BERNAS.ID – Kondisi saat ini sangat dipengaruhi oleh teknologi informasi dan komunikasi, terlihat dari electronic devices yang dibutuhkan manusia setiap saat. Mulai dari handphone dengan harga terjangkau hingga gadget mewah berteknologi tinggi untuk kebutuhan pekerjaan dan juga bagi sebagian orang sebagai prestige.
Era revolusi industry 4.0 sebelumnya yang mengantarkan fenomena tersebut kini telah bertransformasi ke era society 5.0 ; menstabilkan hidup manusia di tengah kehidupan ‘teknologi digital’ dengan mengedepankan aspek humanis.
Hal tersebut tetap berpengaruh pada trend wisata masa depan. Berdasar travel trend paska pandemic COVID-19 hingga tahun 2024, ke depannya travel trend akan diisi dengan pola dan model berwisata sebagai berikut :
Baca Juga : IHGMA DIY Bahas Ekosistem Pariwisata Kedepannya
a. Seek and Find It
Fenomena “viral” tetap menjadi pertimbangan untuk berwisata. Viralnya tempat wisata yang unik, makanan khas, insta-photo spot dan lainnya. Mirip dengan model ‘goods getaway’ dimana mengunjungi destinasi wisata yang jauh sekalipun karena ada produk / objek yang viral. Model ini menggabungkan konsep sebelumnya yakni adventure tourism (wisata petualangan), educational tourism (wisata pendidikan), rural tourism (wisata pedesaan) hingga nomadic tourism (wisata berpindah-pindah).
Contohnya : Pulau Komodo walaupun destinasi yang sudah terkenal sejak lama, namun jika seseorang belum pernah mengunjunginya dan jauh dari tempat tinggalnya akan tetap ingin mencari destinasi ini ketika sudah siap segala hal untuk berwisata.
b. FOMO to JOMO
Jika sebelumnya orang berwisata karena takut dan khawatir ketinggalan sesuatu yang lagi viral (fear of missing out – FOMO), trend berikutnya juga adalah lebih menikmati wisata yang dijalani dengan baik dan santai (joy of missing out – JOMO).
Baca Juga : Buku Tata Kelola Desa Wisata Diluncurkan di Jakarta
Mirip dengan model ‘detour destination’ yakni mencari alternatif tempat wisata lainnya di destinasi pariwisata utama untuk menghindari kemacetan dan kepadatan wisatawan agar dapat lebih menikmati suasana berwisata.
Contohnya : Ubud di Bali terkenal dengan berbagai penghargaan internasional, ke depannya wisatawan yang ke Ubud juga akan mengunjungi Desa Wisata Taro yang semakin dikenal dan viral karena prestasi sebagai juara di ajang lomba pada Kemendesa PDTT, UN Tourism dan sebagainya.
c. One-Click Experience ;
Eera digital semakin menantang dan menyediakan tawaran lebih praktis. Tidak cukup hanya dengan booking via OTA di HP dan pembayaran via online, pengalaman digital ketika berwisata meliputi : tidak lagi menyewa kendaraan harian atau rent car dan beralih ke transportasi online yang lebih murah dan mudah didapat melalui aplikasi digital, menghindari antre saat check in di hotel melalui mobile check in, paket wisata bundling package dengan berbagai benefit dari merchant provider, pemesanan makanan model room service via aplikasi dan sebagainya.
Demikian gambaran 3 hal sebagai prediksi trend wisata 2025. Bahwa kecenderungan trend yang tampak dalam industri pariwisata didominasi oleh pengaruh penerapan teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital meliputi bidang :
1) penyediaan produk dan fasilitas yang lebih lengkap dan bervariasi;
2) konsep pelayanan yang lebih cepat / responsive dan praktis;
3) sistem tata kelola yang lebih terintegerasi dan inovatif;
4) strategi pemasaran yang lebih global dan fleksibel; dan
5) kesadaran dan kemampuan untuk penerapan konsep sustainability melalui jejaring, ramah lingkungan dan upaya penguatan reputasi merek dan bisnis.
Penulis :
Ketut Swabawa
(Praktisi Pariwisata)
