JAKARTA, BERNAS.ID – Reaksi dari kepala komunikasi Kantor kepresidenan Hasan Nasbi terus mendapatkan kritik.
Pengamat Politik Ray Rangkuti tidak menyangka atau menduga, kata-kata seperti dapat keluar dari seorang kepala komunikasi presiden. Di mana ucapan dan tindakannya tidak lagi semata mencerminkan dirinya, tapi mencerminkan pemerintah dan bahkan negara.
“Maka jika kalimat seperti itu keluar dari lisan seorang pejabat negara, maka kepada siapa kita mengharap teladan dalam berbangsa, “ ucap Ray dalam keterangannya, Sabtu (22/3/2025).
Menurut Ray, Hasan Nasbi adalah kaum terpelajar yang masuk ke ranah politik formal. Sebagai seorang terpelajar, tentu berharap bukan sekedar jadi politisi umumnya, tapi politisi yang mencerminkan bagaimana ilmu pengetahuan di atas segala ambisi dan kuasa. Seorang politisi yang menggambarkan bagaimana pengetahuan bekerja di ranah politik. Maka, kebijakan dan rasionalitas yang dikedepankan. Mengungguli semua bentuk ketidaksukaan, atau bahkan dendam. Politisi terpelajar itu akan membuat politik lebih rasional dan dengan sendirinya lebih beradab.
Baca Juga :Koalisi Masyarakat Sipil Kritik Kepala Komunikasi Kepresidenan Soal Teror Wartawan Tempo
“Tapi kalimat “itu bisa dimasak”, jelas menggambarkan suatu perasaan yang marah, emosi bahkan bernuansa dendam. Ada apa antara Hasan Nasbi dengan Tempo. Apa kiranya yang membuat Tempo seperti sesuatu yang tidak patut dan layak dilindungi keselamatannya? Alih-alih dilindungi, malah disudutkan dengan kata-kata seperti di atas, “ sesal Ray.
Dan tidak cukup sampai di situ, terus dipojokan dengan istilah itu urusan Tempo sendiri. Jelas, kalimat kedua menunjukan pemerintah seperti lepas tangan dari keselamatan warga negara. Siapapun dia, bahkan seorang kriminal sekalipun, wajib mendapatkan perlindungan keselamatan dari negara. Tanpa kecuali.
“Maka kalimat saudara Hasan Nasbi tersebut seperti melepaskan kewajiban pemerintah itu. Jelas, pemerintah yang tidak menjamin keselamatan warga negara adalah pemerintah yang tidak layak untuk memerintah,” pungkas Ray.
Sementara itu pernyataan bahwa reaksi awak Tempo dengan bercanda, jadi sebab pemerintah tidak peduli pada ancaman keselamatan awak Tempo adalah dalih yang tidak absah. Ekspresi seseorang yang mendapat teror tidak dapat dipaksakan dengan model tertentu. Pemerintah lepas tangan karena ekspresi korban tidak sesuai yang mereka bayangkan atau inginkan menunjukan bibit otoritarianisme. Meminta segala hal sesuai dengan keinginan, arahan, dan bahasa kekuasaan adalah watak otoritarianisme dari kekuasaan. Apakah kiranya pernyataan Hasan Nasbi itu mengandung hal tersebut?
Baca Juga :Komnas Ham Desak Aparat Kepolisian Segera Tangkap Pelaku Teror Wartawan Tempo
“Sebaiknya saudara Hasan Nasbi untuk mengambil cuti atau bahkan mundur dari jabatannya. Mungkin beliau sedang mengalami persoalan yang rumit. Dengan cuti, saudara Hasan Nasbi kiranya bisa lebih fokus untuk menyelesaikan persoalan rumit tersebit. Tapi jika memang posisi ini dirasa tidak lagi sesuai dan pas dengan beliau, memilih mundur merupakan jalan terhormat, “ kata Ray.
Atau kata Ray, Nasbi bisa kembali ke kampus atau dunia akademik, mungkin akan dapat membuat bakat, pengetahuan dan kepuasaan akal saudara Hasan Nasbi lebih tercapai. Politik ini, nampaknya, telah mengubah karakter cendekiawan beliau menjadi politisi yang umumnya kita kenal dalam kultur politik Indonesia. Yakni politisi yang melihat politik sebagai ajang perebutan kekuasaan, bukan perwujudan idealisme dan intelektualisme.
“Tentu, tak kalah pentingnya agar saudara Hasan Nasbi meminta maaf, bukan saja kepada Tempo, tapi juga kepada rakyat Indonesia. Bila negara tak jua mampu mensejahterakan warganya, setidaknya mereka menjamin hak hidupnya,” tutup Ray. (FIE)
