BERNAS.ID – Menjadi jembatan antara dunia kedokteran dengan teknologi dan bisnis menjadi salah satu misi dalam hidup seorang Irzan Nurman. Seorang dokter yang mulai merintis bisnis sejak kuliah, kemudian mengambil keputusan yang di luar dugaan yakni menikah saat masih kuliah. Pernah mengalami kelumpuhan, namun bangkit untuk mempelajari akupuntur yang telah menyembuhkan sakitnya. Simak kisah Irzan Nurman selengkapnya.
Bagi Irzan, sepanjang hayat diisi dengan hal-hal bermanfaat dan belajar segala hal. Kini dia dikenal sebagai dokter dan biomedical scientist, pengajar, aktivis, praktisi, trainer, dan coach profesional.
Jika Anda tertarik mengembangkan teknologi untuk industri medis, mulai dari aplikasi kesehatan hingga manajemen data pasien, mengikuti kuliah dan mengambil Program Studi Sarjana Sistem Informasi di Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) adalah pilihan yang tepat. Dengan kurikulum berbasis inovasi, Anda akan mempelajari pengolahan data, kecerdasan buatan, hingga integrasi sistem berbasis cloud, yang kini menjadi fondasi revolusi kesehatan digital.
Ingin kuliah namun terkendala biaya? Dengan Beasiswa PBL di UNMAHA, Anda bisa mendapatkan SPP kuliah gratis sambil mengembangkan keahlian yang relevan dengan industri teknologi medis. Manfaatkan kesempatan ini untuk membangun karier di bidang yang mengubah dunia! Kunjungi website PMB UNMAHA untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Baca Juga: Inilah 10 Sertifikasi di Bidang SDM yang Ada di Universitas Mahakarya Asia
Sebagai pegiat media sosial, dia berusaha untuk menyebarkan ilmunya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat.
Kepiawaiannya dalam menjalin komunikasi membuatnya beberapa kali diundang ke Istana Merdeka, mengisi berbagai acara di kementerian/lembaga, dan banyak perusahaan.
Meski mengukir prestasi, namun perjalanan hidup Irzan tentu tidak semulus yang dibayangkan. Naik-turun dan asam garam yang dilalui berhasil menempanya menjadi sosok yang seperti sekarang.
Berprestasi Sejak Sekolah
Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, ini lahir di tengah keluarga yang berkecukupan. Hal itu membuatnya punya hobi mengotak-atik komputer, termasuk game.
Kepada Bernas.id, dia mengaku sangat beruntung dapat mengakses fasilitas semacam itu. Dengan begitu, dia menjadi bisa belajar banyak hal.
Hari-harinya dia lalui dengan menyukai hal yang berbau teknologi informasi. Namun, dia juga tidak melupakan kewajibannya untuk belajar dan berprestasi di bidang akademik.
Alumni SMP Negeri 5 Bandung dan SMA Negeri 3 Bandung ini kerap mengikuti ajang olimpiade, yang kemudian membuatnya terpilih sebagai Siswa Teladan Nasional pada 1992 dan 1995.
Keinginan Irzan untuk mengasah kemampuan di bidang engineering harus dihadapkan dengan keinginan orangtuanya. Sang ibu berharap agar putranya menjadi dokter.
Baca Juga: Kisah Taufik Jamaan, Wujudkan Asa Jadi Dokter dan Dorong Wisata Medis di Indonesia
“Namun, ketika saya melangkah, orangtua saya terutama ibu inginnya ada salah satu anaknya jadi dokter,” katanya.
“Saya nggak ingin sebenarnya, karena jadi dokter itu lama sekolahnya, Nggak ada network juga, beda dengan dunia IT. Tapi siapapun nggak ada yang bisa menolak, terutama ibu. Saya yakin doa ibu adalah berkah,” ujarnya.
Akhirnya hingga “sedikit terpaksa”, Irzan menetapkan langkah untuk belajar menjadi seorang dokter. Berkat Sistelnas, dia berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tanpa perlu tes.
Dari situlah, langkah Irzan akan terus berjalan dan kisah hidupnya seakan baru dimulai.
Krisis dan Bisnis Pertama
Momen yang tidak akan pernah dia lupakan adalah ketika Indonesia dilanda krisis moneter pada 1998. Keluarganya mengalami kejatuhan ekonomi yang luar biasa.
