JAKARTA, BERNAS.ID – Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, keseimbangan primer atau selisih dari pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang tahun lalu lebih baik dari tahun sebelumnya, yakni turun sekitar 30 persen dari Rp633 triliun menjadi Rp440 triliun. Hal tersebut dipaparkannya di hadapan anggota Komisi XI DPR RI.
“Ini adalah penurunan hampir Rp193 triliun hanya dalam 12 bulan,” kata Sri Mulyani, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (19/1/2022).
Ia menyebut bahwa defisit anggaran juga turun. Menurut dia, ekspektasi defisit APBN 2021 ada di kisaran Rp1,006 triliun atau 5,7 persen. Tetapi, realisasi defisit APBN pada akhir tahun lalu, yakni sebesar Rp783,7 triliun atau lebih rendah Rp222 triliun dari proyeksi.
“Dibandingkan LKPP 2020 yang defisit Rp947 triliun, ini juga penurunan 17,3 persen hanya dalam waktu 12 bulan, maka kalau dilihat estimasi defisit sementara kita di 4,65 persen. Bayangkan kita tahun lalu masih di 6,14 persen,” jelas dia.
Baca juga: Sri Mulyani Siapkan Anggaran PEN Rp 414 Triliun Tahun Depan
Padahal, ia mengklaim menurunkan defisit bukanlah perkara mudah. Ia menilai keberhasilan jajarannya dalam mempersempit defisit dalam waktu setahun merupakan prestasi.
“Kalau lihat episode negara mengalami defisit, menurunkan fiskal defisit dalam 12 bulan sebesar ini it's not an easy task (bukan hal mudah), ini achievement (pencapaian) luar biasa,” imbuh dia.
Baca juga: Sri Mulyani Marah ke Grup Texmaco Karena Hal Ini
Ia menjelaskan, turunnya kebutuhan pembiayaan utang tersebut pada akhirnya berkontribusi pada stabilnya yield atau imbal hasil obligasi surat utang negara Indonesia.
Ani menjabarkan pada tahun lalu, estimasinya, pemerintah bakal membutuhkan pembiayaan utang senilai Rp1.177 triliun. Namun, realisasinya lebih rendah, yaitu sebesar Rp867 triliun.
“Yield anteng karena tidak desperate (putus asa) ke market,” tandasnya. (den)