Bernas.id – Bidang keilmuan akuntansi ini sudah banyak digunakan untuk mengurusi terkait laporan keuangan yang ada dalam perusahaan di Indonesia. Tak hanya itu, sistem akuntansi ini juga bermanfaat agar aliran keuangan yang ada terlihat lebih nyata dan transparan.
Di dalam perusahaan sendiri, ilmu sistem akuntansi ini digunakan untuk mengawasi bisnis yang dijalankan yang nantinya dapat digunakan untuk keputusan bagi masa depan perusahaan.
Lalu, bagaimana akuntansi yang tersistem itu bekerja dan mampu memberikan manfaat bagi perusahaan? Berikut akan dijelaskan mengenai sistem akuntansi beserta kelengkapannya.
Baca juga: Program Beasiswa Calon Pengusaha di Universitas Mahakarya Asia
Pengertian Sistem Akuntansi Menurut Para Ahli

Beberapa para ahli memberikan definisi dan pengertian tentang sistem pembukuan yang ada, di antaranya:
1. Warren, Reeve, dan Fees
Ketiga para ahli ekonomi ini mendefinisikan bahwa sistem akuntansi adalah suatu metode pengumpulan, klarifikasi, ikhtisar, dan pelaporan terkait informasi kegiatan bisnis dan laporan keuangan di perusahaan.
2. Baridwan
Tokoh ini menyebutkan bahwa sistem akuntansi merupakan seperangkat formulir, laporan, ataupun catatan yang mana seluruhnya dikoordinasikan dengan beragam elemen di perusahaan. Hal ini berguna sebagai informasi dan dibutuhkan untuk manajemen perusahaan.
3. Niswonger, dkk
Beliau juga turut mendefinisikan sistem akuntansi ini berupa metode untuk menyajikan dan melaporkan terkait kegiatan operasional dan keuangan perusahaan.
Baca juga: Pengertian Akuntansi Pemerintahan, Karakteristik, dan Tujuan Penggunaannya
Unsur-unsur Sistem Akuntansi
Accounting system di perusahaaan sangat diperlukan, sehingga proses pembuatannya harus dilakukan dengan baik dan teratur. Maka dari itu, di dalamnya terdapat unsur-unsur yang harus ada, yaiu:
1. Formulir
Adanya formulir menjadi dasar yang harus ada dalam proses pencatatan awal transaksi keuangan di sistem pembukuan perusahaan. Formulir yang berisi transaksi ini nantinya akan digunakan dalam proses pembuatan catatan laporan keuangan.
2. Jurnal
Unsur jurnal ini merupakan suatu data pengelompokkan yang di mana berisi pencatatan transaksi sejenis ataupun ringkasan dari formulir sebelumnya. Data-data yang berasal dari jurnal ini kemudian dikelompokkan ke dalam buku besar. Beragam jenis jurnal dapat ditemui dalam perusahaan, yaitu jurnal pembelian, penjualan, penerimaan, dan penjualan yang ada di dalam ruang sistem akuntansi.
Baca juga: Akuntansi Pendidikan: Pengertian dan Penerapannya dalam Institusi Pendidikan
3. Buku Besar
Sistem buku besar ini dicatat lebih ringkas setelah pelaksanaan kegiatan penjurnalan transaksi pada catatan keuangan perusahaan. Biasanya di dalam buku besar dilakukan peringkasan dan pengelompokkan rekening-rekening jurnal agar mempermudah dalam penyusunan laporan keuangan nantinya.
4. Buku Pembantu
Dalam buku pembantu ini biasanya berisi rekening-rekening pembantu yang terdapat dalam buku besar juga. Buku pembantu dan buku besar juga merupakan dua hal atau langkah terakhir dalam proses pencatatan serta tidak dapat diringkas dan tidak disediakan dalam bentuk lain.
5. Laporan
Langkah terakhir yang dilakukan dari proses sistem akuntansi ini berupa laporan keuangan. Beragam laporan ini banyak jenisnya di perusahaan, seperti laporan neraca, laba rugi, perubahan modal, arus kas, harga pokok penjualan, dan sebagainya. Selain itu, terdapat laporan daftar utang dan persediaan saldo perusahaan.
Baca juga: Dasar-dasar Akuntansi dan Pentingnya Akuntansi dalam Perusahaan
Fungsi Utama Sistem Akuntansi

