YOGYAKARTA, BERNAS.IDÂ – Live streaming menjadi solusi yang pas dalam masa pandemi Covid-19. Tanpa harus menimbulkan kerumunan, mahasiswa pendidikan bahasa daerah Universitas Negeri Yogyakarta yang tergabung dalam Paguyuban Arya Satya sukses menggelar pertunjukan teater berjudul “Wisuno” di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (12/6/2021).
Teater berbahasa Jawa ini digelar memang tanpa penonton dengan penerapan protokol kesehatan. Yang menyaksikan pun hanya tamu undangan khusus selebihnya hanya ada kru, pemain, dan pengrawit gamelan. Judul “Wisuno” merupakan adaptasi dari naskah drama “Suksuk Pari Ambruk” karya Gondol Sumargiono, penulis Gunungkidul.
Gondol mengatakan, proses kreatif penulisan naskah dramanya terilhami dari orang-orang yang kerja proyek ke Jogja, tapi istrinya tertinggal di rumah. “Lamanya mereka tidak berhubungan, ini yang menjadi masalah. Ini fenomena sosial yang terjadi di mana pun ketika jauh dari suami atau istri,” jelasnya.
“Jadi asyik kalau saya tulis. Saya tulis 2015, proses penulisan dalam waktu satu minggu. Namun dalam mencari literasi dan turun ke lapangan dalam beberapa bulan,” ujarnya.
Baca Juga Uniknya Kisah Cinta Pungdong dalam Teater Tradisional Korea
Gabriel Benjo Kristian, sang Sutradara mengungkapkan, proses latihan pementasan teater Wisuno kurang lebih 2 bulan lamanya. Wisuno kurang lebih berarti omongan rasan-rasan atau ngegosip. “Yang menarik, tokoh utamanya bernama Luku. Seorang laki-laki lajang yang kaya di desanya. Dengan kekayaannya, ia bisa menggaet wanita. Kalau biasanya penggoda itu perempuan, ini laki-laki,” jelasnya.
Sementara itu, Pembimbing dan Pemegang Mata Kuliah Sanggar Sastra di UNY, Suwardi Endraswara mengatakan pementasan teater Wisuno sebagai arena berlatih dan belajar. “Bagaimana mengolah naskah dan menghayati naskah. Kalau ditampilkan seperti apa. Menjadi sesuatu,” katanya.
Tak hanya untuk pementasan, Suwardi mengatakan para peserta yang terlibat bisa saling memahami antara satu dengan yang lain ketika berproses. “Itu nanti akan menjadi berguna ketika di masyarakat. Melatih keberanian dan melatih pementasan yang baik,” imbuhnya.
Terkait tidak ada penonton, Suwardi mengatakan yang paling bagus memang banyak penonton seperti tahun 2019 ke belakang. “Di sana ada tepuk tangan di situ dan lebih meriah. Tapi, suasana ini tidak bisa kita hindari dan bantah sehingga harus mengikuti peraturan pemerintah,” tuturnya.
“Kita harus menyesuaikan tanpa mengurangi rasa ingin berpentas. Lalu, bagaimana mengumpulkan teman-teman di masa Corona dari waktu ke waktu untuk berlatih. Ini keasyikan tersendiri,” pungkasnya. (jat)
