SLEMAN, BERNAS.ID – Puluhan perwakilan Eks Pedagang Sunday Morning Universitas Gadjah Mada (Sunmor UGM) mendatangi Rektorat UGM, Kamis (10/8/2023) siang. Mereka menyampaikan surat permohonan audiensi yang kedua kepada Rektor UGM untuk segera mendapatkan kepastian kapan bisa kembali berjualan lagi.
Perwakilan eks Pedagang Sunmor UGM, Nanang Ismantoro menyampaikan, permohonan tersebut bertujuan untuk menagih janji pihak UGM tentang penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) antara pihak UGM dengan Kalurahan Caturtunggal, Depok, Sleman.
Menurutnya, pihak kalurahan kini bertindak sebagai pengelola baru pasar Sunday Morning atau Car Free Day Caturtunggal setelah vakum selama kurang lebih 3 tahun akibat pandemi, dan pergantian pengelola baru oleh Kalurahan Caturtunggal yang prosesnya dirasa memakan waktu terlalu lama.
Baca Juga : Lama Tidak Bisa Berjualan, Pedagang Ex Sunmor UGM Mengadu ke Bupati Sleman
“Kami pedagang Sunmor menyampaikan keinginan untuk mengajukan permohonan audiensi kembali dengan harapan dapat menjelaskan secara detail dampak penutupan usaha Sunmor terhadap para pedagang, UMKM dan masyarakat dan juga lingkungan kampus,” terang Nanang
“Sebelumnya, permohonan audiensi pertama telah diajukan namun hingga saat ini belum mendapatkan tanggapan resmi kepastian jadwal diterima,” imbuhnya.
Penutupan usaha Sunmor UGM telah memberikan dampak yang signifikan terhadap mata pencaharian dan keberlangsungan hidup sekitar 800 hingga 1.000 pedagang yang sebagian besar adalah pelaku usaha mikro kecil. Selain itu, mereka juga menganggap Sunmor sebagai bagian dari identitas kampus dan berkontribusi pada kehidupan kampus yang dinamis.
“Komunitas pedagang Sunmor telah mendapatkan dukungan langsung dari pemerintah Kabupaten Sleman dalam hal ini Bupati Sleman, jajarannya, DPRD Sleman dan Kalurahan Caturtunggal beserta mahasiswa, alumni UGM dan masyarakat umum yang menilai bahwa Sunmor UGM menjadi bagian dari warisan budaya kampus yang sudah dimulai sejak tahun 1989. Banyak yang berharap bahwa UGM akan menunjukkan komitmen untuk menemukan solusi yang menguntungkan semua pihak,” ujarnya.
Baca Juga : BPKH-UGM Bersinergi dalam Pembentukan SDM Berkualitas
Sementara, Ketua Dema Justicia FH UGM, Stevanus Hizkhia yang mendampingi para pedagang mengatakan, pihaknya akan mengawal hingga situasi tersebut selesai. Dema Justicia mengungkapkan bahwa adanya Sunmor membawa dampak positif bagi mahasiswa dan masyarakat sehingga diharapkan ada penyelesaian dari hati ke hati.
“Kami punya sejarah dengan bapak ibu di Sunmor, kami advokasi sejak 2006 dan berlanjut sampai saat ini. Kami mendengar cerita keluh kesah, kami merasa ada hal yang mengganjal. Teman-teman mahasiswa merasa Sunmor membawa dampak positif untuk mahasiswa,” tuturnya.
“Kemarin kami sempat bertemu pimpinan kampus, responnya bagus. Kami tanya persoalan bukan di UGM. Kami ke pihak luar, dilempar lagi katanya dari kampus. Kami coba cari jalan keluar karena tak ada kejelasan mereka berjualan. Kami percaya ini masalah bisa diselesaikan dengan diskusi hari ke hati,” pungkasnya. (cdr)
