Bernas.id – Indonesia memiliki banyak jenis UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang berharap bisa mengembangkan bisnisnya lebih baik lagi. Namun sebagian mereka belum telah terbiasa menggunakan teknologi digital dalam operasional usahanya.
Hal ini tentu membuat para pelaku UMKM merasa menjadi tertinggal dan kalah dari kompetitor lainnya. Padahal era saat ini sudah menerapkan atau masuk dalam era revolusi industri 4.0 berbasis digital.
Baca juga: 4 Strategi Digital Marketing bagi UMKM: Murah tapi Butuh Konsistensi
Sejarah Revolusi Industri 4.0
Penggunaan sebutan revolusi industri 4.0 pertama kali digunakan pada publik dalam pameran industri Hannover Messe di kota Hannover, Jerman tahun 2011. Momen itu bertepatan saat pameran tersebut menerapkan pengenalan IOT (internet of thing).
Selanjutnya penggunaan internet menjadi alternatif baru dalam operasional usaha, baik level UMKM atau perusahaan besar. Bagi bisnis UMKM, teknologi digital membantu mereka menjalankan operasional usaha jadi lebih lancar, baik dari tahap produksi hingga distribusi.
Teknologi digital memungkinkan perangkat, seperti ponsel dan komputer, untuk mengontrol berbagai aktivitas bisnis. Hal tersebut menjadi pilihan bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya lebih lanjut ke tingkat global.
Sayangnya, banyak UMKM masih sangat konvensional atau belum bisa melakukan efisiensi dengan kehadiran teknologi digital. Kesulitan beradaptasi tersebut akan membuat UMKM sulit bersaing dengan kompetitor.
Siap tidak siap, internet of thing, kecerdasan buatan, robotik, dan lainnya membuat kemajuan daya komputerisasi akan mempengaruhi kondisi dunia usaha. Sehingga, UMKM pun harus segera melakukan transformasi digital dengan efektif untuk menghadapi masa depan.
Baca juga: Siap Digitalisasi? Berikut Strategi yang Perlu Dilakukan Pelaku UMKM untuk Go Digital!
Kenapa UMKM Perlu Melakukan Transformasi Digital?
Konsumen yang berusia di bawah 35 tahun cenderung memilih berbelanja secara digital daripada metode tradisional lainnya. Berbelanja online di sini tidak hanya diartikan sebatas bertransaksi saja. Akan tetapi, ada yang berupa window shopping, mencari produk, mendapat rekomendasi produk, dan sejumlah aktivitas ekplorasi lain dilakukan secara online.
Konsumen yang berusia 35 tahun ke bawah ini merupakan digital natives atau kelompok orang yang sudah terbiasa dengan berbagai aktivitas online sedari kecil. Oleh karenanya, untuk menjari pasar digital natives tersebut, UMKM perlu go digital.

Ilustrasi UMKM
Baca juga: Digitalisasi Jadi Inovasi UMKM Dalam Hadapi New Normal
Transformasi digital memiliki dampak positif bagi bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta ekosistem digital. UMKM go digital juga menawarkan peluang baru bagi ekonomi Indonesia, baik langsung atau tidak langsung. Berikut ini 5 manfaat utama transisi UMKM ke ranah online:
- Peningkatan Pendapatan
- Aksesibilitas ke Basis Pelanggan yang Lebih Luas
- Peningkatan Efisiensi Operasional
- Keterlibatan Pelanggan yang Lebih Aktif
Bagaimana pun juga, transformasi digital akan memperkuat prospek operasi para pelaku UMKM. Setidaknya, perubahan go digital tersebut membantu bisnis offline untuk mengeksplorasi lebih banyak opsi secara online. Apalagi dalam ekonomi Indonesia yang dinamis ini, konsumen mengharapkan aksesibilitas, kenyamanan, dan personalisasi digital yang berkualitas.
Banyak pemilik UMKM belakangan ini telah memasuki pasar dengan terjun ke metode pemasaran online. Pemasaran digital merupakan salah satu strategi transformasi digital yang paling umum dipakai UMKM. Facebook, Instagram, TikTok, dan YouTube adalah 4 platform penting bagi pemasaran digital. Akan tetapi transformasi digital bukan hanya soal digital marketing. Untuk bisa memahami sejauh mana transformasi digital UMKM, Anda bisa membaca artikel berjudul Kunci Sukses Pasar Digital (PaDi) Menggeliatkan UMKM di Masa Pandemi.
