JAKARTA, BERNAS.ID – Di tengah pesatnya kemajuan kecerdasan buatan (AI), pemahaman publik yang masih menganggap AI sekadar alat teknis dinilai terlalu naif. Menurut Cooky T. Adhikara, Founder & CEO CERVO ID Group sekaligus Pengurus Yapsekarta, AI kini telah menjelma menjadi kekuatan budaya yang turut menyusun ulang cara manusia berpikir, berinteraksi, dan bahkan memaknai hidup itu sendiri.
“Teknologi bukan lagi sekadar kebutuhan. Ia telah menjadi bagian intrinsik dari tatanan sosial,” ujar Cooky dalam wawancara mendalam. Menurutnya, AI tak hanya menjadi alat bantu, tapi juga co-creator dan aktor budaya aktif yang membentuk norma, nilai estetika, hingga pola interaksi sosial baru.
Konsep cognification, yakni keterlibatan mesin dalam proses berpikir dan ekspresi kultural, menurut Cooky membawa AI pada posisi sebagai produsen budaya. AI bahkan telah menjadi mitra epistemologis baru, turut memengaruhi produksi dan penyebaran pengetahuan. Namun, kehadiran algoritma dalam membentuk pemahaman manusia juga menyiratkan risiko bias, dan bahkan lahirnya realitas yang hibrida.
Baca juga : Cooky: Indonesia Harus Berani Hadapi Greenflation, Bukan Hanya Punya Komitmen
Lebih jauh, Cooky menyoroti pergeseran nilai dalam ranah seni, sastra, dan budaya yang kini turut dikonstruksi oleh AI. Salah satu fenomena paling mencolok adalah deepfake berduka, yaitu penciptaan avatar digital dari orang-orang yang telah meninggal. “Ritus kematian yang dulu dianggap sakral kini menjadi pengalaman hibrida. Ini mencerminkan pergeseran mendalam dalam cara kita menghadapi kematian,” ungkapnya.
AI, kata dia, juga secara diam-diam mulai menggeser makna autentisitas dan ekspresi personal. Puisi atau lukisan yang diciptakan oleh algoritma tidak lagi semata produk teknis, melainkan representasi dari interpretasi budaya baru. Konsekuensinya, menurut Cooky, adalah munculnya refleks budaya digital yang secara perlahan mengikis identitas personal dan kesadaran diri kritis manusia.
“AI tidak hanya tahu kita dari data, tetapi juga membentuk cara kita melihat diri kita sendiri,” katanya. Sistem algoritma yang mengatur konten, kebiasaan, hingga perilaku konsumsi informasi telah menimbulkan gejala cultural automation, di mana sistem mulai menggantikan kebiasaan sosial manusia.
Baca Juga : Pahami Gen Z Lewat Data dan Vibes, Kunci Bertahan di Pasar Masa Kini
Cooky menekankan, menyebut AI hanya sebagai teknologi adalah kesalahan konseptual yang mendasar. “AI adalah artefak budaya sekaligus agen budaya. Karena itu, kita memerlukan kearifan budaya, cultural stewardship, untuk memastikan AI memperkaya, bukan menggantikan, kemanusiaan,” tegasnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis etika semata tidak cukup. Dibutuhkan pemahaman lebih dalam terhadap dampak sosial dan humanistik dari AI. Ia menyerukan keterlibatan aktif bukan hanya dari para pemikir budaya dan teknologi, tetapi juga masyarakat luas serta peran negara melalui kebijakan dan regulasi.
Cooky mengakhiri dengan sebuah refleksi yang menggugah: “Di era ketika kita tak lagi bisa membedakan mana yang otentik dan mana yang buatan, pertanyaan mendesaknya bukan lagi ‘apa itu AI?’, tapi ‘apa arti menjadi manusia ketika budaya itu sendiri dikodekan oleh mesin?’.”
Menurutnya, inilah saatnya teknologi dan humanisme diselaraskan. Bahwa inovasi harus kembali pada tujuan dasarnya: mendukung kolaborasi manusia, bukan menggantikan esensinya.
“Tanpa kesadaran budaya, kita bukan hanya akan kehilangan kontrol atas teknologi, tapi juga kehilangan arah tentang siapa kita sebagai manusia.” (DID)
