JAKARTA, BERNAS.ID – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengecam keras tindakan penembakan yang dilakukan oleh anggota Polri di Semarang dan Bangka Belitung.
Peristiwa tragis ini menambah daftar panjang pelanggaran serius oleh aparat kepolisian yang menyalahgunakan senjata api hingga menyebabkan hilangnya nyawa warga sipil.
Baca Juga : Penembakan Pria di Sidoarjo, Pelaku Cemburu karena Istri Pernah Digoda Korban
Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, mendesak Polri untuk memberikan sanksi tegas kepada anggota yang terlibat, termasuk Pemecatan Tidak Dengan Hormat (PTDH) dan proses hukum pidana yang transparan.
“Polri harus segera menjatuhkan hukuman berat kepada anggota yang terlibat dalam penembakan ini. Proses hukum harus dilakukan sesuai dengan kewenangan penyelidikan dan penyidikan,” tegas Dimas dalam pernyataannya dikutip Jumat (30/11/2024).
Peristiwa pertama terjadi di Kota Semarang pada Minggu, 24 November 2024. Gamma Rizkynata Oktafandy, seorang siswa SMKN 4 Semarang yang juga anggota Paskibra, meninggal dunia setelah ditembak oleh Aipda Robig Zaenudin, anggota Satres Narkoba Polrestabes Semarang. Selain Gamma, dua orang lainnya, A dan S, turut mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Baca Juga : Jumlah KKB di Papua Lebih 1.400, Kapolri: Stabilitas Papua Jadi Tantangan Serius
Di hari yang sama, insiden serupa terjadi di kebun kelapa sawit PT. Bumi Permai Lestari (PBL), Bangka Belitung. Seorang warga Desa Berang bernama Benny ditembak hingga tewas oleh anggota Brimob Polda Bangka Belitung setelah dituduh mencuri kelapa sawit.
KontraS menilai tindakan ini sebagai bukti nyata buruknya kontrol penggunaan senjata api oleh anggota Polri. “Tindakan seperti ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap penggunaan senjata api oleh aparat, yang berujung pada hilangnya nyawa warga sipil secara tragis,” kata Dimas.
KontraS menuntut Polri melakukan reformasi menyeluruh dalam pengelolaan senjata api di kalangan anggotanya serta memberikan keadilan bagi para korban. “Kami meminta agar kasus ini diusut tuntas dan para pelaku dihukum seberat-beratnya. Ini adalah upaya untuk memastikan agar peristiwa serupa tidak terulang kembali,” pungkas Dimas.
Peristiwa ini kembali menjadi sorotan publik akan pentingnya penegakan hukum yang tegas dan akuntabel terhadap aparat keamanan yang menyalahgunakan wewenang mereka. (DID)
