YOGYAKARTA, BERNAS.ID -Festival seni rupa kontemporer tahunan, ARTJOG, kembali hadir pada 20 Juni hingga 31 Agustus 2025 di Jogja National Museum. Ini menjadi penutup dari trilogi MOTIF yang dirancang bersama kurator Hendro Wiyanto sejak tahun 2023.
ARTJOG tahun ini lewat program Spotlight mempresentasikan karya seni instalasi berjudul Eudaimonia dari aktor Reza Rahadian sebagai bagian dari proyek seni untuk memperingati 20 tahun kariernya dalam dunia seni peran. Merujuk pada filsafat Yunani kuno, ‘eudaimonia’ dapat diartikan sebagai kebahagiaan sejati yang lahir dari tujuan bermakna. Harapannya, karya ini dapat menandai sebuah proses perjalanan tanpa kata usai untuk mencari keseimbangan hidup, serta menemukan capaian baru yang juga bermanfaat bagi orang banyak orang.
Karya Eudaimonia merupakan hasil kolaborasi Reza Rahadian dengan sejumlah seniman dan kreator lintas bidang, seperti Garin Nugroho (Sutradara), Siko Setyanto, (Koreografer), Aditya Surya Taruna (Komposer), Andra Matin (Arsitek), dan Davy Linggar (Fotografer dan Videografer).
“Durasinya lima menit,” ungkap Reza Rahardian, Jumat (20/502025) menjelaskan karya visualnya yang dilarang untuk direkam atau dipotret pengunjung itu.
Salah satu karya lain yang menarik adalah Vortex Line karya Venzha Christ, yang ditampilkan bersama dengan kurang lebih 25 seniman dan komunitas lainnya. Penemuan Vortex Line berawal dari ketidaksengajaan tim dari Indonesia Space Science Society (ISSS) mendapati beberapa titik penampakan anomali yang terjadi di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada akhir 2024, dari pengamatan dan pengembangan berbagai kegiatan riset yang diinisiasi ISSS dalam ranah astronomi, geospasial, dan elektromagnetik yang berkolaborasi dengan berbagai lembaga dan komunitas di Indonesia, ditemukan koneksitas serta simpul-simpul area yang sangat spesifik di Yogyakarta. Penemuan ini menjadi garis imajiner baru yang membentang dari timur dan barat Yogyakarta.
Dalam presentasi Vortex Line di Artjog 2025, Venzha dan ISSS menampilkan materi perangkat elektronik, robotika, buku, novel Vortex Line, dokumentasi Vortex Line, mesin DIY, ilustrasi Vortex Line, animasi Vortex Line, dan replika alien Vortex Line.
Baca juga: ARTJOG 2024 Sajikan Karya Spesial Agus Suwage dan Titarubi
Pada program pameran, ARTJOG secara khusus mengundang Anusapati (Yogyakarta) dan REcycle-EXPerience (Bandung) sebagai seniman komisi untuk menerjemahkan tema Motif: Amalan. Seniman patung Anusapati menciptakan karya seni instalasi dari berbagai material kayu bekas sebagai refleksi atas isu kerusakan lingkungan. Sementara itu, proyek seni REcycle-EXPerience yang digagas oleh pasangan Evan Driyananda dan Attina Nuraini sejak 2006, siap menghadirkan karya berbentuk robot besar.
Untuk menunjukkan bagaimana praktik seni mengambil peran aktif dalam kehidupan seni dan masyarakat, program Special Project menghadirkan tiga karya partisipatif dari Murakabi Movement (Yogyakarta), ruangrupa (Jakarta), dan DEVFTO Printmaking Institute (Bali). Sebagai gerakan kreatif dar eksploratif, Murakabi Movement akan melibatkan audiens untuk mendalami hubungan antara individu dan lingkungannya dalam praktik hidup sehari-hari. Sedangkan organisasi seni ruangrupa merancang suatu metode belajar bersama untuk memahami perubahan ruang kota dengan pendekatan semi yang bertumpu pada kekayaan lokal. Sementara itu, selain memamerkan sederet karya seniman yang diproduksi di studio grafis mereka, DEVFTO Printmaking Institute juga akan melaksanakan serangkaian lokakarya yang berfokus pada eksplorasi teknik cetak grafis bagi para seniman.
Setiap tahunnya, ARTJOG telah berupaya memberikan pelayanan dan fasilitas, serta mendorong keterlibatan aktif kawan-kawan difabel pada penyelenggaraannya. Kali ini, ARTJOG ingin memperluas keterlibatan tersebut dengan membuka kesempatan bagi para pelaku seni difabel untuk mengembangkan praktik dan minatnya pada dunia seni.
Baca juga: Young Artist Award, Dukungan ARTJOG untuk Seniman Muda
Bekerja sama dengan Open Arms, sebuah program inklusif dari Selasar Sunaryo Art Space, LoveARTJOG akan melaksanakan mini residensi seni dan mengajak para peserta berjejaring dan berbagi pengetahuan bersama di sejumlah studio seniman. Selain residensi seni, LoveARTJOG juga merancang keterlibatan langsung dalam pendampingan difabel di ARTJOG 2025 terutama bagi anak muda.
Di samping mengakomodasi beragam penampil dari panggilan terbuka yang diseleksi bersama Bakti Budaya Djarum Foundation, tahun ini performa•ARTJOG secara khusus mengundang Bottlesmoker bersama Rumah Atsiri Indonesia sebagai seniman komisi untuk menerjemahkan tema Motif: Amalan melalui seni pertunjukan. ARTJOG juga bekerja sama dengan sejumlah produser pertunjukan untuk menghadirkan beberapa pertunjukan spesial, seperti bersama Garasi Performance Institute menampilkan karya Ishvara Devati (seniman performans) dan Lembana Artgroecosystem (komunitas seni dan agrikultur), kemudian bersama Liguid Architecture menghadirkan pertunjukan dari Tralala Blip (grup musisi difabel asal New South Wales), dan IFI Yogyakarta dengan penampilan Ko Shin Moon (proyek musik elektronik) dan Rouge.
Panggung performa•ARTJOG akan berlangsung setiap minggunya selama pelaksanaan ARTJOG. Selama penyelenggaraan, ARTJOG 2025 – Motif: Amalan tetap menghadirkan program-program pendukungnya, yaitu Young Artist Award, Exhibition Tour, Meet the Artist, Artcare Indonesia, dan Jogja Art Weeks. Selain itu, produk Merchandise Project tahun ini akan lebih ramai dengan kolaborasinya bersama beberapa seniman, kreator, dan brand ternama seperti Dagadu dan Rumah Atsiri Indonesia. (den)
