BERNAS.ID – Kira kira pada bulan akhir di tahun 2019 saya pernah baca sebuah artikel berbahasa Inggris sewaktu menunggu transit di Cengkareng yang artinya kalau enggak salah ingat begini, “Industri pariwisata dunia khususnya industri perhotelan di perkirakan akan tumbuh signifikan, sehingga hampir 1 dari 10 orang akan dipekerjakan oleh perhotelan dan industri pariwisata di tahun 2022”.
Sementara itu di awal Februari 2020, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio dalam sebuah kesempatan menyatakan optimisme pertumbuhan pariwisata di Indonesia. Ungkapan optimis tersebut menanggapi akan gelaran Free Fire Champions Cup (FFCC) yang akan di helat di Jakarta 19 April 2020. Beliau juga menyatakan bahwa Indonesia yang terpilih sebagai tuan rumah kejuaraan dunia eSports akan memberikan dampak positif langsung terhadap pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.
Mungkin hampir seluruh manusia yang hidup di muka bumi sekarang ini 'terkaget-kaget' dan tidak akan pernah menyangka dan menduga akan dampak KLB corona yang dasyat ini. Sehingga kejadian ini meruntuhkan semua hal, baik angka-angka ekonomi, prediksi pertumbuhan sampai semua event besar seperti kejuaraan dunia FFCC ditunda, dan semua rencana kegiatan menjadi seperti seonggok sapu, kaku, diam dan terpojokan.
Sewaktu corona masih bersifat endemi di Wuhan, China saya amati langkah pemerintah dengan sigap mengantisipasi dampak corona dengan menurunkan harga tiket pesawat, membebaskan pajak atas hotel dan restoran di 10 tujuan wisata utama selama tiga bulan dimulai dari 1 Maret 2020 dan lainnya.
Tapi apa daya, kejadian dunia berubah sangat cepat, sehingga semula hanya bersifat local endemic tiba-tiba mengglobal menjadi kejadian luar biasa yakni Pandemi corona dan telah mendistorsi semua tatanan kehidupan di planet bumi ini.
Baca Juga : Mitos Pemimpin Indonesia Who's Next
Semula stimulus diharapkan akan lebih menggairahkan sektor pariwisata dan ternyata gagal karena virus corona mengharuskan social distancing, karantina sampai dengan lockdown di berbagai negara. Bagaimana sektor pariwisata berjalan kalau tidak ada yang bisa datang?
Recovery
Selama ini pertumbuhan di sektor pariwisata itu tantangannya adalah masalah politik, keamanan, dan bencana alam. Namun sekarang tantangan yang luar biasa adalah masalah kesehatan. Untuk recovery di bidang pariwisata kita sudah punya pengalaman soal politik dan keamanan sewaktu bom Bali, bom Marriott dan kejadian gangguan keamanan lainnya.
Adapun bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus, banjir dan lainnya kita sudah mengalami berkali kali. Semua kejadian ini setahu saya membutuhkan waktu pemulihan kira kira 6 bulan sampai 1 tahun.
Terus bagaimana dengan tantangan kesehatan khususnya masalah corona ini? Dari berbagai artikel yang saya baca tidak ada satu pakar pun di dunia ini yang memastikan wabah corona ini akan berakhir, semua hanya bersifat prediksi, prakiraan dan asumsi. Kalaupun semisal habis lebaran wabah corona ini akan berakhir, apakah kemudian dunia pariwisata akan langsung kembali normal, pulih seperti sediakala?
Bukan pesimis, tapi saya punya keyakinan bahwa kalau kejadian ini bila di gambarkan dalam sebuah grafik, maka akan menjadi grafik “U” (menurun, kemudian melandai untuk beberapa saat dan baru akan naik seiring waktu). Tapi semoga saya salah dan menjadi grafik “V” (memuncak terus turun tajam dan naik lagi tajam dalam tempo yang cepat). Untuk itu diperlukan kesabaran, keikhlasan dan tetap waspada untuk menghadapinya.
Sinergi
Kita adalah bagian dari warga dunia, apalagi sektor pariwisata, maka masing-masing individu dari seluruh makhluk yang bernama manusia di muka bumi bertanggung jawab atas peperangan terhadap Covid-19 ini. Jangan berharap dunia pariwisata ini akan pulih seperti sediakala, sebelum Covid-19 ini lenyap dari muka dunia.
Seberapa parah sebuah kejadian akan lebih mudah dihadapi apabila kita bersinergi, baik dengan sesama elemen masyarakat, dengan pemerintah dan bahkan dengan seluruh negara dan penduduk di muka bumi ini.
Untuk itu diharapkan kesadaran semua lapisan masyarakat bahwa Covid-19 adalah musuh bersama, lupakan perbedaan, satukan kekuatan, mari kita galang semangat juang, gotong-royong peduli sesama dengan mendukung kebijakan pemerintah itu kuncinya.
Jangan lupa memakai masker, social distancing, cuci tangan pakai sabun. Maturnuwun.
Kasongan 06/04/2020
(Wahyu Indro Widodo, S.ST., M.Par., | Komisaris PT PP Properti Tbk, Dosen STP AMPTA Yogyakarta)
