Sejak dahulu kala, berbagai budaya di dunia mengandalkan obat herbal tradisional untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan.
Terlepas dari kemajuan medis dan teknologi di era modern, permintaan global akan obat herbal terus meningkat.
Dilansir dari Healthline, banyak orang lebih suka menggunakan obat herbal karena selaras dengan ideologi kesehatan pribadi mereka.
Selain itu, obat herbal termasuk sebagai pengobatan alami yang, pada umumnya, lebih terjangkau dan dapat diakses daripada obat-obatan konvensional.
Baca juga: Sembuhkan Kudis dengan Ramuan Herbal Ini
Berikut adalah 5 obat herbal paling populer di dunia, termasuk manfaat utama, kegunaan, dan informasi keamanan yang relevan.
1. Echinacea
Echinacea juga dikenal sebagai coneflower. Tanaman ini sangat populer di kawasan benua Amerika Utara.
Bagi penduduk asli Amerika, bunga echinacea digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk luka, luka bakar, sakit gigi, sakit tenggorokan, dan sakit perut.
Sebagian besar bagian tanaman, seperti daun, kelopak, dan bunga, dapat digunakan sebagai obat. Akan tetapi, banyak orang percaya bahwa akarnya memiliki efek pengobatan paling kuat dibanding bagian yang lain.
Echinacea biasanya diminum sebagai teh atau suplemen. Umumnya, orang Amerika Utara menjadikan echinacea sebagai pencegahan terhadap penyakit flu.

2. Ginseng
Ginseng adalah tanaman obat herbal yang akarnya biasanya direndam untuk membuat teh atau dikeringkan untuk dijadikan bubuk.
Ginseng sering digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok untuk mengurangi peradangan dan meningkatkan kekebalan, fungsi otak, dan energi.
Ginseng punya beberapa varietas. Ada 2 varian ginseng yang sangat populer dan umum digunakan sebagai obat herbal, yaitu jenis Asia (Panax ginseng) dan jenis Amerika (Panax quinquefolius).
Baca juga: Apakah Virus Corona Bisa Ditangkal dengan Tanaman Herbal Artemisia?
Senyawa di ginseng yang bernama ginsenosides adalah kunci popularitas tanaman herbal ginseng. Senyawa ginsenosides dianggap meningkatkan neuroprotektif, antikanker, antidiabetes, dan sifat pendukung kekebalan di tubuh manusia.
3. Kunyit
Kunyit (Curcuma longa) adalah tanaman herbal yang termasuk dalam keluarga jahe. Digunakan selama ribuan tahun dalam masakan dan obat-obatan, kunyit punya sifat anti-inflamasinya yang kuat.
Kurkumin adalah senyawa aktif utama dalam kunyit. Senyawa ini dapat mengobati sejumlah kondisi, termasuk peradangan kronis, nyeri, sindrom metabolik, dan kecemasan.
Sebagai obat herbal, kunyi baru bisa dirasakan manfaatnya jika dikonsumsi secara rutin dengan dosis banyak.
Saat digunakan untuk bumbu masakan, manfaat kesehatan kunyit masih belum bisa dirasakan secara maksimal.
4. Jahe
Jahe merupakan bahan yang umum untuk obat herbal. Anda bisa memakan segar atau kering, baik dalam bentuk utuh atau bubuk.
Sama seperti kunyit, jahe adalah rimpang, atau batang yang tumbuh di bawah tanah.

Jahe mengandung berbagai senyawa bermanfaat dan telah lama digunakan dalam praktik tradisional dan tradisional untuk mengobati pilek, mual, migrain, dan tekanan darah tinggi.
Dalam praktik pengobatan modern, jahe adalah solusi untuk menghilangkan mual yang terkait dengan kehamilan, kemoterapi, dan operasi medis.
Baca juga: 3 Herbal Ini Jadi Solusi Jitu Atasi Disfungsi Seksual Pria
Jahe termasuk obat herbal yang sangat aman dikonsumsi dalam porsi tinggi. Efek samping yang bersifat negatif jarang terjadi. Konsumsi dosis tinggi hanya sebatas menyebabkan kasus ringan mulas atau diare.
5. Kamomil
Chamomile adalah tanaman berbunga yang juga merupakan salah satu obat herbal paling populer di dunia.
Bunganya paling sering digunakan untuk membuat teh, tetapi daunnya juga dapat dikeringkan dan digunakan untuk membuat teh, ekstrak obat, atau kompres topikal.
Selama ribuan tahun, chamomile telah digunakan sebagai obat untuk mual, diare, sembelit , sakit perut, infeksi saluran kemih, luka, dan infeksi saluran pernapasan atas.
Chamomile punya 100 senyawa aktif yang punya berjuta manfaat kesehatan bagi tubuh manusia. Seperti, sindrom pramenstruasi (PMS), dan nyeri serta peradangan yang terkait dengan osteoartritis.
Jika Anda mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen herbal, sebaiknya konsultasikan dengan ahli kesehatan untuk memastikan dosis yang tepat, memahami potensi efek samping, dan waspada terhadap reaksi dengan obat lain.
Karena obat-obatan herbal berasal dari sumber-sumber alami, orang sering berasumsi bahwa obat-obatan tersebut pada dasarnya aman – tetapi ini belum tentu demikian.
Seperti obat konvensional, suplemen herbal dapat menyebabkan efek samping yang serius atau mengganggu obat lain yang Anda pakai.
Faktor penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah obat herbal tidak diatur secara ketat seperti obat lain.
Di beberapa negara, seperti Indonesia, produsen herbal tidak harus memberikan bukti khasiat atau kemurnian sebelum memasarkan produknya.
Dengan demikian, beberapa obat herbal mungkin mencantumkan bahan secara tidak benar, berlebih-lebihan, atau bahkan mengandung senyawa yang tidak tercantum pada label. Apalagi, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengendus produk berlabel herbal mengandung bahan kimia.