Sementara, Irzan harus meneruskan kuliahnya menjadi dokter. Di sisi lain, keluarganya kehilangan rumah dan terjerat utang yang banyak.
Apa yang dilakukan Irzan ketika itu adalah memanfaatkan keterampilannya untuk mencari uang. Berbekal ilmu di bidang teknologi, dia dibantu dengan teman-temannya merintis usaha warnet yang kala itu masih jarang.
Bahkan warnet tersebut menjadi yang pertama berdiri di Salemba, Jakarta. Saat itu, dia hanya berpikir bagaimana bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membeli buku pendukung kuliah yang harganya tidak murah.
“Teman-teman saya yang tahu ide saya, mendukung saya. Mereka bilang ke orangtuanya yang juga dokter, dokter secara safety income kayaknya lumayan, walaupun krismon. Lalu, mereka berkenan memberikan modal,” tuturnya.
“Itulah awalnya saya berkenalan dengan dunia wirausaha ketika masih kuliah. Kemudian saya kembangkan juga production house untuk bikin animasi, studio untuk pembelajaran,” ujarnya.
Namun, yang namanya bisnis tentu mengalami pasang surut. Perjalanan usaha itu bisa kembali naik ketika mulai mengeluarkan produk multimedia untuk pembelajaran di bidang kedokteran.
Mengembangkan digital library membuatnya belajar bahwa dunia teknologi berkembang dengan cepat. Maka dari itu, berada di zona nyaman tanpa berinovasi bisa berdampak “kematian” sebuah bisnis.
“Waktu kuliah, saya juga nggak menyangka menjadi mahasiswa berprestasi utama FK UI dan universitas. Ide yang di luar akademis tadi ternyata memiliki apresiasi yang cukup baik,” katanya.
Kelumpuhan dan Belajar Akupuntur
Pemikiran out of the box itu seorang Irzan ternyata juga terjadi pada kehidupan romansanya. Dia memutuskan menikahi kekasihnya ketika masih berkuliah.
Sang istri adalah adik tingkatnya, yang ternyata juga sama-sama terpilih sebagai Sistelnas. Ketika lulus pada 2002 sebagai dokter umum, Irzan dan istri telah dikaruniai dua anak.
Ketertarikannya dengan teknologi kemudian menuntunnya ke bidang radiologi sebagai pilihan spesialis. Tapi, sebuah hal yang tidak terduga terjadi.
Separuh tubuhnya mengalami kelumpuhan. Irzan pun dihadapkan pada pilihan yang dilematis, antara meneruskan spesialis radiologi atau mengambil pilihan lain dan tetap bersama keluarga.
Akhirnya, dia meninggalkan keinginannya. Untuk mencari kesembuhan, Irzan menempuh pengobatan akupuntur, sebuah hal yang sebelumnya dia tidak ketahui. Dia bahkan sempat mencibir pengobatan akupuntur. Namun dari situ, dia memperoleh pelajaran tentang kehidupan.
“Kenapa saya mencela sesuatu yang saya sendiri nggak tahu ilmunya. Nah, itu momen saya untuk menghargai ilmu dan orang lain,” ujarnya.
“Ilmu pasti punya manfaat bagi kehidupan. Kita semua adalah guru dan murid, kita bisa belajar dari siapapun,” imbuhnya.
Irzan pun melanglang buana sampai ke negeri China untuk mendalami ilmu akupuntur. Kini, dia mengantongi pengakuan sebagai praktisi dan pelatih akupuntur yang tersetifikasi secara internasional dari Shanghai University of TCM, Guangzhou University of TCM, dan Nanjing University of TCM.
Langkah Irzan masih terus berjalan. Dia tidak ingin membuang waktunya. Setiap menit dalam hidupnya, dia manfaatkan untuk belajar dan membantu sesama.
Kolaborasi adalah Kunci
Irzan akhirnya melanjutkan pascasarjana di bidang Teknologi Biomedis di UI dan lulus pada 2009. Lagi-lagi, pilihannya jatuh pada sesuatu hal yang masih berhubungan dengan teknologi.
