JAKARTA, BERNAS.ID – Dalam dunia penyiaran Indonesia, nama Donny de Kaizer bukanlah sosok asing. Lebih dari tiga dekade ia berkecimpung di industri media, melewati berbagai tantangan sebagai jurnalis, penyiar, hingga pengusaha di bidang komunikasi. Namun, di balik kesuksesannya, tersimpan perjalanan hidup yang penuh warna, dari seorang wartawan Istana yang bergelimang prestasi hingga mengalami keterpurukan yang membuatnya harus memulai dari nol.
Kini, Donny telah bangkit kembali. Ia menjalankan berbagai peran sebagai penyiar, pengusaha, mentor, dan juga seorang ayah yang tetap mengutamakan keluarga di tengah kesibukan profesionalnya. Bagaimana kisahnya? Mari kita telusuri perjalanan inspiratif Donny de Kaizer.
Lahir di Makassar, Donny Perdana de Kaizer, lebih dikenal Donny de Kaizer tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang yang unik. Ayahnya adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) berdarah Belanda-Manado, sementara ibunya berasal dari keluarga pendidik. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan disiplin dan nilai-nilai pendidikan yang kuat.

Setelah lulus SMP, Donny berencana melanjutkan pendidikan di Bandung. Namun, karena kendala pendaftaran, ia akhirnya merantau ke Yogyakarta dan bersekolah di sebuah SMA yang bernaung dalam satu yayasan dengan pesantren. Awalnya, ini bukan bagian dari rencananya, tetapi justru di tempat inilah ia menemukan ketertarikannya pada dunia broadcasting dan jurnalistik.
Saat itu, pendidikan kejuruan di bidang penyiaran belum banyak tersedia, sehingga Donny tidak bisa langsung masuk ke SMK yang sesuai dengan minatnya. Namun, semangatnya tidak padam. Ia tetap berusaha menggali ilmu penyiaran secara otodidak dan mulai menekuni dunia media dengan berbagai cara.
Perjuangan di Dunia Jurnalistik
Selepas SMA, Donny memutuskan untuk mengejar impiannya di dunia broadcasting dengan kuliah di Akademi Komunikasi Indonesia (Akindo) Yogyakarta. Untuk membiayai studinya, ia bekerja di TVRI, sebuah keputusan yang mengawali perjalanan panjangnya di dunia jurnalistik.
Demi meningkatkan pendidikan, Donny kemudian melanjutkan kuliah S1 di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Perjalanan Jogja-Solo yang jauh tidak menyurutkan semangatnya. Ia harus bolak-balik menggunakan kereta ekonomi Paramex, menjalani hari-hari yang padat dengan kuliah di satu kota dan bekerja di kota lain.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Kariernya di TVRI semakin menanjak, hingga akhirnya pada 2004 ia dipindahkan ke Jakarta. Inilah titik balik dalam hidupnya, Donny dipercaya sebagai wartawan Istana Kepresidenan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Sebagai wartawan Istana, Donny memiliki tugas besar meliput dan menyiarkan berita-berita penting dari pusat pemerintahan. Ia menjadi bagian dari sejarah, menyampaikan informasi langsung dari lingkaran kekuasaan kepada masyarakat luas. Salah satu program yang paling lekat dengan namanya adalah “Dunia Dalam Berita”, sebuah tayangan berita unggulan TVRI.

