SLEMAN, BERNAS.ID – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta selama berdiri 72 lalu, sudah banyak menorehkan prestasi yang harus diterima dengan rasa syukur, senang dan bangga. Hal itu disampaikan Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Al Makin dalam orasi Ilmiahnya pada acara puncak Kelahiran UIN Sunan Kalijagga yang ke-72 Tahun di Gedung Prof Amin Abdullah, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Selasa (26/9/2023).
Baca Juga Syawalan Lintas Iman Pupuk Persahabatan Antar Umat Beragama
Prof Al Makin mengatakan UIN Suka Yogyakarta, seperti yang disampaikan Sunan Kalijaga dalam Serat Likajaya. “kita ikuti air mengalir, keli ananging ora keli”. Kalimat ini memiliki makna yang cukup dalam. Untuk itu, UIN Sunan Kalijaga akan terus mengingat dan menerapkan ungkapan Sunan Kalijaga tersebut.
“UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, akan tetap tenang, jernih, dalam dan bermanfaat bagi semua mahluk hidup baik yang ada dalam maupun yang ada di sekitarnya,” kata Prof Al Makin.
Lanjut tambahnya, saat ini UIN Sunan Kalijaga masih disibukkan akreditasi dan mempertahankan akreditasi unggul. Pertama kali dalam sejarah PTKI, UIN Sunan Kalijaga mendapat akreditasi unggul.
“Sekarang ini UIN Sunan Kalijaga sudah memiliki 26 jurusan terakreditasi unggul seperti Akuntansi Syari’ah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam,” ucapnya.
Untuk meraih itu, Prof Al Makin menyebut peraihan akreditasi unggul membutuhkan kerja keras dan kerja selaras. Mengikuti satu persatu setiap proses akreditasi. Dari protokol menyapa setiap asesor, pelajari kekuatan diri sendiri, pelajari kelemahan diri, kinerja masing-masing Prodi di semua Fakultas.
“Bekerjasama dengan LPM, Dekan, Prodi, Dosen, dan Alumni. Para Dosen juga mendapatkan nikmat berupa Guru Besar. Sejak 2020 sudah 37 Guru Besar telah berhasil dikawal, loloskan, tandatangani dan rayakan,” kata Prof Al Makin.
Ia mengatakan proses satu Guru Besar adalah proyek bersama, semua pihak: Jurusan, Dekan, Kabag dan Staf, juga team Senat atau akademik di Fakultas.
“Tentu semua ini sebuah perkerjaan tersendiri. Di level universitas melibatkan team PAK, Senat, dan Akademik. Secara administrasi merupakan kerja banyak orang, WR 1, dan team akademik mengawal sampai lolos bahkan banding beberapa kali,” ucapnya.
UIN Sunan Kalijaga juga dapat menyelesaikan proyek pembangunan fisik dan fasilitas Gedung dengan baik. Ada tiga proyek besar:
1. Proyek Gedung Kuliah Terpadu, 41.750.000.000 (SBSN 2022).
2. Proyek Taman Ushuluddin, 199 juta (BLU 2022).
3. Proyek pembangunan Gedung Badminton masih berjalan, 24.000.000.000 (BLU 2023).
“Semua itu dilalui dengan dengan kejujuran dan kelurusan hati. Tidak neko-neko dan tidak bermaksud mengambil yang bukan haknya. Maka saat ini UIN Sunan Kalijaga sedang memperjuangan pembangunan kampus terpadu di Pajangan tak kenal putus asa hingga bisa terwujud,” terang Prof Al Makin.
Tema puncak acara yang diangkat “Pemimpin dan Warga Bangsa” terinspirasi dari gambar pemimpin Indonesia di Bandara Sukarno Hatta terminal 2. Di sama ada gambar semua pemimpin Indonesia era proklamasi sampai hari ini.
Menurut Prof. Al Makin, kita adalah rakyat, warga, dan umat. Mahasiswa, Dosen, Tendik, Pegawai adalah rakyat, umat, dan warga negara. Akademisi adalah warga bangsa. Kampus adalah tempat berkumpul mengumpulkan gagasan, ide dan menyamakan semuanya.
Gelar honoris kausa kepada Vatikan, PBNU, dan PP Muhamamdiyah bulan Februari 2023, adalah sumbangan kampus pada pemimpin untuk semua umat. UIN harus menyamankan semua golongan, mazhab, dan aliran.
“Semua harus dilindungi dengan baik. Tetapi, rakyat harus rasional, baik, berbudi, jujur, dan tidak tergoda intrik dan money politic, jika ingin pemimpin yang ideal dan sama.Rakyat harus memulai untuk lurus, tegak, apa adanya, bloko suto, pratelo, jika ingin pemimpin yang begitu. Rakyat tidak menerima apapun untuk memilih pemimpinnya,” urai Prof Al Makin.
Menurutnya, rakyat memegang idealismenya, nilai-nilainya, memilih sesuai hati nurani. Tidak menerima apapun dari yang dipilih dan yang tidak dipilih. Seniman, Akademisi, Budayawan, Penulis, Sastrawan, Aktivis, Mahasiswa, Dosen, Intelektual semua adalah rakyat.
Baca Juga Perkuat Peran Guru Dalam Ciptakan Lingkungan Pendidikan Toleran
Rektor mengajak untuk memulai dari diri sendiri sebelum memilih pemimpin, sebelum menuntut mereka, sebelum menentukan kriteria mereka. Rakyat yang baik akan memilih pemimpin yang baik. “Begitu juga sebaliknya. Yang jujur akan memilih yang jujur. Yang lurus akan memilih yang jujur. Yang toleran, pro-keragaman, pro-antar iman, pro-antar budaya, pro-antar tradisi, pro-kebijakan dan kebajikan akan memilih yang sama,” ucapnya.
“Sebaliknya, jika belum toleran, antariman, kebajikan ya mari mulai dan ubah. Dari diri sendiri. Jangan menghakimi, jangan menilai, jangan memojokkan. Jangan membenci dan menyebar kebencian. Itulah penjelasan dari tema mensyukuri kelahiran UIN Sunan Kalijaga ke 72 tahun,” imbuhnya.
Mengakiri orasinya, Prof Al Makin menyampaikan Kidung ‘Rumekso Ing Wengi’ karya Sunan Kalijaga. Yang dari syair-syairnya mengandung makna: Ada sebuah kidung doa permohonan di tengah malam. “Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setan pun tidak mau mendekat. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat, guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuri pun menjauh. Segala bahaya akan lenyap,” tukas doa permohonannya. (jat)
