Close Menu
BERNAS.id
    Berita Terbaru

    Dewan Siap Cross-Check Realisasi Program Walikota Jogja

    May 25, 2026

    Sambut Rombongan Bhikkhu Sangha, Sri Sultan: Perjalanan Thudong adalah Simbol Harmoni Bangsa

    May 25, 2026

    Gerakan Minum Jamu Serentak di UGM: Upaya Lestarikan Warisan Budaya Pengobatan Tradisional

    May 25, 2026

    Puluhan Biksu Tudong Melintasi Kota Jogja

    May 25, 2026

    Mengulik Tradisi di Yogyakarta: Workshop Eksklusif Belajar Meracik Sirup Jahe dan Membatik

    May 24, 2026
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    • Google News BERNAS
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    BERNAS.id
    • Home
    • Regional
      • Internasional
      • Nasional
      • Daerah
        • DK Jakarta
        • DI Yogyakarta
        • Jawa Tengah
        • Jawa Timur
    • Finance

      Dorong Tranformasi Digital, Bank Jakarta Raih Penghargaan Digital Brand

      May 24, 2026

      Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan, Menkeu Purbaya Hadiri Jogja Financial Festival 2026

      May 22, 2026

      Siswa SMAN 28 Jakarta Antusias Sambut Program KEJAR DKI

      May 19, 2026

      DIY Jadi Tuan Rumah Pembukaan Seleksi Calon Anggota Industri Kreatif Syariah (IKRA) Tahun 2026

      April 30, 2026

      Ninja Xpress Luncurkan Ninja Cross Border: Dari Indonesia ke Dunia

      April 26, 2026
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Karir
    • Lifestyle
    • Politik
    • Hukum
    • Other
      • Travel
      • Entertainment
      • Opini
      • Tokoh
      • Budaya
      • Religi
      • Lingkungan
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Desa
      • Beragam
        • Bernas TV
        • Citizen Journalism
        • Editorial
        • Highlight
        • Inspirasi
        • Press Release
        • GlobeNewswire
    • Channel Jakarta
    BERNAS.id
    Home»Opini»Ekologi, Ekosistem Manusia, dan Masa Depannya
    Opini

    Ekologi, Ekosistem Manusia, dan Masa Depannya

    Christina DewiBy Christina DewiFebruary 9, 2023Updated:February 9, 2023No Comments
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email
    Latifa Nuraini - (dok.pribadi)
    Share
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email

    BERNAS.ID – EKOSISTEM manusia saat ini tergantung pada lingkungan dan sistem ekologis yang ada. Maraknya pembuangan sampah sembarangan, pembangunan yang sewenang-wenang, pencemaran lingkungan mulai dari darat, laut, udara. Dampak dari perilaku manusia dan teknologi yang mengarah pada kerusakan lingkungan akan menyebabkan masa depan kehidupan manusia akan kesulitan untuk bertahan hidup dan lingkungan akan semakin rusak. Indonesia memiliki biodiversitas yang sangat kaya dan memberikan sumbangsih penting dalam suplai oksigen (O2). Namun pelestarian lingkungan dan mega biodiversitas yang ada di Indonesia cenderung diabaikan oleh maraknya pembangunan yang tanpa memperhatikan keberlanjutan masa depan manusia. Isu ini semakin menarik dan penting, ketika kesadaran manusia terhadap lingkungan berkurang dan laju pertumbuhan penduduk yang semakin banyak. Apabila hal ini tidak teratasi maka masa depan manusia dan berbagai spesies tumbuhan akan hilang dari muka bumi. Selain itu, manusia tidak dapat bertahan hidup. Situasi dan kondisi ini sudah pernah dibahas dalam berbagai forum-forum ilmiah baik nasional maupun internasional. Namun miskin komitmen dan keberlanjutan.

    Protokol Nagoya (2010) memiliki tujuan pada pembagian keuntungan dari pemanfaatan sumber daya genetik sehingga berkontribusi pada konservasi yang berkelanjutan keanekaragaman hayati. Protokol ini mewajibkan bagi pihak dalam kontrak untuk mengambil langkah langkah sehubungan dengan akses terhadap sumber daya genetik untuk pembagian keuntungan dan kepatuhan. Namun pelaksanaan dan agenda aksi dalam mengupayakan protokol tersebut belum maksimal dilakukan oleh negara-negara yang berkepentingan.

