JAKARTA, BERNAS.ID – Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi menjadi perhatian khusus Presiden Prabowo Subianto.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, Beliau (Presiden Prabowo), menyampaikan bahwa ini adalah masalah kejahatan extraordinary yang harus menjadi perhatian kita semua,” ujar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo , dalam acara Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2024 yang berlangsung di Gedung PTIK, Jakarta Selatan, Senin (9/12/2024).
Kapolri mengungkapkan, pemberantasan korupsi membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, tidak hanya dari aparat penegak hukum, tetapi juga semua pemangku kepentingan yang bertanggung jawab terhadap pencegahan hingga penegakan hukum. Sinergi yang kuat antara seluruh elemen masyarakat diperlukan untuk menciptakan perubahan nyata.
Baca Juga : Menko Polkam Apresiasi Kinerja KPK dalam Pemberantasan Korupsi
“Masih terlalu banyak kebocoran, penyelewengan, korupsi, penyimpangan, kolusi di antara para pejabat politik, pejabat pemerintah di semua tingkatan, dan pengusaha nakal yang tidak patriotis,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, Kapolri juga meluncurkan dua buku pendidikan antikorupsi, yakni Pendidikan Antikorupsi Transdisiplin dan Buku Orang Baik Belajar Antikorupsi (BOBA). Buku-buku ini diharapkan menjadi panduan penting dalam memperkuat pendidikan antikorupsi di Indonesia.
Buku Pendidikan Antikorupsi Transdisiplin ditulis oleh sejumlah tokoh yang berpengalaman dalam pemberantasan korupsi, termasuk Jenderal Sigit sendiri. Sedangkan BOBA merupakan hasil kolaborasi Satgassus Pencegahan Tipidkor Polri dengan Universitas Islam Indonesia (UII).
Baca Juga : Lima Tahun Kinerja KPK, Tindak 597 Perkara dan Pulihkan Aset Rp2,49 Triliun
Kapolri memberikan ruang yang luas bagi para penulis untuk mengupas isu korupsi secara mendalam, termasuk masalah yang ada dalam institusi Polri. “Bahasanya pedas karena memang itu mencerminkan realitas sehari-hari, termasuk perilaku birokrat dan institusi Polri yang perlu kita perbaiki,” ucap Kapolri.
Berharap, kedua buku tersebut dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif bagi masyarakat dan memperkuat komitmen kolektif dalam memerangi korupsi di Indonesia.
“Belajar dari pengalaman dan peristiwa yang ada, kita bisa melakukan evaluasi dan perbaikan ke depan,” tutupnya. (FIE)
