YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Pasangan calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo dan Wawan Hermawan menaruh perhatian khusus dalam penanganan difable. Paslon yang diusung PDIP ini tidak membatasi penanganan tentang difable menyangkut sebatas fisik saja, namun juga menyebut adanya difable secara mental.
Demikian mengemuka saat Hasto memaparkan jawaban atas pertanyaan panelis dalam acara “Debat Publik” oleh KPUD Kota Yogyakarta, bertempat di Tara Hotel, Jalan Magelang, Jumat malam (8/11/2024). Isi pertanyaannya, Kota Yogyakarta dikenal ramah dengan disabilitas dan berbagai kelompok marginal, bahkan telah memiliki Perda nomor 4 tahun 2019 tentang kemajuan, perlindungan dan pemenuhan hak hak penyandang disabilitas.
“Pertanyaannya, bagaimana strategi paslon untuk memperkuat perlindungan dan akses disabilitas serta kelompok marginal dalam pembangunan ekonomi dan pelayanan publik. Misalnya, administrasi kependudukan dan transportasi umum, sebagai upaya mewujudkan Yogyakarta sebagai kota inklusif,” ungkap moderator saat membacakan pertanyaan.
Baca Juga : Ibaratkan Tokoh Pendawa dalam Pewayangan, Hasto: Jauhi Sifat Sengkuni di Pilkada 2024
Hasto melihat pelayanan untuk warga yang difable maupun yang rentan di Kota Yogyakarta masih sangat penting untuk diperhatikan. “Kalau saya melihat di jalan Tamansiswa tampak ramai sekali namun trotoarnya tidak ada. Sulit sekali saya bayangkan, bagaimana difable bisa jalan disitu,” kata Hasto saat berkesempatan menyampaikan jawaban.
Tidak hanya di jalan Tamansiswa, kondisi trotoar yang tidak memadai juga ditemukan di jalan Pasar Kembang. ”
Kemudian saya melihat di lorong – lorong ada yang stroke, saya bayangkan ketika dia mau ke puskemas saja dia tidak bisa karena lorongnya terlalu sempit,” bener Hasto.
Hasto berkomitmen menghadirkan layanan satu kampung satu bidan, untuk menjangkau pemerintah hadir ke rumah – rumah warga.
Bupati Kulonprogo periode 2011 – 2016, 2016 – 2019 ini juga melihat bahwa difable tidaklah hanya masalah fisik semata. Namun juga ada difable intelektual seperti halnya down syndrom.
Baca Juga : Datangi Bawaslu Jogja, Aliansi Advokat Tanyakan Dugaan Money Politik Istri Cawali
“Inikan tidak cukup untuk disediakan dalam pendekatan fisik tapi harus ada layanan lainnya yang memadai. Sebab difable juga ada difable yang menyangkut masalah mental. Sehingga ketika banyak mental illness, mental disorders inikan banyak sekali layanan yang harus kita lakukan,” katanya.
Hasto mengaku munculnya kasus kekerasan, kasus klitih, kasus miras tak lepas dari pengaruh kondisi difable secara mental. “Kita tahu di Jogja ada Klitih, ada kekerasan, ada miras yang harus diatasi. Sebetulnya latar belakangnya karena difable mental,” ucapnya.
Oleh karena itu jika terpilih memimpin pemerintah Kota Yogyakarta, pihaknya akan menyediakan Healthy Center. “Untuk memperhatikan remaja – remaja, anak – anak yang menuju difabilitas tidak hanya fisik saja tetapi mental dan juga intelektual,” ungkapnya. (age)
