BERNAS.ID – Ketersediaan media yang praktis adalah dukungan dari pembuat/ pencipta itu sendiri. Apalagi di zaman teknologi yang sudah semakin canggih ini, semua yang dibutuhkan/dicari akan segera didapatkan.
Perlu diketahui, banyak anak muda/Gen Z sekarang telah menciptakan suatu karya teknologi yang canggih, yang tujuannya agar pekerjaan yang akan dikerjakan mesin/teknologi tersebut lebih praktis dan memudahkan.
Dikutip dari GoodNewsFromIndonesia yang berjudul 7 Inovasi Karya Anak Bangsa bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi sepeda motor yang sangat banyak, sehingga pencemaran udara semakin parah, terutama di kota besar. Itulah yang mendasari mahasiswa Institut Teknologi 10 November (ITS) menciptakan sebuah sepeda motor yang bertenaga listrik.
Baca Juga : Anak Muda Masa Kini, Kami Ini Pekerja Cerdas
Diberi nama Gesits, sepeda motor ini menggunakan baterai berukuran 5KWH sebagai motor penggerak. Untuk sekali pengisian penuh, baterai tersebut mampu digunakan untuk perjalanan sejauh 80 bahkan 100 kilometer. Ketika baterai habis, hanya butuh waktu 4 jam saja untuk pengisian ulang sampai penuh kembali.
Bisa disimpulkan bahwa mahasiswa ITS tersebut berusaha dari awal atau menjalani proses terlebih dahulu agar hasil bisa digunakan dengan praktis oleh masyarakat.
Maka dari itu, kita masih belum bisa menyalahkan Gen Z untuk kesalahan ini karena mungkin apa yang mereka dapat adalah contoh yang diberikan oleh orang tua mereka sendiri. Bisa jadi, mereka telah ditanamkan hidup praktis semenjak mereka masih di usia yang sangat muda.
Untuk menghindari hal itu, harusnya kita menanamkan pengetahuan yang harus kita sampaikan pada mereka untuk lebih bijak menggunakan media digital. Kita tidak bisa berpendapat bahwa media digital adalah pengaruh buruk, padahal banyak sekali manfaat dari media digital jika kita menggunakannya lebih bijak. Seperti menambah relasi internasional melalui chat, menambah pengetahuan ensiklopedia melalui video streaming/artikel dan media interaksi digital juga menjadi sumber informasi.
Salah satu solusinya adalah membatasi jam dan internet yang akan dipakai. Jika mereka telah selesai dengan aktivitas digital mereka ajaklah untuk berkumpul keluarga contohnya. Agar mereka juga bisa tetap peduli lingkungan sekitar. Seperti piknik dan mengunjungi keluarga terdekat. Hal-hal kecil tersebut sangat bisa membantu membatasi dunia digital mereka.
(Alya Tsamarah Thahirah, Mahasiswa Desain Komunikasi Visual di Telkom University dan Mahasiswa Internship School of Life Institute/SLI)
Artikel ini telah disupervisi oleh dr. Dito Anurogo, M.Sc.