Sistem akuntansi ternyata memiliki beberapa fungsi, khususnya terkait pencatatan dan pengawasan yang ada, di antaranya:
1. Mengumpulkan dan Menyimpan Data
Akuntansi ini merupakan suatu aktivitas pencatatan berupa seluruh kegiatan operasional dan transaksi yang ada di perusahaan secara rinci. Penerapan sistem ini sangat diperlukan agar segala hal atau catatan yang berkaitan dengan kegiatan operasional perusahaan dapat terhimpun dengan baik dan lebih efisien.
2. Menyediakan Informasi yang Bermanfaat
Sistem ini ermanfaat untuk menyediakan segala informasi yang akurat dan berguna. Sebagai contoh, sistem akuntansi pasti akan menyediakan laporan keuangan yang mudah untuk dipahami. Hal ini nantinya akan sangat berpengaruh bagi perusahaan untuk mengambil suatu keputusan atau kebijakan dengan lebih baik.
Baca juga: Akuntansi Biaya: Pengertian, Fungsi, Jenis-Jenis, dan Penerapannya di Perusahaan
3. Menyajikan Pengendalian Internal
Pengendalian internal perusahan ini sangat penting di dalam perusahaan agar sesuai dengan tujuan yang dibangunnya. Maka dari itu, penerapan sistem informasi ini sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi perusahaan yang ada. Hal ini tentu akan mempermudah dalam melakukan pengawasan serta dapat mengendalikan perusahan dengan mudah melalui sistem pembukuan.
4. Mendukung Fungsi Kepengurusan
Adanya pencatatan akuntansi secara tersistem sangat membantu untuk memberikan informasi terkait pemakaian sumber daya di perusahaan dan ketersediaannya. Dengan adanya informasi laporan akuntansi ini, tim manajemen dapat memberikan evaluasi dari kinerja yang ada di perusahaan dengan tepat.
5. Mendukung Kegiatan Operasional
Akutansi yang tersistem dapat memberikan informasi terkait bagian mana yang harus dilakukan pengecekan ulang dan perbaikan. Jika ada suatu kesalahan pada saat kegiatan operasional perusahaan, maka bagian itu dapat dilakukan perbaikan yang lebih efektif. Dengan begitu, kegiatan operasional perusahan dapat dijalankan kembali.
Baca juga: Inilah 10 Jenis Ilmu Akuntansi yang Ada di Perusahaan
Contoh Sistem Akuntansi

Sistem akuntansi yang ada saat ini memiliki jenis yang berbeda serta dapat menyesuaikan kebutuhan dan jenis masing-masing perusahaan. Maka dari itu, di sini akan dibahas beberapa sistem tersebut di beragam perusahaan.
1. Sistem Akuntansi Manufaktur
Sistem akutansi dalam perusahaan manufaktur ini berfokus pada kegiatan membuat dan merakit suatu produk. Sehingga, sistem akuntansinya harus memiliki informasi terkait persediaan, jam kerja, biaya overhead, dan komisi penjualan.
Manufaktur ini setidaknya memiliki tiga jenis inventaris, yaitu bahan baku, produk dalam produksi, dan produk jadi. Sistem jam kerja harus diketahui melalui akuntansi yang tersistemasi perusahaan pada setiap pembuatan produknya serta penggajian terhadap para pekerja juga harus diketahui dengan pasti.
2. Sistem Akuntansi Ritel
Usaha bisnis ritel ini biasanya melakukan transaksi pembelian sekaligus penjualan. Sistem akuntansinya sendiri berisi tentang laporan rinci inventaris yang ada, tingkat turn over tahunan, laba setiap produk, serta poin pemesanan ulang.
Sebagian para pebisnis ritel membeli banyak produk yang beragam. Maka dari itu, sistem akuntansi perusahaan sangat membutuhkan informasi mengenai status hutang dagang, waktu pengiriman, serta diskon yang ada.
Baca juga: Akuntansi Anggaran (Budgeting): Pengertian, Tahapan, Perubahan, Tujuan, dan Fungsinya
3. Sistem Akuntansi Distributor
Accounting system yang digunakan hampir mirip dengan sistem akuntansi ritel atau pengecer, akan tetapi distributor ini hanya melakukan penjualan berdasarkan persyaratan kredit kepada pelanggan.
Maka dari itu, dibutuhkan piutang dagang yang lebih besar di dalam laporannya. Distributor juga membutuhkan data inventaris seperti biaya setiap barang, penjualan per poduk, dan juga keuntungan masing-masing pada tiap produk.
4. Sistem Akuntansi Konstruksi
Seorang kontraktor memiliki sistem pembukuan yang agak berbeda dari yang lainnya. Mereka sangat membutuhkan kemampuan dalam melacak biaya serta kemajuan proyek pembangunan yang dijalankan.
Selain itu, sistem tersebut juga harus melaporkan biaya material setiap produk yang masuk ke perusahaan, berapa jam kerjanya, serta persentase biaya penyelesaian proyek yang dijalankan.
Kontraktor ini biasanya juga membiayai proyeknya menggunakan jalur kredit di bank. Maka dari itu, mereka harus memiliki informasi dari sistem akuntansi terpadu terkait jumlah dana yang dibayarkan dan waktu jatuh tempo pembayarannya.
Baca juga: 11 Jenis Profesi Akuntan di Indonesia dan Standar Kompetensinya
5. Sistem Akuntansi Organisasi Nirlaba
Salah satu peran sistem pembukuan dalam organiasasi nirlaba adalah terkait dananya harus mengetahui siapa saja yang menjadi donator bagi organisasi mereka. Selain itu, organisasi ini juga harus mengirimkan laporan dana donatur kepada para donaturnya pada akhir tahun yang nantinya dapat digunakan sebagai pengajuan pajak.
Di samping itu, organisasi nirlaba juga harus menghasilkan laporan pendapatan serta pengeluaran mereka yang nantinya dapat diperlihatkan kepada dewan direksi, donatur utama, dan pemerintah.
Baca juga: Investasi Kavling Menguntungkan – Siap Terima SHM Cuma 3 Km ke Pusat Bogor Timur
Kesimpulan
Sistem akuntansi dalam perusahaan itu sangat penting untuk dijalankan dan harus mendapat perhatian lebih. Hal ini berguna untuk menunjang kemajuan perusahaan terkait pengambilan keputusan dan kebijakan di masa depan.
Selain itu, sistem dalam pembukuan juga memiliki perbedaan di tiap-tiap jenis perusahan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dengan begitu, manajemen perusahaan dapat lebih teliti dalam mengidentifikasi kebutuhan perusahaannya.
