambi : bagian depan rumah yang biasa digunakan sebagai ruang tamu atau tempat pertemuan kecil-kecilan.
- Pusiban : ruangan berukuran besar untuk melakukan musyawarah resmi.
- Ruang Tetabuhan : ruang penyimpanan alat musik adat.
- Ruang Gajah Merem : ruang peristirahatan para Penyimbang Adat.
- Kebik Tengah : ruang tidur anak atau Penyimbang Batin.
Filosofi Rumah Adat Lampung
Nuwo Sesat dapat diartikan sebagai rumah adat yang berfungsi sebagai tempat pertemuan adat. Di sini lah para Penyeimbang Adat bermusyawarah dan menyelesaikan setiap masalah bersama dengan prinsip kekeluargaan.
Bentuknya yang berupa rumah panggung tidak hanya mengikuti tradisi yang ada, namun juga untuk melindungi diri dan membuat penghuninya merasa nyaman.
Sebagaimana yang mungkin banyak diketahui, sungai-sungai di Pulau Sumatera kebanyakan berukuran besar, sementara para penduduk setempat cenderung mendirikan tempat tinggal mengikuti aliran sungai tersebut.
Belum lagi, binatang-binatang buas seperti gajah dan harimau pun banyak yang berkeliaran bebas di sekitar sana. Oleh karena itu, dengan alasan menghindari banjir dan serangan binatang buas, bangunan-bangunan di wilayah tersebut pun dibangun lebih tinggi dari permukaan tanah.
Tidak hanya itu, bangunan model panggung cenderung memiliki sirkulasi udara dan panas yang lebih baik dibandingkan bangunan yang langsung didirikan di atas tanah. Hal tersebut membuat udara di dalamnya terasa lebih sejuk serta bagus untuk kesehatan penghuninya.
Selain hunian biasa pada umumnya, terdapat juga rumah adat bernama Kedatun Keagungan yang merupakan istana para datu atau raja di Lampung dan diwariskan secara turun-temurun.
Uniknya dari Kedatun Keagungan tersebut adalah filosofi dari luasnya yang sebesar 17 x 12 meter tersebut. Tidak sembarang, ternyata angka 12 di situ melambangkan isi jiwa manusia, sementara angka 17 merepresentasikan 17 Agustus maupun 17 Ramadan. Selain itu, anak tangga pada Kedatun Keagungan berjumlah 19 buah, yang ternyata sesuai dengan jumlah huruf Bismilahirahmanirahim.
Itu dia sekilas informasi menarik mengenai rumah adat Lampung. Semoga dengan membaca artikel ini, pengetahuanmu mengenai keberagaman budaya Indonesia semakin meningkat sehingga memiliki keinginan untuk ikut melestarikannya. Yuk, kapan-kapan kunjungi warisan budaya ini secara langsung!
