BERNAS.ID – Perhimpunan-perhimpunan dokter di seluruh Indonesia kembali mendesak pemerintah untuk mengetatkan pembatasan mobilitas masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan melalui konferensi pers yang digelar oleh Tim Mitigasi IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan perhimpunan 5 profesi dokter di Indonesia, secara daring pada Minggu (27/6/2021).
Para dokter itu mendesak pemerintah pusat untuk memberlakukan PSBB ketat seretak di Pulau Jawa minimal selama dua pekan, mengingat kasus Covid-19 yang semakin meningkat tajam. Per 17 Juni 2021, kasus yang tercatat sebanyak 12.624 kasus, kemudian terjadi peningkatan di atas 20.000 kasus pada 26 Juni 2021.
Baca Juga: Jokowi: Target Vaksinasi Covid-19 Naik Jadi 2 Juta Dosis per Hari
Belum lagi naiknya kasus kematian berkaitan dengan Covid-19. Lalu, tingkat penggunaan tempat tidur atau bed occupation rate (BOR) untuk ruang isolasi dan ICU sudah di atas 90%.
“Bagaimana saat ini secara laporan yang kita terima dari daerah, khususnya Jawa mulai DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, tentang overload-nya kapasitas di perawatan di rumah sakit, bahkan di puskesamas,” kata Ketua Tim Mitigasi PB IDI dr. M. Adib Khumaidi, SpOT.
Secara rinci, Tim Mitigasi PB IDI dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), serta Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI), mendorong dan merekomendasikan lima hal, antara lain:
1. agar pemerintah pusat memberlakukan PSBB ketat serentak terutama di Pulau Jawa minimal dua minggu
2. agar pemerintah atau pihak yang berwenang memastikan implementasi serta penerapan PSBB yang maksimal
3. agar pemerintah atau pihak yang berwenang melakukan percepatan dan memastikan vaksinasi untuk semua target populasi termasuk untuk anak dan remaja dan tercapai sesuai target, bila mungkin vaksinasi >2 juta per hari, perluas tempat pelayanan vaksinasi
4. melakukan tracing dan testing yang masif agar kasus ditemukan sedini mungkin, termasuk untuk anak dan remaja. Angka positivity rate dan jumlah tracing per 1.000 orang per minggu sesuai dengan standar WHO dijadikan kinerja setiap kepala daerah
5. agar masyarakat termasuk anak-anak selalu dan tetap memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, tidak berpergian jika tidak mendesak, menjaga kesehatan, dan menjalankan protokol kesehatan lainnya.
Baca Juga: Sudah Ribuan Anak di DIY yang Terpapar COVID-19
Selain itu, perhimpunan dokter juga menyoroti varian baru Covid-19 yang sudah menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Varian delta itu memiliki karakteristik yang lebih mudah menyebar.
Varian tersebut juga bisa menyerang segala usia tanpa perlu adanya penyakit penyerta atau komorbid, lebih memperberat gejala, dan meningkatkan kematian, serta menurunkan efektivitas vaksin.
“Rumah sakit penuh, tenaga kesehatan banyak yang terkena. Tapi jangan lupa ada pasien dan masyarakat dengan penyakit kronis yang butuh fasilitas kesehatan,” ujar Ketua PAPDI dr. Sally Aman Nasution, SpPD.
“Karena kasus yang melonjak tinggi, rumah sakit besar diubah fungsinya 100% untuk melayani kasus Covid-19. Bisa bayangkan berapa pasien dan orang dengan penyakit kronis kehilangan atau berkurang kesempatan untuk mendapatkan layanan kesehatan” katanya.
Sementara itu, penanganan Covid-19 di hilir pada akhirnya menggugurkan sejumlah tenaga kesehatan sehingga perlu pengetatan di bagian hulu. Data hingga Minggu (27/6/2021) siang terdapat penambahan 4 orang dokter yang meninggal akibat virus ini, maka total ada 405 dokter yang telah gugur.
Laporan perkembangan Covid-19 di Indonesia per 27 Juni 2021 disebutkan ada penambahan 21.342 kasus positif Covid-19, dan 409 pasien Covid-19 yang meninggal. Jumlah itu meningkat dari 26 Juni 2021 yang tercatat terjadi penambahan 21.095 kasus positif Covid-19 dan 358 orang meninggal.
