JAKARTA, BERNAS.ID – Pembangunan Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, yang baru saja dimulai, merupakan langkah maju untuk pengelolaan air limbah di Jakarta. Namun, proyek besar ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam hal dampak sosial terhadap masyarakat sekitar.
Pj Gubernur DKI Jakarta, Teguh Setyabudi, mengakui bahwa proyek ini berpotensi menyebabkan gangguan bagi warga sekitar selama proses konstruksi. “Mungkin ada gangguan-gangguan atau ada warga yang terganggu, saya mohon pengertian dan dukungannya agar proses pembangunan ini bisa berjalan dengan lancar,” ujarnya.
Baca Juga : Pj Gubernur DKI Jakarta Buka Kegiatan “Jakarta Future: Shaping Tomorrow Together”
Gangguan yang dimaksud mencakup potensi kemacetan di kawasan TB Simatupang, gangguan aktivitas warga, serta kebisingan akibat pekerjaan konstruksi. Dengan lokasi yang strategis di kawasan pusat aktivitas komersial dan permukiman, proyek ini membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat untuk memastikan keberhasilan pengerjaan.
Selain dampak langsung selama pembangunan, pengelolaan air limbah juga menghadapi tantangan besar dalam sosialisasi kepada masyarakat. Pj. Gubernur Teguh menyoroti bahwa banyak warga masih belum memiliki kesadaran tentang pentingnya pengelolaan air limbah.
“Banyak warga yang masih Buang Air Besar sembarangan (BABs), bukan karena tidak memiliki toilet, tetapi karena tidak memahami pentingnya pengolahan air limbah domestik secara berkala,” jelasnya.
Baca Juga : Pemprov DKI dan DPRD Sepakati Anggaran Rp 2,3 Triliun untuk Program Sekolah Gratis 2025
Tantangan ini mencakup edukasi tentang pentingnya sistem pengelolaan air limbah untuk kesehatan dan lingkungan, serta mendorong warga untuk mendukung pembangunan infrastruktur tersebut. Sosialisasi yang melibatkan RT, RW, lurah, dan camat menjadi kunci untuk memastikan proyek ini berjalan sesuai rencana.
Proyek ini juga menghadirkan peluang besar melalui pemanfaatan lahan idle milik PAM Jaya di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Cilandak. Menurut Direktur Utama PAM Jaya, Arif Nasruddin, lahan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk SPALD-T, tetapi juga untuk pembangunan fasilitas lain, seperti green house guna mendukung ketahanan pangan.
“Ini menjadi model sinergi antara PAM Jaya dan Paljaya untuk menghadirkan solusi terpadu bagi air bersih, air limbah, dan pangan,” ungkap Arif.
Warga menyambut baik inisiatif ini, tetapi mengharapkan agar proses pembangunan dilakukan dengan meminimalkan gangguan. Siti, seorang warga Pasar Minggu, mengatakan, “Kami mendukung pembangunan ini karena manfaatnya besar. Tapi kami berharap pemerintah bisa memberikan informasi yang jelas jika ada dampak, seperti kemacetan atau gangguan listrik.”
Dengan target tahap pertama selesai dalam 18 bulan dan menjangkau lebih dari 114.000 jiwa di tiga kecamatan, proyek ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan air limbah. Dukungan penuh dari berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan pembangunan SPALD-T sebagai salah satu solusi modern untuk Jakarta. (DID)
