SLEMAN, BERNAS.ID – “Alang-Alang”, judul sebuah film dokumenter yang menceritakan anak-anak yang terpaksa mencuri ikan untuk hidup di sebuah pelelangan, Kota Pekalongan. “Alang-Alang”, istilah untuk menyebut anak-anak pencuri ikan tersebut.
Huda, menjadi nama tokoh utama dalam film dokumenter ini. Huda ini diperankan oleh anak usia 12 tahun yang bukan dari aktor, bernama Awang dan ia sendiri merupakan pelaku asli Alang-alang di Kota Pekalongan tersebut.
Baca Juga Film Animasi Anak Ini Pakai Teknologi Hair System
Huda, seorang anak kecil yang terpaksa mencuri ikan di tempat pelelangan ikan karena meninggalkan rumah setelah ibunya meninggal. Ia juga marah dengan perlakuan kasar dari ayahnya. Kerasnya hidup di pelelangan membuat Huda semakin ingin mewujudkan keinginannya, mendapatkan ikan berwujud emas di laut. Pada akhirnya, Huda kehabisan pilihan dan berjuang mencari ikan berwujud emas dalam keputusasaan.
Tatam, sapaan akrab Khusnul Khitam selaku sutradara dan penulis naskah mengatakan melalui film “Alang-alang”, harapannya dapat mengajak seluruh masyarakat, terutama para orang dewasa agar menyadari perannya untuk mendukung kehidupan anak-anak di sekitarnya guna memiliki harapan dan masa depan yang baik.
“Proses ini dapat terselenggara dengan kerjasama yang apik dan proses kreatif yang penuh diskusi untuk mewujudkan film ini dengan semangat yang sama,” ujar Tatam, Kamis (11/10/2021).
Baca Juga Berikut Aksesoris yang Dibutuhkan agar Menonton Streaming Film Lebih Nyaman
Tamtam mengatakan film ini diperankan oleh beberapa pemain film level nasional dan beberapa aktor lokal. Lokasi syuting film ini mengambil latar Kota Pekalongan sebagai salah satu kota yang mempunyai histori tempat pelelangan ikan terbesar di Indonesia.
Dalam rangka memperkenalkan film “Alang-Alang” kepada penonton, rumah produksi Aksa Bumi Langit melakukan roadshow di 5 kota, yaitu Bandung (7 November), Malang (9 November), Yogyakarta (11 November), Semarang (15 November) dan Pekalongan (17 November).
Chandra Sembiring, selaku produser, menyampaikan proses promosi film ini dibuat dalam konsep workshop bersama para filmmaker dan mengajak para penggemar film dan para komunitas di kota-kota.
“Dalam roadshow yang kita selenggarakan, diadakan workshop yang dilakukan oleh para filmmaker seperti Yudi Datau tentang sinematografi lanskap urban, Tatam terkait proses metamorfosis dokumenter menjadi film fiksi Alang-Alang,” tukasnya. (jat)
