JAKARTA, BERNAS.ID – Pramono Anung dan Rano Karno segera dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2024-2029. Namun, di balik euforia pelantikan, sederet isu krusial menanti perhatian mereka. Ketua DPD Demokrat Jakarta, Mujiyono, menyoroti sembilan tantangan besar yang harus segera dibenahi oleh kepemimpinan baru ini.
Kemacetan menjadi masalah klasik yang membutuhkan solusi konkret. Mujiyono menekankan pentingnya memperluas program transportasi massal seperti MRT, LRT, BRT, dan integrasi antarmoda. Ia juga menyarankan penerapan jalan berbayar elektronik (ERP) untuk membatasi kendaraan pribadi, khususnya di kawasan aglomerasi Jabodetabekjur.
Baca Juga : Unggah Foto Bersama Pramono dan Rano, RK Sampaikan Pesan Damai Demokrasi
Banjir menjadi tantangan utama yang memerlukan pendekatan jangka panjang. Langkah seperti normalisasi sungai, pembangunan tanggul laut, dan kerja sama dengan kota-kota penyangga dinilai esensial. “Infrastruktur pengendali banjir harus segera dituntaskan,” ujar Mujiyono.
Masalah permukiman kumuh yang masih dihuni sekitar 23% penduduk Jakarta juga menjadi perhatian. Demokrat mendorong Pramono-Rano untuk mengembangkan Program Konsolidasi Tanah Vertikal (KTV) dan memberikan akses pendidikan gratis berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Permukiman padat penduduk yang rentan kebakaran memerlukan peningkatan sarana penanggulangan. Di sisi lain, cakupan air bersih yang baru mencapai 60% harus ditingkatkan. “Peningkatan anggaran untuk air bersih dan pengurangan kebocoran air yang mencapai 40% menjadi pekerjaan rumah,” ungkapnya.
Baca Juga : Kekosongan Jabatan Definitif di DKI Bakal Hambat Kinerja ASN
Mujiyono meminta perhatian khusus pada pelestarian budaya Betawi, yang dianggap masih kurang diintegrasikan dengan wajah kota. Ia juga mendorong pengembangan Kepulauan Seribu sebagai destinasi wisata pesisir yang berpotensi besar.
Tingkat polusi udara di Jakarta juga menjadi sorotan. Mujiyono menyarankan peningkatan persentase RTH dan pembatasan kendaraan pribadi sambil terus memperbaiki transportasi publik.
Terakhir, ia menekankan perlunya sistem merit yang diterapkan secara tegas dalam manajemen ASN agar tidak ada lagi jabatan kosong yang diisi sementara oleh PLT.
Tantangan-tantangan ini mengingatkan bahwa Jakarta di bawah kepemimpinan Pramono-Rano membutuhkan aksi cepat, strategis, dan kolaboratif untuk menjawab aspirasi warganya. “Transformasi Jakarta akan membutuhkan kepemimpinan visioner yang peka terhadap berbagai isu mendesak,” pungkas Mujiyono. (DID)
