MAGELANG, BERNAS.ID – Kawasan lereng Merapi Merbabu mempunyai warisan literatur kuno berupa lontar-lontar yang kini sebagian besar tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta. Lontar tersebut merupakan harta karun spiritual warisan leluhur Jawa yang dulu disebut sebagai para Ajar.
Hal itu terungkap dalam Diskusi Manuskrip Naskah Merapi Merbabu di Studio Mendut Magelang, Jumat 20 September 2024. Ini merupakan rangkaian acara menyambut Festival Lima Gunung ke-23 tahun 2024.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM Dr. Sudibyo Prawiroatmodjo selaku pembicara menerangkan, paling tidak ada 1.000 naskah Merapi Merbabu yang tersebar di berbagai penjuru dunia, termasuk yang ada di Perpustakaan Nasional. Naskah-naskah itu sangat kaya dan bervariasi, mulai dari spiritualitas warisan Hindu-Buddha, ilmu perhitungan Jawa atau pawukon hingga ilmu sufistik. Sayang koleksi naskah ini seperti terabaikan dan tidak banyak yang meneliti maupun mempublikasikan.
“Tidak ada alasan mengabaikan warisan ini,” ujar Sudibyo.
Baca juga: Membaca Lontar Kuno Koleksi Museum Negeri Sonobudoyo Jogja
Ia menjelaskan, sebagian besar teks Merapi Merbabu ditulis di daun lontar. Padahal di kawasan Merapi Merbabu tidak ada pohon lontar. Leluhur Jawa di gunung dahulu menurut dia kemungkinan mendapatkannya dari pesisir utara Jawa di sekitar Semarang.
“Ini membuktikan bahwa masyarakat di sini [gunung] sudah ada pertalian dengan masyarakat di dataran rendah,” kata dia.
Baca juga: Putru, Ajaran Penyempurnaan Roh di Era Jawa Kuno
Pembicara lain, filolog Rendra Augusta menerangkan, meski sering disebut Merapi Merbabu, kawasan skriptorium atau produksi teks lontar kuno itu sebenarnya tidak hanya di kawasan Merapi dan Merbabu. Namun meliputi gunung-gunung lain di sekitarnya.
“Seperti Wilis, Andong, dan Telomoyo,” paparnya.
Ia menambahkan, naskah-naskah kuno dari sana di era kolonial dibawa oleh Belanda ke Batavia. Hanya satu wilayah yang masih menyimpan satu lontar, yaitu Dusun Kedakan di lereng Merbabu.
“Di situ ada satu lontar yang disucikan, hanya dibuka setahun 2 kali, pada tanggal 2 Sapar dan 2 Syawal,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pada tahun 2020 silam, di Inggris ditemukan naskah Merapi Merbabu yang tertua, dari tahun 1493, yang diambil di era pemerintahan Gubernur Jendral Hindia-Belanda Thomas Raffles. Nama naskahnya adalah Sanghyang Hayu, yang kini menjadi naskah dari era Jawa Kuna tertua yang masih eksis.
“Naskah ini justru lestari di tradisi lisan di [suku] Baduy,” tandasnya. (den)
