YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Polemik terkait jilbab dan kegiatan kegiatan keagamaan di sekolah sebenarnya tidak perlu terjadi jika memahami karakter pelajar Pancasila, sesuai rumusan Kemendikbud. Hal ini disampaikan Dr. Deni Herdianto,M.Pd pakar Pendidikan UNY dalam diskusi publik yang digelar oleh Menoreh Institute dengan menghadirkan beberapa pakar pendidikan dari UGM dan UNY secara daring, Senin (15/8).
Deni Herdianto dan pimpinan Menoreh Institute telah melakukan survey terhadap 925 responden di seluruh Indonesia terkait profil pelajar Pancasila. Hasil survey menjelaskan bahwa 50 persen responden sudah mengetahui tentang profil pelajar Pancasila, sementara 33 persen mengetahui sebagian dan 17 persen tidak mengetahui sama sekali.
“Pertanyaan dengan jawaban ganda, 70 persen responden menyatakan bahwa guru paling berperan dalam membentuk profil pelajar Pancasila, 53 persen menyatakan orang tua paling berperan, 45 persen lingkungan, dan 23 persen menyatakan lingkungan yang paling berperan. Sementara itu terkait pelaksanaan ibadah, bersikap, dan berpenampilan sesuai ajaran agama masing-masing 83 persen menyatakan hal tersebut merupakan implementasi penting dari profil pelajar Pancasila,” ujar dia.
Baca juga: Siswi Korban Pemaksaan Jilbab Difasilitasi Untuk Pindah Sekolah
Prof. Khairudin dari UNY selalu pembicara lain menyampaikan tentang elemen kunci gotong royong dalam pendidikan adalah kolaborasi, kepedulian dan berbagi. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut dia merupakan profil pertama yang semestinya dimiliki oleh pelajar Pancasila.
“Guru adalah sosok yang sangat penting peran nya dalam hal ini. Sehingga jika ada guru mengajarkan muridnya untuk beribadah dan taat agama semestinya tidak dipermasalahkan. Mempermasalahkan guru yang melaksanakan tugasnya bisa terjadi karena komunikasi yang kurang baik antara orang tua dengan pihak sekolah. Perbaikan komunikasi dan kerjasama sekolah dan orangtua wali menjadi sangat penting saat ini,” kata dia.
Baca juga: Kasus Pemaksaan Jilbab, Orangtua Dan Sekolah Akhirnya Berdamai
Sedangkan Prof Yuny Erwanto dari UGM menyampaikan perlunya bijaksana menjadi orangtua. “Komunikasi dan kerjasama antara orangtua dengan sekolah adalah mutlak sangat penting untuk keberhasilan pendidikan,” jelas dia.
Prof Yuny menambahkan bahwa berbagai problem ini merupakan PR bersama yang diperlukan kerjasama dan komunikasi yang baik antara institusi pendidikan dan orang tua.
“Bukan saatnya sebenarnya berpolemik saling mencari kesalahan. Saatnya berkolaborasi mencari solusi, jika ada kesalahan saling memaafkan,” ujar dia.
Di sisi lain, pemerhati pendidikan dari kalangan milenilal, Muhammad Syamsyudin menyampaikan bahwa kondisi pemuda saat ini banyak yang perlu dibenahi bersama. Sebab 79 persen pemuda lebih senang menghabiskan waktunya dengan gadget, minat baca sangat rendah, sifat foya-foya terlalu menonjol, serta nilai nilai norma dalam diri remaja mulai banyak yang luntur dan kecenderungan kurang memahami jatidiri maupun budaya Indonesia.
“Budaya barat maupun asing yang negatif dan kadang kurang sesuai dengan budaya bangsa banyak diikuti,” keluhnya.
Sebagai tambahan informasi, pelajar Pancasila merupakan perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Pelajar Pancasila memiliki enam ciri utama yakni bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkhebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. (den)