    3 isu utama

    Kerusakan Ekologi dan ekosistem dapat disebabkan oleh tiga isu utama yaitu: pertama, unknowledgeable (kurangnya pengetahuan) manusia terhadap peran penting lingkungan. Lemahnya pemahaman manusia terhadap kesadaran atau hakikat dan masa depan lingkungan, ekosistem tumbuhan dan tanaman yang perlu dijaga, telah membawa perilaku manusia yang destruktif. Kedua, pemanasan global (global warming) sebagai efek dari aktivitas manusia yang semakin masif. Peningkatan suhu bumi yang semakin cepat telah berdampak pada punahnya berbagai spesies tumbuhan, dan ekosistem biotik yang harusnya dapat memberikan keseimbangan kehidupan. Ketiga, kebijakan dari institusi politik (negara), swasta, dan masyarakat yang belum maksimal pada upaya dukungan pelestarian terhadap lingkungan yang berkelanjutan (sustainability environment). Misalnya, belum maksimalnya dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung perubahan perilaku dan perlindungan lingkungan. Karena lemahnya pengawasan dan kontrol terhadap dana CSR ini sehingga, komitmen sosial dan politik, kebijakan di institusi negara dan swasta belum terwujud secara massif dan sistematis. Karakter yang ditunjukkan ialah lebih pada aspek sporadis.

    Masih kah ada masa depan?

    Apabila perubahan dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan terutama pengambil kebijakan tidak serius mengatasi persoalan mendasar untuk membangun dan memulihkan ekosistem lingkungan untuk pembangunan peradaban manusia yang lebih baik. Tentu, negeri ini akan menjadi negeri yang terjajah dan tereksploitasi oleh pembangunan. Selama ketiga isu tersebut masih menjadi angan-angan dan belum menjadi komitmen untuk membangun masa depan lingkungan dan ekosistem kehidupan manusia tentu masa depan suatu peradaban dan bangsa akan mengalami ketidakpastian.

    Solusi

    Proses integrasi untuk mendorong komitmen dan kebijakan terhadap kesadaran akan lingkungan dari 5 sektor utama institusi yaitu: pemerintah, swasta, masyarakat, institusi pendidikan, dan media menjadi penting untuk dilakukan. Saat ini kita perlu meninjau kembali komitmen bersama ini apakah masih cukup kuat dan konsisten dalam menjawab tantangan lingkungan, persoalan ekosistem manusia, dan masa depannya. Seberapa jauh komitmen pemerintah dalam membuat kebijakan untuk perlindungan dan menjaga kelestarian lingkungan, pelaku bisnis swasta lebih berkomitmen terhadap pembangunan lingkungan melalui CSR yang konsisten dan berkelanjutan, tanpa ada kepura-puraan institusi. Institusi pendidikan dapat lebih berkontribusi melalui riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat yang lebih banyak memberikan porsi pada keberlanjutan lingkungan di masa depan. Media, menjadi bagian dari edukasi untuk mengarahkan masyarakat dengan membangun opini untuk menjaga dan mendukung konservasi lingkungan.

    (Penulis: Latifa Nuraini, Peneliti pada Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya dan Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional)

    ekologi ekosistem manusia kerusakan ekosistem manusia Latifa Nuraini
    Share. Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email
    Christina Dewi

    Related Posts

    Ketika Kartini Membuka Jalan, Mengapa Sebagian Lelaki Justru Kehilangan Arah?

    April 22, 2026

    “Pesan Rahasia” Sel Punca: Harapan Baru Terapi Tanpa Operasi

    April 14, 2026

    Evaluasi Satu Tahun Kepemimpinan Wali Kota, Bandung Masih di Persimpangan Jalan

    March 2, 2026

    Ringkasan Kitab Tanwîrul Qulûb

    February 26, 2026

    NiBTM Mendunia: Dokter Alumni FKIK Unismuh Berkolaborasi dengan 25 Ilmuwan

    February 2, 2026

    Kaizen sebagai “Gurunya” Rumah Sakit

    January 10, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Internasional Terbaru

    EMGA memfasilitasi pembiayaan senilai USD 15 juta untuk Asia Alliance Bank dari OeEB

    May 23, 2026

    EMGA memfasilitasi pembiayaan senilai USD 15 juta untuk Asia Alliance Bank dari OeEB

    May 23, 2026
    Berita Nasional Terbaru

    28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Luncurkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa

    May 21, 2026

    Janabadra Club Dorong Sinergisitas Alumni Nasional untuk Kontribusi Almamater dan Bangsa

    April 13, 2026
    Berita Daerah Terbaru

    Dewan Siap Cross-Check Realisasi Program Walikota Jogja

    May 25, 2026

    Sambut Rombongan Bhikkhu Sangha, Sri Sultan: Perjalanan Thudong adalah Simbol Harmoni Bangsa

    May 25, 2026
    BERNAS.id

    Office Address :
    Jakarta
    Menara Cakrawala 12th Floor Unit 05A
    Jl. MH Tamrin Kav. 9 Menteng, Jakarta Pusat, 10340

    Yogyakarta
    Kawasan Kampus Universitas Mahakarya Asia,
    Jl. Magelang KM 8, Sendangadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55281

    Email :
    info@bernas.id
    redaksi@bernas.id

    Advertisement & Placement :
    +62 812-1523-4545

    Link
    • Google News BERNAS.id
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    • Kode Etik
    • Verifikasi Dewan Pers BERNAS.id
    BERNAS.id
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    • Google News BERNAS
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    © 2015 - 2026 BERNAS.id All Rights Reserved.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.