Saat ini, dia masih menempuh Program Doktoral Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dia mengambil konsentrasi neuromarketing, yang berhubungan dengan teknologi dan dunia pemasaran.
“Dengan teknologi ini, kita bisa mengukur gelombang otak seseorang. Melalui stimulus kita tahu dia tertarik dengan stimulus itu atau nggak,” katanya.
“Jadi kalau ada iklan, iklan itu membuat orang tertarik untuk membeli nggak sih, jadi itu bisa diukur,” imbuhnya.
Menurutnya, keilmuan itu tidak hanya sebatas mengurusi profit dalam sebuah bisnis. Tapi juga seberapa efektif komunikasi massa yang digunakan untuk mempromosikan kampanye kesehatan, termasuk soal vaksinasi Covid-19.
Dia meyakini dengan kolaborasi dan semua orang menonjolkan kemampuan masing-masing untuk bersinergi, maka akan menghasilkan hal baik.
Irzan juga aktif dalam dunia bisnis, dia memimpin sejumlah perusahaan, di antaranya sebagai CEO FitskinClinic Group, CEO Aimee Berkah Calantha, Direktur PT Rifchi Putra Usaha, Direktur PT Medical Multimedia Indonesia, Direktur PT Java Energi Utama, dan sebagainya.
“Kolaborasi itu dengan menciptakan lapangan kerja, kan kalau saya cuma jadi dokter, saya cuma sendirian. Kalau saya jadi pengusaha, begitu banyak orang yang terlibat, doa-doa mereka membantu kita,” ucapnya.
Baca Juga: Perjalanan Kaprodi Arsitektur UNMAHA Raih Beasiswa di Inggris
Di dunia maya, Irzan memiliki akun-akun yang telah terverifikasi. Ada sekitar 769.000 pengikut di akun Instagramnya. Menurutnya, media sosial merupakan sarana untuk menyumbangkan keilmuannya kepada masyarakat.
“Ada tanggung jawab dengan pengikut sebanyak itu. Tantangannya memberikan edukasi yang tepat dan sesuai,” katanya.
Tujuan Hidup
Irzan selalu membawa prinsip bahwa dalam kehidupan, manusia harus memiliki tujuan. Hal itu penting karena kita akan punya energi yang besar untuk mencapainya.
Dia menerapkan konsep bahagia menjalani dari Jepang bernama IKIGAI, bagaimana seorang manusia harus memaknai kehidupan dengan tujuan agar menjadi seimbang, bermanfaat, dan bermakna.
“Ketika kita mempunyai prinsip bahwa kita termasuk yang beruntung, kalau hari ini lebih baik dari yang kemarin,” katanya.
“Kita berkompetisi dengan diri sendiri, apakah hari ini saya lebih baik dari kemarin,” tambahnya.
Langkah Irzan masih panjang, dan masih banyak hal yang ingin dicapai. Selain menyelesaikan studi S3 tepat waktu, dia ingin berkontribusi lebih luas lagi dalam bidang kedokteran dan teknologi.
Dia juga berharap menjadi master coach dalam skala global. Di dunia pendidikan, dia menginginkan agar UI suatu saat bisa mengoptimalkan sumber daya sehingga bisa mandiri secara finansial.
“Kita harus tahu apa tujuan kita. Dengan begitu, kita bisa tahu posisi sekarang di mana, seberapa dekat saya dengan tujuan saya, sehingga saya tahu persis posisinya di mana,” ujarnya.
Irzan juga terus mendorong terwujudnya wisata medis di Tanah Air. Kini, dia juga menjabat sebagai Ketua Divisi Usaha di Asosiasi Wisata Medis Indonesia (AMWI).
Mengembangkan Inovasi Medis dengan Pemasaran Digital
Teknologi tidak hanya membantu dunia medis dalam diagnosis atau terapi, tetapi juga dalam pemasaran layanan kesehatan. Untuk memperkenalkan inovasi medis seperti yang dilakukan oleh Irzan Nurman, strategi AI-Powered SEO menjadi solusi cerdas. Dengan AI-Powered SEO, bisnis berbasis teknologi kesehatan dapat lebih mudah ditemukan oleh pasien, investor, dan mitra potensial. Maksimalkan kehadiran digital Anda dan dominasi pasar dengan strategi SEO berbasis kecerdasan buatan!***2