Dari Puncak Kesuksesan ke Titik Terendah
Pada 2010, Donny mengambil langkah berani dengan meninggalkan TVRI dan bergabung dengan BeritaSatu TV, stasiun televisi berita milik Lippo Group. Ia ikut membangun dan mengembangkan stasiun tersebut hingga menjadi salah satu kanal berita terkemuka di Indonesia.
Di saat yang sama, Donny mulai merintis bisnisnya sendiri di bidang komunikasi dan pelatihan. Perusahaannya berkembang pesat, dan memiliki hampir 100 karyawan, berkantor di gedung empat lantai, dan menangani proyek-proyek besar dari berbagai instansi pemerintah dan swasta.
Namun, roda kehidupan berputar. Kesuksesan itu tidak bertahan lama. Kesalahan dalam manajemen serta pengkhianatan dari rekan bisnisnya membuat Donny kehilangan segalanya; rumah, tabungan, kendaraan, bahkan kepercayaan dirinya.
“Saya sempat menangis tujuh malam berturut-turut,” kenangnya. “Dulu saya bekerja di Istana, dikelilingi orang-orang penting. Lalu tiba-tiba saya tidak punya apa-apa.”
Donny harus menghadapi kenyataan pahit: memulai hidup dari nol. Ia bahkan harus mencicil utang selama lima tahun untuk melunasi kerugian yang ia alami.
Bangkit dari Keterpurukan
Kegagalan tak membuat Donny menyerah. Ia bangkit dan kembali ke dunia media dengan bergabung di Nusantara TV. Di sana, ia masih aktif sebagai penyiar, membuktikan bahwa semangatnya di dunia broadcasting tidak pernah padam.
Sementara itu, bisnisnya pun kembali dirintis. Comunicasting, lembaga pelatihannya di bidang broadcasting, public speaking, dan media, tetap berjalan meski harus beradaptasi dengan model baru. Saat pandemi COVID-19 melanda, Donny dengan cepat mengubah operasionalnya menjadi pembelajaran daring dan berbasis digital.
Tak hanya itu, Donny juga mendukung usaha keluarganya di bidang kuliner. Anaknya mengelola sebuah kafe, sementara sang istri menjalankan bisnis katering di kawasan Puri, Jakarta Barat.

Menjaga Keseimbangan antara Karier dan Keluarga
Di tengah kesibukannya, Donny tetap mengutamakan keluarga. Ia memiliki enam anak dan masih menyempatkan diri untuk mengantar mereka ke sekolah setiap pagi.
“Bagi saya, keluarga adalah segalanya. Saya tidak ingin kesibukan membuat saya jauh dari anak-anak,” ujarnya.
Kini, meskipun hampir memasuki usia 50 tahun, Donny tidak berniat untuk berhenti. Ia ingin lebih fokus pada media digital, seperti podcast dan platform online, agar tetap relevan di industri yang terus berkembang.
Buat Generasi Muda Sukses Butuh Tujuan, Prasangka Baik, dan Tantangan
Donny menekankan pentingnya memiliki tujuan yang jelas dalam hidup. “Kalau kita punya tujuan, kita pasti merencanakan. Memang kita tidak tahu hasilnya seperti apa, tapi tanpa tujuan, kita hanya menghabiskan energi tanpa arah,” ujarnya.
Ia mengibaratkan perjalanan hidup seperti berkendara ke Monas—perlu rencana dan kesiapan menghadapi rintangan di jalan.
Dalam menghadapi tantangan, Donny mengajak generasi muda untuk selalu berpikir positif. “Orang sering bertanya, ‘Tuhan, kenapa?’ Tapi Tuhan bisa saja menjawab, ‘Kenapa tidak?’ Hidup itu adil, hanya saja kita sering tidak menyadarinya,” katanya.
Ia percaya bahwa setiap masalah membawa pelajaran, seperti ujian yang harus dihadapi sebelum naik kelas.
Menurut Donny, kesuksesan memiliki banyak indikator, dan tidak melulu soal materi. “Jangan mudah puas diri, terus tantang diri untuk jadi lebih baik,” pesannya. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan sejati adalah tentang pertumbuhan dan pencapaian yang lebih bermakna dalam hidup.
Bangkit dan Bersyukur dalam Setiap Proses
Dari seorang wartawan istana yang pernah menikmati kejayaan, hingga harus berjualan risol di pagi hari, Donny telah melalui berbagai fase kehidupan. Ia adalah bukti nyata bahwa hidup selalu memberi kesempatan kedua bagi mereka yang mau berjuang.
“Saya belajar bahwa kesombongan bukan hanya soal meremehkan orang lain, tetapi juga merasa terlalu percaya diri tanpa menyadari keterbatasan diri,” ujarnya.
Kini, Donny menjalani hidup dengan lebih bersyukur dan lebih memprioritaskan kesehatan mental serta kebahagiaan keluarga.
Ia percaya, setiap orang punya zona waktunya sendiri dalam mencapai kesuksesan, dan yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita sampai di puncak, tetapi bagaimana kita menghadapi tantangan dengan ketahanan, adaptasi, dan semangat pantang menyerah.
Kisah Donny de Kaizer adalah inspirasi bagi kita semua, bahwa gagal bukan berarti selesai, tetapi adalah kesempatan untuk bangkit lebih kuat dari sebelumnya. (DID)
